
.
.
.
jika Vivi dan Ariel sibuk dengan kemesraan mereka disudut lain Varel malah kebakaran api cemburu melihat semua mata laki-laki begitu memuja memandang kekasih hatinya.
"Tuan..? mau kemana? ". tanya Nando menahan lengan Varel
"kau tidak lihat calon istriku ditatap oleh mata jahat mereka hah? aku tidak bisa diam, mata mereka harus aku cabein". kata Varel dengan marah
Nando menggeleng kepalanya pelan, "tenanglah Tuan, kalau anda tidak mau kekasih hati anda dilihat orang kenapa tidak disimpan dikamar saja? ".
"apa maksudmu hah? kau mengejekku? ". tanya Varel dengan mata nyalang
"sebaiknya anda atasi Rekan kerja kita, nanti anda boleh membawa Nona Shila, bukankah Perusahan baru anda butuh banyak perhatian heh? ". bujuk Nando
Varel berusaha menolak,
"Tuan anda harus cepat membuat Perusahaan Kecantikan anda terkenal, jika tidak maka banyak Pria lain yang mendekati Nona Shila dan bilang lebih kaya dari anda, ingat Tuan..! anda bukan penguasa Fox Group lagi? ". kata-kata telak Nando membuat Varel terdiam
Varel beralih tajam menatap Ariel, "gara-gara dia aku harus melewati hal ini, bukankah dia sudah menikah dan istrinya hamil? lalu kenapa harus digelar pesta besar segala". gerutunya panjang lebar
Nando menggeleng-geleng kepala.
"hai..Boys..? ". sapa Izal merangkul kedua bahu teman baiknya itu
"ada apa dengan wajah Tuan muda tampan kita? ". tanya Izal terkekeh
"lihatlah disudut sana! ". bisik Nando
Izal melihatnya dan menganga melihat hal itu, "tenang saja Rel, kau harus bekerja keras mendapatkan uang banyak supaya Shila pantas menjadi milikmu ya kan? ".
Varel mengangguk tapi wajahnya terlihat datar namun tak senang juga menatap sengit mata-mata jahat itu, sementara mereka yang menatap memuja ke Shila hanya merasa dingin dan merinding saja tanpa tau sebab apa yang membuat mereka merasakan hal seperti itu.
dengan sangat terpaksa Varel mendekati rekan-rekan kerjanya terdahulu dan memperkenalkan keistimewaan Perusahaan kecantikan terbarunya.
"wow..! Tuan anda memiliki ide yang kreatif".
"iya... saya tidak akan ragu menjalin kerja sama dengan Anda Tuan Varel".
"terimakasih atas kepercayaan kalian semua, saya akan pastikan kalian tidak akan menyesal telah mempercayaiku". kata Varel dengan datar
"iya Tuan". jawab mereka semua dengan senang.
selain mencari Rekan bisnis untuk memperluas keberhasilan Perusahaan kecantikannya, Varel harus menggantikan Ariel mengurus Perusahaan Fox Group sebab Ariel sedang sibuk di mimbar pengantin.
__ADS_1
.
"Om? ". Shila tiba-tiba menyembulkan kepalanya dibalik tubuh Varel.
Varel langsung merangkul mesra pinggang Shila, "akhirnya kamu mengingatku sayang". bisik Varel mencium sayang pelipis Shila.
Shila tersenyum malu dapat tatapan rekan bisnis Varel, Varel dengan bangga memperkenalkan calon istrinya, mereka akan menikah 2 minggu lagi tentu mengundang rekan-rekan kerjanya saat ini.
Shila mengguncang jas Varel membuat mata Varel melihat ke arah pujannya.
"apa sayang? ". tanya Varel
"temenin aku keluar bentar ambil paketan barang". pinta Shila memelas
"paketan apa disaat-saat seperti ini Maharani? ". tanya Varel heran
"aku membeli...?". Shila berjinjit mendekati telinga Varel, Varel merangkul pinggang Shila hingga mereka terlihat manis dan mesra
Varel terlihat tertawa sedangkan Shila menatap datar padanya, semua menatap Varel dengan takjub, jujur saja mana pernah rekan-rekan Varel melihat Tuan Muda Fox Group tertawa begitu lepasnya, bahkan saat tertawa pun Varel terlihat semakin tampan hingga mata para wanita begitu takjub menatapnya.
Shila memukul-mukul bahu dan dada bidang Varel berkali-kali, "cepatlah Om!".
