
.
.
"TIDAK BOLEH!! ". jawab Jessy tegas
"Mom...! semenjak Mas Ariel pergi, Vivi tidak bisa tidur mom, bahkan Vivi dilarang menghubunginya?". rengek Vivi
"Mom.. sebenarnya Mommy tau sesuatu kan? ". tanya Shila
"mommy tidak tau apapun yang pasti satu hal yang harus mommy tegaskan, mereka menjalankan misi berbahaya dan kalian tidak boleh kesana". jawab Jessy tegas
"Mommy...? Mommy mau calon cucu mommy ileran? ". tanya Vivi
"tidak juga". jawab Jessy terlihat berpikir
"Mom". rengek Vivi
"kalau begitu biar Shila aja kesana Mom, Kak Vivi tidak usah". Shila menyahut hingga mata Vivi menatap galak ke Shila yang nyengir kuda.
"Vivi tidak bisa tidur Mom, dari pada disini tidak bisa apa-apa lebih baik berada di China walaupun sembunyi-sembunyi setidaknya Vivi bisa berada di Negara yang sama dengan Mas Ariel, Vivi pasti bisa tidur". jelas Vivi
"kami punya passport palsu Mom! ". seru Shila
alhasil segala bujuk rayu Vivi berhasil hingga Shila menganga dengan hal itu, walaupun banyak rentetan peraturan yang tidak boleh mereka langgar terutama Vivi yang sedang hamil.
.
.
di Negara China
Vivi dan Shila berpakaian Pria memakai kumis dan janggut sungguh identitas yang sangat brilian, mereka menginap di hotel terdekat Rumah Ariel di Negara ini.
"kenapa kak? ". tanya Shila
"sepertinya kakak mengantuk, Mas Ariel pasti ada didekat sini". racau Vivi lalu tumbang di kasurnya.
Shila dengan cepat membantu Vivi lalu menyelimutinya, Shila membenarkan kacamata culun dan kumisnya.
"huuh..! hari ini sungguh melelahkan". gumam Shila berjalan pelan ke arah balkon
masalah identitas mereka yang menyamar tentu bisa di atur, sudah jauh-jauh hari Shila menyiapkan identitas lelaki ini di susul Vivi hanya mengeluarkan uang saja semua aman tanpa ada hambatan, lagian mereka membuat identitas seperti ini karna tau suami dan kekasih mereka adalah orang kaya raya yang dikelilingi musuh.
.
malam hari di Rumah Ariel.
"kalian menemukannya? ". tanya Ariel
"benar Tuan, pelakunya tidak salah lagi musuh lama anda". jawab Aham
"dasar bedeb*h itu Liang Roy, dia tidak berubah sejak dulu selalu memburu Tuan Ariel". geram Rion
"apa Liang Roy musuh lamamu yang mengurungmu waktu kecil? ". tanya Varel
__ADS_1
"hmm". jawab Ariel tidak mengelak
"apa Perusahaan baik-baik saja kau tinggal Rel? ". tanya Ariel
"tenang saja Riel, aku tidak sebodoh itu meninggalkan semuanya tanpa diamankan". jawab Varel
"Iya Tuan, bahkan kami sudah begadang berhari-hari untuk memastikan semuanya aman". sahut Nando
"apa Vivi baik-baik saja? ". tanya Ariel serius
"hmm.. aku sudah memastikan dia aman". jawab Varel
Rion, Nando dan Aham hanya menonton saja, walaupun Ariel dan Varel sering berdebat mulut tapi kalau masalah serius ternyata mereka akur juga.
gubrakkkk!!
"Tuaaannnn !!". teriak bawahan Ariel berlari tergesa-gesa sampai hampir tersungkur beberapa kali mendekati Ariel
"katakan! ". titah Ariel yang siap menerima peperangan jika Pria itu bersikeras juga.
"me... mereka pergi menyerang Rumah anda di Indonesia, katanya dia akan mendapatkan wanita anda". lapor pria itu
semua orang syok mendengarnya, Ariel memukul kursi nya hingga tangannya memerah karna kursinya terbuat dari Kayu
Varel dengan cepat menghubungi Keluarganya yang ternyata sudah bersembunyi dan betapa terkejutnya Varel saat dapat kabar Shila dan Vivi menyusul mereka ke China.
