
.
.
.
Arif telah diturunkan di Rumahnya yang tak jauh dari Perusahaan Player Game, kini didalam mobil tinggallah Raisa dengan Frans saja.
supir mah tidak termasuk karna Supir itu seperti patung, telinga mereka tidak akan berani mendengar pembicaraan Frans dan Raisa jika memang harus dirahasiakan.
"aku mau tanya". Frans
"iya Tuan". Raisa memutar kepalanya ke Frans.
"apa kau kenal Pria itu? ". tanya Frans
"Pria itu? ". beo Raisa tidak mengerti sambil menautkan kedua alisnya.
"Argantara". jelas Frans lagi karna melihat Raisa terlihat tidak mengerti.
"siapa itu Tuan? ". tanya Raisa dengan wajah bingung.
"kau tidak kenal? ". tanya Frans tak percaya
"saya tidak tau Tuan, saya hanya kenal Tuan Frans, Nyonya Vivi dan Keluarga Tuan saja yang sangat baik berhati malaikat". Jawab Raisa begitu jujur.
Raisa tau Tuan Arga tapi tidak tau nama panjangnya Argantara.
Frans menyunggingkan senyumnya, "Tuan Arga ..! Pengusaha Game nomor 2, dia diundang diacara itu, aku lihat dia tertarik padamu".
"hmmmfft...! ahahahaha...Oupsss...! maaf Tuan.. maaf". cicit Raisa membekap mulutnya
Frans melihat tawa Raisa itu, punya lesung pipi? ya Raisa punya lesung pipi sebelah kanan dan itu sangat cantik saat Raisa tertawa.
"aku tidak bermaksud menertawai Tuan, tapi pertanyaan Tuan lucu sekali. saya tidak mungkin kenal dengan Pria sehebat itu Tuan". Raisa
"sehebat itu? ". Frans memicingkan matanya.
"iya Tuan, saya pernah mendaftar di Perusahaan Tuan Arga itu dan saat itu Perusahaannya nomor 1 sebelum Perusahaan Player Game ada, dia sendiri yang mengatakan pada saya kalau tidak punya pendidikan tinggi tidak usah mau kerja enak, jika saya memang kenal dengan dia seharusnya saya Karyawannya kan? ". Raisa
"Tuan Arga sangat kejam Tuan, dia hanya menilai cover saja tidak seperti Nyonya Vivi yang begitu baik, Nyonya bahkan langsung menerima saya karna saya punya tanggungan, disaat orang diluar sana menanyakan latar belakang pendidikan saya tapi hanya Nyonya Vivi yang bertanya apakah saya punya adik bahkan melihat KK keluarga saya".
"jadi kau mengidolakan kakak iparku? ". ledek Frans
"iya". jawab Raisa tersenyum lebar.
"hei... dia sudah punya suami bahkan sudah punya anak". peringatan Frans
"kalau dipikir-pikir kau tidak normal". ledek Frans dan Raisa hanya tersenyum malu mengusap-ngusap tengkuknya yang tak gatal.
Frans melihat arah lain, "lalu dimana Raisa bertemu dengan Arga? tatapan itu?? aku tau tatapan itu karna aku pernah melihat cara bang Varel menatap kakak ipar saat itu, aku langsung tau Perasaan bang Varel hingga memilih mundur". batin Frans
__ADS_1
bohong jika Frans tidak tertarik pada Shila, tapi karna abangnya menyukai Shila saat itu, tentu saja Frans mundur dan tidak ingin memulai pertarungan Cinta yang hanya merugikannya saja.
"lalu siapa yang dia lihat saat itu? ". tanya Frans kembali menatap Raisa.
"saya rasa dia menatap Pria bule dibelakang saya Tuan". jawab Raisa berbisik dibahu Frans.
Frans terkekeh, "Arga?? aku kenal dia bukan Pria tidak normal, dia sangat normal".
"hah? maksud Tuan? ". tanya Raisa tidak mengerti.
"dia pernah mengatakan saat itu pada Asistennya, aku tepat disampingnya kalau dia bilang bahwa Kakak ipar Shila adalah tipe idealnya". jawab Frans lagi.
"lalu siapa yang dia lihat saat itu ? kan tidak ada Kak Shila". tanya Raisa balik masih belum memahaminya.
pletak...!
"aduuhh.. ". Ringis Raisa
"sudah sampai". kata Frans
Raisa celingukan dan ternyata benar, Frans memegang lengan Raisa yang hendak turun, Raisa menoleh ke Frans.
"ambillah..! ". Frans memberikan 2 paperbag cantik padanya.
