
.
.
.
pagi-pagi
"loh.. dimana Abang Varel?, Kak Shila dan sikembar Mom? Pi? ". tanya Frans
"leja bobok lumah kek". jawab Vikram
"benar Mom? ". tanya Frans ke Jessy.
"iya.. biasalah Kakek Suryo sangat merindukan Cucu-cucu kesayangannya". jawab Jessy
"kalian tidak diajak? ". tanya Frans ke Vikram dan Vikri.
"diajak, tapi Kakak berusaha menolaknya". jawab Vivi
"kenapa ditolak? ". tanya Frans
"ckk.. berisik". ketus Ariel seperti biasa
Frans mendengus mendengar perkataan Ariel, "sama aja sama bang Varel".
sementara yang lainnya tertawa lebar, "uncle tampan? ". panggil Vikri
"iya Vikri". sahut Frans menoleh ke Vikri.
"vikli ikut uncle ketemu tatak lucu ya? ". pinta Vikri menyeringai lebar.
Frans terbatuk-batuk, "hah? tapi kakak lucumu itu bekerja Vikri".
"Vikli uga bica bekelja". jawab Vikri dengan bangga
"kakak ipaarr? ". rengek Frans
"kenapa merengek? tinggal bawa aja apa salahnya? lagian anakku itu cerdas, dia tau saat mengganggu orang itu selalu diwaktu yang tepat". Ariel
"tapi anak Abang sama kakak ipar ini terlalu menggemaskan, dia nanti bisa menangis kalau digendong sana-sini oleh karyawanku bang". gerutu Frans
"dirumah aja sama mama kenapa sayang? ". tanya Vivi membujuk.
Vikri terlihat sedih menundukkan kepalanya sementara Frans yang ditatap tajam oleh Jessy, Ramon dan Ariel pun menghela nafas panjang.
"baiklah..! Vikri boleh ikut Uncle". seru Frans dengan pasrah.
Vikri menyeringai lebar, Vivi yang ingin ikut pun dicegah oleh Jessy sebab mereka harus buat kue membantu Vika yang banyak pesanannya.
saat ini Vika bekerja di toko Kue, toko itu milik Vika sendiri berkat hadiah ulangtahun Vika dari Ariel, betapa bahagianya Vivi impian adiknya tercapai padahal Vivi sudah berniat mau membuatkan toko besar untuk adiknya tak disangka suaminya yang lebih cepat.
"Vikram ikut Papa? ". tanya Ariel dan putranya itu mengangguk sambil meminum susu nya.
Ariel mengelus kepala Vikram, sedangkan Vikri terlihat bahagia bisa ikut dengan Frans.
__ADS_1
Ramon menggeleng kepalanya pelan, hari ini dia juga akan pergi ke Rumah Makan milik Suryono, ia ingin bersama besannya itu sekalian ingin makan siang disana.
.
"jangan nakal-nakal ya sayang? jangan mau diajak oleh mereka keluar Perusahaan ya?". Vivi berpidato didepan Vikri sedangkan Frans terkikik lucu saja melihat Vikri begitu serius mendengarkan pidato sang mama.
"hari dingin sayang..! disana pasti pakai AC jangan dilepas jaketnya ya? nanti kalau makan biar diantar oleh Tante pekerja Uty Vika ya? ". bujuk Vivi
"iya Mam". jawab Vikri terlihat pasrah saja dipasangkan jaket tebal oleh Vivi.
"boleh kami pergi kakak ipar? ". tanya Frans terkekeh
"iya.. dilihat-lihat anak kakak Frans". jawab Vivi
"iya, dia akan aman dengan Uncle nya yang tampan ini". Frans memeluk keponakan kecilnya itu.
Vivi melambaikan tangannya saat Vikri duduk disamping kemudi, Vivi tersenyum melihat Frans yang begitu cekatan memasang seatbelt di tubuh anaknya.
"dadah.. mamaa? ". lambai Vikri
"iya sayang.. dadah, jangan nakal dan jangan sampai terluka sayang". teriak Vivi
"siap mam". jawab Vikri
Vivi menarik nafas panjang, sedangkan Vikram sudah pergi dengan Papanya kekantor, Vivi benar-benar heran dengan kelakuan kedua putranya yang tidak bisa tinggal di Rumah, pasti suka bepergian seperti orang dewasa saja.
.
sementara Frans tersenyum lebar melihat Vikri tampak diam dibangkunya sambil celingukan melihat jalan.
"iya..! lucu... ". jawab Vikri tersenyum lebar.
"kamu ini berbeda dengan abangmu". kekeh Frans mengelus kepala Vikri.
Vikri menyeringai lebar saja, ia tau abangnya Vikram berlagak dewasa seperti sifat Papanya berbeda dengan Vikri yang lebih bawel seperti mamanya.