"A.. apaaa? ". Varel seakan membeku
"Kenapa Mommy mengizinkan mereka?". tanya Varel seolah sedang menahan marah
"mereka menyamar, lagian kalian tenang saja Vivi dan Shila bukan perempuan bodoh yang tidak tau situasi, mereka bahkan tau kalian sedang menghadapi perang besar". sahut Jessy
"mommy baik-baik saja, kami sedang melarikan diri udah ya nak". Jessy
"Jaga diri kalian baik-baik". ucap Varel serius
.
Varel berbalik, "aaahhh! ". Varel terkejut melihat Ariel begitu dekat dengannya seperti hampir menciumnya dan sikumis (Rion), si botak (Aham) dan Nando.
"dimana Vivi? ". tanya Ariel mengabaikan keterkejutan Varel.
Varel berdecak sambil melangkah mundur, "mereka pergi kesini! ".
"Apaaa? ". teriak Ariel hingga ketiga Pria yang lainnya sontak saja menutup telinga.
"berisik..! ". ketus Varel
Frans tiba-tiba datang lalu membuka maskernya, "apa perasaanku saja ya? kenapa aku merasa Mommy dan Papi dalam bahaya bang? ". gerutu Frans sambil mengelus-ngelus dada
"mereka dalam masa pelarian". jawab Varel mengepalkan tangannya
"bagaimana bisa? dasar pengecut...! kita datang ke sini dia malah lari". geram Frans dengan mata mulai memerah dan tangan terkepal kuat
"diamlah kalian". bentak Ariel
__ADS_1
hening seketika
"Aham ". panggil Ariel
"saya Tuan". jawab Aham
"cari tau siapa saja tamu yang ada disetiap hotel di negara ini, aku tidak mau tau kau harus dapatkan berita baik". titah Ariel
"baik Tuan". jawab Aham segera pergi
Ariel mengacak rambutnya frustasi, "Beb... tidak bisakah kau berdiam diri di Negara itu?? ".
"kalau sampai Vivi tetap disana aku yakin pasti sudah ada masalah dengan kandungannya, tadi nada bicara mommy terlihat tidak menyesal sama sekali telah membiarkan Vivi dan Maharani pergi". jelas Varel dengan serius
sebenarnya Varel sangat khawatir dengan keadaan Shila tapi ia harus bisa terlihat tenang supaya tidak diketahui musuh.
.
"kenapa kak? ". tanya Shila
"uuhh... rasanya tidurku puas sekali Shil". Vivi meregangkan tubuhnya begitu senang
Shila terkekeh melihat janggut Vivi yang miring,
"kenapa? apa ada yang lucu? ". tanya Vivi
"janggutmu miring Kak". jawab Shila
"tinggal dibenerin aja kok susah". kesal Vivi membenarkan janggutnya.
"aku nggak nyangka kakak juga punya Identitas lain sebagai Pria". kekeh Shila
"melihat bekas luka di tubuh Mas Ariel membuat kakak menyadari sesuatu, lagian dengan membawa uang yang diberikan Mas Ariel kakak bisa membuat apa saja". jawab Vivi menyombongkan diri akan kepintarannya walau tidak kuliah sampai tamat.
Shila tertawa, percakapan mereka terhenti saat ada seseorang yang mengetuk kamar mereka, segera mereka membenarkan situasi lalu membuka pintu.
"maaf Tuan, kami sedang mencari 2 perempuan dari Indonesia, bolehkah kami lihat kartu identitas kalian? ". tanya pelayan itu dalam bahasa inggris
Shila dan Vivi saling pandang lalu mengangguk seolah sedang menyetujui sesuatu,
"maaf atas ketidaknyaman ini Tuan, kami permisi! ". kata Pelayan dengan sopan pada Shila dan Vivi yang memiliki identitas laki-laki.
Shila dan Vivi mengangguk lalu menutup pintu Kamar, mereka merosot pelan di balik pintu.
"kartu ini menyelamatkan kita". gumam Vivi memeluk erat kartu tanda pengenal itu.
"iya, apa mereka musuh Pak Ariel ya? ". tebak Shila
"entahlah Shil". jawab Vivi membenarkan janggutnya.
saat mencari makan pun mereka menyamar menjadi lelaki, sungguh mereka harus bersikap santai saat banyak para lelaki bertubuh kekar berkeliling di lobi.
mana mereka tau orang-orang itu adalah suruhan Ariel untuk mencari Shila dan Vivi, mereka kan diam-diam pergi ke China tanpa minta izin dari Ariel maupun Varel.
.
__ADS_1
.
.