"apa ini Tuan? ". tanya Raisa
"oleh-oleh untuk adik-adikmu". kata Frans melirik ke Rumah Raisa
"iya". jawab Frans
Raisa pun turun dari mobil Frans lalu menatap kepergian mobil Frans sampai tak terlihat lagi, Raisa berlari ke arah adik-adiknya yang berteriak heboh bercampur senang melihat kedatangannya.
setibanya di Kamar kecil Raisa,
Rumah mereka memang kecil tapi adik-adik Raisa tidak ada yang mau tidur satu kamar dengan kakaknya, bukan karna benci tapi karna tau kakaknya lelah pulang bekerja dan mereka hanya akan mengganggu waktu istirahat sang kakak tersayang.
Raisa tumbang dikasur kecilnya dan menoleh lalu tersenyum manis menatap potret Frans, ia bangkit dan mengambil foto Bos nya itu yang difoto olehnya diam-diam tanpa sepengetahuan Frans.
"Tuaan? anda bbbaaaik sekali..!". puji Raisa mengecup foto Frans lalu mengelap dan mengelus foto itu.
Raisa mengeluarkan kunci yang ia bawa dari negara romantis yang ia kunjungi sebelumnya, "aku simpan dibelakang Foto Tuan Frans aja deh..! semoga Suami aku nanti baik seperti Tuan Frans, tidak perlu ganteng dan kaya".
.
.
.
.
Raisa bekerja seperti biasa, ia dan Arif begitu kompak mengurus proposal yang bagus dan menarik untuk diperlihatkan pada Tuan Thinez yang akan datang beberapa hari lagi.
__ADS_1
tidak ada yang mengganggu jadwal kerja mereka, bahkan Vikri yang minta ikut dengan Frans pun Frans begitu memohon pada Vikri untuk tidak ikut, sebab mereka banyak pekerjaan, beruntung Vikri mengerti.
tak terasa hari Tuan Thinez datang ke Indonesia pun telah tiba, kini seluruh Karyawan Player Game tengah berbaris rapi menunggu tamu VVIP itu, mereka memberi kesan yang baik pada Thinez hingga Pria itu bangga dengan Orang Indonesia yang memang terkenal akan keramah-tamahan mereka.
"apa kalian sudah periksa semuanya? ". tanya Frans begitu dekat dengan Raisa (berbisik).
"sudah Tuan". jawab Arif dan Raisa serentak namun masih dengan nada berbisik pelan.
"ayo bergerak! ". Frans
mereka berdua segera membubarkan diri saat Thinez sudah dibawa oleh Frans sementara Raisa dan Arif pun menyusun semua perlengkapan yang mereka butuhkan dan akan langsung pergi ke Ruangan Rapat.
"semangat Raisa...! Ariiff?! kalian adalah pejuang kami".
Raisa dan Arif pun terkekeh, mereka diberi ucapan semangat dari Karyawan Player Game hingga semakin semangat saja mereka berdua untuk berhadapan dengan Tuan Thinez.
1 jam... 2 jam... berlalu
Tuan Thinez menyukai kerja sama mereka, walaupun mereka sempat ada masalah saat saling bertukar pendapat tapi Arif meyakinkan bahwa ia bisa memasukkan sedikit budaya Thailand di game baru itu dan mereka semua sepakat.
"hebat sekali kalian..! ". Frans mengacak rambut Raisa dan Arif.
mereka berdua tidak marah malah tertawa senang menatap kepergian Tuan Thinez dengan mobil mewah sewaan Tuan Thinez, semua Karyawan diatas sana (Balkon) langsung bersorak seolah tau Raisa dan Arif berhasil.
"Arif..! kau yang menyanggupi syarat Tuan Thinez dan aku harap kau bisa melakukannya". Frans
"baik Tuan, saya sangat tau game-game Perusahaan Tuan Thinez karna saya juga penggemar nya, jadi sedikit banyaknya saya tau budaya mereka yang ditanamkan ke dalam Game yang mereka ciptakan". Arif
"katakan padaku jika kau butuh bantuanku Arif". Raisa
"siap". jawab Arif dan mereka tertawa.
"ayo masuk..! ". ajak Frans
Frans berkumpul di Aula bersama para pekerjanya.
Frans menjanjikan mereka akan berlibur 3 hari ke Bogor dengan beberapa bus sewaan nya nanti untuk seluruh karyawan Frans yang mencapai 200 Orang, tidak termasuk Frans.
mereka semua hampir pekerja tetap, walaupun sudah menikah Frans tidak memecat mereka jika masih ingin bekerja, tentu mereka bahagia karna gaji sebesar itu diperusahaan Frans sangat sayang di tinggalkan.
bahkan sekedar bermimpi untuk mengundurkan diri saja mereka tidak berani, lagian siapa yang mau mengundurkan diri di Perusahaan Frans, selain gaji besar, bos tampan, bos baik dan pulang kerja batasnya ada, tentu saja mereka bahagia kapan lagi bisa cuci mata menatap Frans yang merupakan idola mereka semua.
"yeee...!!". teriak mereka semua begitu riang dan heboh.
jalan beramai-ramai siapa yang tidak akan senang? itu menambah kesan kekompakan mereka sebagai Karyawan Player Game.
.
.
.
__ADS_1