"apa kamu tidak rindu Nisa Vikri? ". goda Frans
"tentu saja, tapi kek lebih lindu dek nisa". jawab Vikri
"kalian akan menjadi kesatria tak bersayap untuk Nisa suatu saat nanti". decak Frans yang merasa iri pada keponakannya punya adik perempuan sementara dirinya tidak.
Vikri hanya tersenyum bangga saja, sesampainya di Perusahaan Player Game.
Frans menggandeng tangan kecil Vikri, Kaki Vikri yang kecil memakai celana panjang menutupi sepatunya dan jaket tebal dengan topi unik diatas kepalanya terlihat menggemaskan dan lucu.
Frans membawa Vikri ke Ruangan Raisa, "Raisa? "
"iya Tuan? ". Raisa yang mendengar suara Frans berbalik
"tatakk? ". Vikri berlari dengan kaki kecilnya ke arah Raisa yang segera berjongkok.
"heii...? Vikrii..? kamu disini? ". Raisa mencubit gemas pipi Vikri.
"jangan nakal Vikri, kalau kakaknya bekerja Vikri ngapain? ". tanya Frans
__ADS_1
"Vikli main sendili". jawab Vikri sambil tunjuk tangan seperti anak TK.
Frans mendekat lalu mengelus kepala Vikri, "titip dia ya Raisa, dia tumben ingin ikut aku hanya karna ingin bertemu denganmu".
"baik Tuan, dengan senang hati". jawab Raisa tersenyum lebar menggendong Vikri.
saat Frans pergi, Semua teman-teman Raisa mendekat dan memegang tangan Vikri mengajak berkenalan tentu saja bocah pintar itu memperkenalkan namanya walau cadel tapi mereka semakin bersemangat ada anak kecil sepintar Vikri.
mereka semua bertanya pada Raisa tapi Raisa malah meminta mereka kembali bekerja, Raisa tersenyum lebar ke Vikri dan mendudukkannya di meja kerjanya.
"apa mamamu bisa membiarkanmu kesini Vikri? ". tanya Raisa penasaran.
"bisa tapi vikli halus pake jaket supaya mama tenang, vikli tidak boleh telluka". jawab Vikri
"kalau begitu Vikri mau main apa? kakak harus bekerja". tanya Raisa
"main laptop vikli juga bisa". jawab Vikri tersenyum lebar.
alhasil semua karyawan Frans bekerja seperti biasa, sesekali mereka melewati Vikri mengelus kepala Vikri yang memakai topi, mencubit pelan pipi Vikri, dan ada juga yang memotret Vikri yang terlihat begitu menggemaskan dengan tampang seriusnya itu.
"iissh.. jangan ganggu vikli..!!". teriak Vikri dengan kesal hingga yang lainnya terkikik lucu segera melarikan diri.
Raisa tertawa kecil melihat teman-temannya dibentak oleh Vikri, siapa yang tidak akan gemas melihat Vikri yang begitu patuh tidak mengganggu orang lain bekerja padahal diusia anak seumuran Vikri malah suka mengganggu, lah ini kebalik malah orang dewasa yang mengganggu Vikri hingga bocah 4 tahun itu terlihat begitu kesal dengan tampangnya terlalu imut itu malah membuat orang gemas, bukannya takut.
siang harinya
Vikri diantar makanan oleh seorang gadis, dia adalah pekerja Vika di Toko Kue membawakan makanan sehat untuk Vikri.
"waah...Vikri juga bawa bekal? ". tanya Raisa tersenyum lebar melihat kotak bekal makan siang Vikri.
"tatak juga? ". tanya Vikri
"iya.., ayo kita makan! ". ajak Raisa
di ruangan kerja itu hanya ada Raisa dengan Vikri saja sementara yang lainnya makan dikantin, Raisa harus hemat uang supaya tidak terlalu boros makan di kantin Perusahaan.
"ini apa Vikri? ". tanya Raisa
"ini omlet, sosis, daging ayam". jawab Vikri sambil membuka kotak lainnya berisi buah-buahan segar yang telah dipotong-potong kecil oleh mamanya.
"waah.. pantas saja Vikri pintar ya? makanannya sehat semua". senyum manis Raisa
"tatak makan apa? ". tanya Vikri
"kakak cuma bawa nasi dengan sayur kangkung dicabein pake udang kecil". jawab Raisa
mereka malah berbagi makanan, malah kebanyakan Vikri mengambil makanan Raisa hingga Raisa tertawa melihat itu, Raisa membukakan minuman yang dibawa oleh pekerja Vika tadi yang ternyata isinya susu.
makanan yang biasa dimakan Vikri memang enak tapi namanya anak kecil suka mencoba hal baru yaitu makanan Raisa yang juga enak, walau sederhana Vikri terlihat tidak jijik memakan makanan miliknya padahal Vikri anak orang kaya-raya.
.
.
.
__ADS_1