"iya sayang..! iya". Varel menuruti kemauan kekasihnya dan berpamitan pada rekan-rekannya sebagai rasa menghargai padahal dahulu sebelum bertemu Shila Varel tidak pernah tau menghargai siapapun.
dengan senang hati mereka mengizinkan Varel, mereka sangat senang melihat perubahan Varel, mereka jadi begitu yakin bahwa Shila lah penyebabnya, betapa hebatnya Shila bisa mengalahkan keangkuhan Varel dan berubah drastis seperti sekarang.
.
"Nona Shila? ". kata si kurir paket
"iya saya..! ". jawab Shila tersenyum ramah
kurir paket segera mengeluarkan paketan Shila dan meminta Shila membayarnya, Shila terkejut dirinya tidak bawa tas atau ponsel.
"aehh...? mana dompet dan tas ku ya? ". gumam Shila kaget sendiri
si kurir pun menoleh sekeliling mencari tas yang Shila maksud, Shila menepuk keningnya sendiri.
"pasti ketinggalan di Kamar tadi, om minta duit? ". Shila dengan memelas menengadahkan tangannya ke Varel.
Varel tergelak gemas ia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkannya ke Shila, Shila tersenyum lebar membuka dompet Varel dan memberikan beberapa uang tunai ke si Kurir yang gelagapan.
Varel mengelus kepala Shila, tampaknya Varel begitu senang uang tunainya begitu dibutuhkan oleh Shila, beberapa bulan yang lalu Shila sempat mengomel tak terima Varel orang kaya-raya tidak memiliki uang tunai hanya kartu disetiap isi dompetnya, padahal kartu milik Varel itu bisa membeli apa saja.
sejak saat itulah Varel selalu membawa uang tunai didompetnya, tak peduli setebal apa dompetnya itu.
"ini berlebih nona". kata si Kurir hendak memberikan uang sisanya pada Shila
__ADS_1
"tidak usah pak..! ambil aja ya? anggap saja rezeki anak bapak". kata Shila tampak sibuk memutar-mutar paketannya.
"tapi Nona? ". kata pak Kurir melihat ke Varel ragu-ragu, Shila menatap ke arah Pak Kurir yang takut memandang Varel.
"haha..? abaikan saja dia Pak, dia bukan Tuan Muda Fox Group tapi calon suami saya yang suatu saat nanti dompetnya milik saya". kata Shila membuat hati Varel berbunga-bunga.
"baik Nona". jawab Pak Kurir tanpa segan menerima uang itu.
Shila memutar tubuhnya masih melihat-lihat paketannya tanpa tau bahwa ada seseorang yang tengah bahagia dengan ucapan Shila tadi.
"haha.. Kak Vivi pasti senang melihat Paketanku... hahaha..! aku tidak sabar melihat wajah kesalnya besok". tawa senang Shila melihat kesamping namun
Krik.. krik..
"Om? ". Shila menoleh kiri kanan tidak ada Varel, ia terpaksa memutar kepalanya ke belakang.
"Om ngapain? ". tanya Shila dengan mengerjab polos
Varel berlari dan menangkup pipi Shila mencium bibir Shila begitu gemas hingga mata Shila membulat besar.
"om..? lipstikku". protes Shila
Varel terkekeh, Shila dengan kesal mengelap bibir Varel sudah ia pastikan lipstiknya berkurang sebab Shila memakai produk tidak mahal tentu kualitasnya biasa saja.
"kenapa sih om? kenapa om senang sekali? ". tanya Shila penasaran
Varel tersenyum lebar, "tidak ada sayang! aku memang lagi senang aja". jawab Varel merangkul pinggang Shila dengan mesra.
Shila menghela nafas panjang memilih mengabaikan kesenangan Varel, ia fokus dengan paketan nya yang akan menggemparkan amarah Vivi nantinya.
Shila tersenyum usil, "aku yakin Kak Vivi pasti mengomel panjang besok padaku, hahaha..! ". batin Shila
.
.
setibanya di ruang ganti, "apa ini shila? ". tanya Vivi penasaran dengan kado yang diberikan Shila sangatlah besar.
Shila tersenyum manis, "produk mahal dan bagus buat hadiah pernikahan kakak". jawab Shila
Jessy masuk ke Kamar pengantin, ia membawa beberapa buah yang sudah dipotong-potong untuk dimakan oleh Vivi yang tengah berbadan 3 (anak kembar).
.
.
.
__ADS_1