
.
.
bonus.. bonus...
Happy Reading..!!
Ariel berdecak mendapat kabar dari Aham bahwa Desiana telah ditangkap dan dikurung oleh mereka.
"siapa Mas? ". tanya Vivi dengan tatapan menyelidik.
"kamu ingat Desi Beb? ". tanya Ariel mendekat lalu melingkarkan tangannya di leher Vivi
Vivi diam tampak berpikir, "oh.. model cantik itu ya?". tebak Vivi
"ckkk..! dia cantik?". cibir Ariel
"memang kenapa mas? ". tanya Vivi
"dia baru saja keluar dari penjara". jawab Ariel yang tak ingin menyembunyikan apapun dari Vivi
"lalu? kenapa Mas bisa tau? Mas mengikutinya? ". sambar Vivi
"bukan Beb..! aku sengaja memberinya hukuman kecil seperti kedoknya terbongkar dan namanya tercemar, dia juga mantan narapidana dan ditambah lagi tidak akan ada yang mau menerimanya, setelah itu baru aku habisi dia". jawab Ariel dengan sombong
Vivi berubah datar, "emang mudah ya menghabisi nyawa orang". tanyanya datar
"kamu tidak tau Beb? dia menjebakku dengan Lilin perangs*ng, aku tidak terima itu". jelas Ariel
Vivi berubah serius, "benarkah? kalau begitu biar aku yang habisi". Vivi hendak pergi namun dicekal oleh Ariel
"mau kemana? ". tanya Ariel
"mau menghabisinya". jawab Vivi dengan tampang polosnya.
Ariel terkekeh, "aku tidak mau tangan polos ini menghabisi orang lagi, nanti anak kita jadi kejam Beb".
Vivi tampak berpikir, "bisa aja loh, Papanya aja Kejam dan tak romantis sedikitpun hmmm.. kalau di pikir mereka pasti mirip denganmu mas..! tapi kenapa setiap melihatmu aku selalu ingin marah entah apa yang salah dengan anak ini, kenapa dia marah dengan Papanya sendiri? ". cerocos Vivi tanpa rem hingga Ariel tertawa mengelus-ngelus Pipi Vivi.
"imut sekali bumilku yang satu ini". ucap Ariel
"issh..!" Vivi menepis tangan Ariel.
"aku serius Mas". kesal Vivi
"iya.. Beb.. Iya.. mungkin saja anak di dalam perutmu sekarang laki-laki dan memusuhiku karna tidak mau berbagi kasih sayang". jawab Ariel asal
Vivi malah mempercayainya, bibirnya tersenyum manis lalu mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit seperti kata Jessy kemungkinan besar Vivi mengandung anak kembar.
"benarkah? ". tanya Vivi berbinar
"hmm.. anak tidak tau diri, aku yang membuatnya bisa-bisanya memusuhiku seharusnya aku yang cemburu padanya". geleng-geleng kepala Ariel pura-pura kesal.
Vivi semakin tersenyum bahagia, membayangkan ada malaikat kecilnya sepasang laki-laki mungil seperti Ariel benar-benar membuatnya bahagia apalagi anak itu adalah benih Pria yang ia cintai sepenuh hati.
__ADS_1
Ariel tersenyum, sepertinya ia semakin berbakat bisa membuat Vivi senang padahal sebelumnya Ariel tidak pandai berbicara seperti ini.
.
di tempat lain
Varel mengerutkan keningnya melihat kedatangan rombongan Pria bertato menghadangnya
"hormat kami Tuan Muda! ". ucap mereka semua serentak.
Varel menaikkan sebelah alisnya, "ada apa ini? ".
"Tuan apa yang harus kami lakukan pada Desiana Tuan? bukankah anda yang meminta kami mengawasinya? sepertinya Wanita itu sangat marah hari bahagianya anda hancurkan". kata Ketua dari segerombolan pria bertato itu yang tak lain adalah Jack.
Varel terkejut sesaat namun ia mudah mengembalikan raut wajahnya.
"kau? ". Varel menunjuk Jack dengan raut wajah datar namun memiringkan kepalanya.
semua orang-orang bertato itu pun memiringkan kepala seolah mengikuti bos besar mereka.
"saya Jack Tuan, apa anda lupa pada saya? memang rambut saya berbeda tapi ketampanan saya masih sama seperti Tuan". Jack
"oh.. aku mengerti..! kalian menganggapku dia?". Varel menyadari sesuatu
"dia? ". beo mereka saling pandang seketika
"perkenalkan namaku Varel, aku kembaran anak itu". kata Varel tapi tidak mengulurkan tangannya.
DEG!!
"hah? ". kaget mereka semua tak menyangka akan salah orang.
"Tuan? kenapa tidak berkelahi? ". tanya Nando menyembulkan kepalanya dijendela mobil.
"mereka menghadangku mengira aku Ariel". jawab Varel berdecak.
"hah?? kalian tidak mengenali Tuan kalian ya? ". ejek Nando yang keluar dari mobil hingga ditatap kesal oleh orang-orang kepercayaan Ariel.
"Ck... seolah kau mengenali Tuanmu saja". sambar Varel membuat salah satu dari mereka menertawai Nando
Nando berdehem lalu berkata, "ini Tuan Varel kalian bisa datangi Mansion keluarga Fox Group, Tuan muda sedang mengasah lidahnya supaya bisa menyenangkan Nona Vivi".
Jack saling pandang dengan rekan-rekannya.
"kalian tahan dan siksa saja wanita itu, biarkan Ariel sendiri yang memberi perintah pada kalian nanti". kata Varel
"baik Tuan". jawab mereka serentak
Varel dan Nando berbalik hendak kembali masuk mobil.
"Tuan..? ". panggil Jack
"apa? ". tanya Varel dengan datar
"apa kami boleh datang ke Mansion itu? ". tanya Jack hati-hati
__ADS_1
"tentu saja..! kalian pasti akan disambut baik oleh Mommyku". jawab Varel lalu masuk ke mobil meninggalkan mereka semua.
"ayo kita pergi..! ". ajak Jack.
"tidak ku sangka kita akan salah orang".
"mana aku tau kalau tadi bukan Tuan Ariel, mereka sama-sama memiliki aura kepemimpinan yang kuat".
"sudah..! bisa saja kita keliru namanya aja manusia". jawab yang lainnya
.
Varel mengerutkan keningnya melihat seorang Pria begitu berani menemuinya hingga menunggu sejak tadi malam di luar gedung Perusahaan, kini Varel berhadapan dengan Pria paruh baya yang Varel tak kenal siapa dia.
"bagaimana kabarmu Ariel?". tanya Pria itu dengan nada sarkas.
Varel menaikkan sebelah alisnya, "ckk.. kenapa aku disebut dia lagi?". gumam Varel
"tidak usah berpura-pura menjadi Tuan Varel karna aku tau kau adalah Ariel". ketus Pria paruh baya itu yang bernama Jefry Nikon
Varel diam saja sambil mendengarkan apa mau Pria ini sebenarnya.
"mau apa kau? ". tanya Varel dengan dingin
"tuh kan..! akhirnya topengmu terlepas juga". kekeh Jefry dengan lucu padahal tidak ada yang lucu.
"jangan buat aku menanyakan hal yang sama". ucap Varel dengan dingin dan semakin dingin hingga Jefry berubah serius.
"aku akan balas kau! ". seringai Jefry lalu berdiri sebelumnya ia memukul meja dan meninggalkan Varel begitu saja.
Varel menatap tajam saja pelaku tua yang tak merasa berdosa itu, "dasar orang gila". umpat Varel.
.
"ada apa Tuan? ". tanya Nando cemas
"apa aku sangat mirip dengannya? kenapa tidak ada yang bisa membedakan kami selain Mommy, Maharani dan Vivi?". tanya Varel berdecak
"apa Pria tadi juga mengira anda adalah Tuan Ariel Tuan? ". tanya Nando
"hmm". jawab Varel santai
"lalu apa yang dikatakan Pria itu Tuan? ". tanya Nando semakin cemas.
"entahlah..! katanya akan membalasku, aku saja tidak mengenalnya". jawab Varel mengangkat bahunya acuh
"hati-hati Tuan, anda harus beritau Tuan Ariel". peringatan Nando
"kau takut dengannya? ". tanya Varel meledek
"aku merasa Pria Tua itu penuh dengan dendam, matanya berkabut dendam, apa Tuan Ariel punya salah ya padanya? ". gumam Nando
Varel tampak berpikir karna apa yang Nando katakan ada benarnya juga.
.
__ADS_1
.
.