
.
.
.
Shila dan Varel pergi ke Bandara diantar oleh Keluarganya, Vivi tidak ingin kemana-mana karna ia merasa mual berada di tempat pengap.
"ayo sayang..! ". ajak Varel merangkul bahu Shila
Shila tersenyum manis melambai kepada Keluarganya, beberapa orang yang ada dibandara malah mengeluarkan ponsel dan merekam hal itu.
kabar Shila memutuskan keluar dari dunia Entertainment begitu menggemparkan, Heri selaku direktur Fox Entertainment tak bisa melakukan apa-apa, bahkan menuntut kontrak pun tidak berani apalagi alasannya karna Varel, Varel melamar Shila dan meminta Shila untuk berhenti dari pekerjaannya siapa yang bisa membantah Varel.
"hati-hati sayang..? ". lambai Jessy
Shila mengangguk-ngangguk senang lalu berbalik merangkul lengan Varel, Varel mengecup pelipis Shila seperti pasangan yang sedang berbulan madu saja.
"apa benar itu mom? ". tanya Ramon
"benar apa? ". tanya Suryo
"anakku akan memberi hadiah yang istimewa untuk Shila Suryo". kata Jessy
"huuh..! aku pikir mereka akan menikah ternyata malah jalan-jalan berdua, semoga saja mereka selalu di lindungi". kata Suryo
"kamu juga pengen cucu ya? ". goda Ramon
"tentu saja aku pengen cucu, aku hanya punya 1 anak perempuan yang sangat aku cintai, dari mana aku dapat cucu kalau bukan darinya? tapi aku tidak mau cucu diluar nikah". gerutu Suryo
"ckk.. kau menyindirku". kesal Ramon
Suryo terkekeh, "anakmu terlalu hebat, sekali melakukannya langsung jadi 2".
"sudah.. sudah.. Kenapa kalian jadi berdebat tentang bayi Vivi? lagian Ariel kan bertanggung jawab jika Shila hamil udah pasti Varel akan tanggung jawab". kata Jessy
"Varel sangat menjaga Shila, dia tidak akan melakukan hal itu sampai Shila benar-benar menjadi istrinya". kata Ramon
"karakter ketiga putramu berbeda". kata Suryo melenggang pergi
"heh...! pergi kemana Yo? ". teriak Ramon
"pikir aja sendiri". jawab Suryo berteriak
Ramon menganga, Jessy tertawa cekikikan.
"warna nya mulai keliatan". gerutu Ramon
"habis pertanyaan kamu tu aneh Pi ! tanya kemana udah jelaslah dia pulang". jawab Jessy
"kamu membelanya sayang?". tanya Ramon memicing
.
__ADS_1
sementara Varel membawa Shila Ruangan kelas VVIP yang termahal.
"kenapa ambil kelas ini Om? ". tanya Shila yang tengah diselimuti oleh Varel
"mau mu sayang? ". tanya Varel
"kelas ekonomi juga bisakan? ". jawab Shila
"tidak bisa sayang, kakiku terlalu panjang". jawab Varel mencubit pipi Shila dengan gemas
Shila menjatuhkan rahangnya melihat kaki Varel memanglah panjang, tapi orang kaya memang suka-suka saja walau alasannya terdengar spele.
"tidurlah sayang..! perjalanan kita masih panjang". kata Varel mengelus lembut kepala Shila
Shila mengangguk lalu menarik lengan Varel dan tidur di pelukannya, Varel terkekeh.
"jika pria lain pasti akan memakanmu sayang". bisik Varel
Shila diam saja padahal jantungnya berdegup kencang, ia memilih memejamkan matanya di pelukan nyaman kekasihnya.
beberapa orang kaya yang mengambil kursi Kelas VVIP yang sama malah menatap gemas Shila dan Varel tertidur begitu mesra, mereka adalah investor dari luar negri menebak Shila dan Varel adalah pasangan suami istri yang sedang berbulan madu.
.
di tempat lain
"kenapa Beb? jika tidak mau ke mana-mana kamu mau kemana hmm? ". tanya Ariel begitu sabar menghadapi istrinya yang banyak maunya itu.
Vivi merangkul lengan Ariel dan membawa suaminya ke ranjang, Vivi duduk terlebih dahulu menepuk-nepuk tempat disebelahnya.
"cepat Mas..! " rengek Vivi
"iya.. iya". jawab Ariel terpaksa menurut.
Vivi tersenyum lebar langsung mengambil telapak tangan besar suaminya dan meletakkannya di perutnya, hal itu membuat Ariel gemas tapi tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata hanya bibirnya saja yang tersenyum.
Vivi memang istrinya tapi setiap kali Ariel memberi uang Vivi tidak pernah boros, uang bulan sebelumnya pasti masih banyak yang tersisa hingga Ariel heran apa Vivi tidak memiliki kebutuhan.
"uang bulanan kemarin masih ada Beb? ". tanya Ariel yang mengelus lembut perut Vivi
"masih Mas..! kenapa? ". tanya Vivi
"apa kamu tidak membeli apapun beb? kenapa uangnya masih banyak tersisa hmm? ". tanya Ariel
"blackcard yang Mas berikan sudah lebih dari cukup mas buat aku". jawab Vivi
"terus uang bulanannya? ". tanya Ariel
"Mas..? apa Mas tidak suka aku yang hemat? ". tanya Vivi
"tidak Beb, aku suka hanya saja kenapa tidak membeli apapun hmm? ". tanya Ariel mengelus kepala Vivi
"aku malas keluar Mas, kalau Shooping aku suka sama Shila atau sama adikku lebihnya aku tidak mau mas". jawab Vivi
__ADS_1
"bagaimana dengan pesan Online saja? ". tanya Ariel
"hah? iya juga". Vivi tersenyum lebar
Ariel menginstalkan aplikasi online yang berguna untuk Vivi yang tidak suka keluar Mansion, sejak mengandung Vivi hanya suka tidur dan tidur dielus perutnya, tidak merepotkan hanya perutnya harus dielus dan dimanja.
Ariel dan Vivi memilih-milih belanjaan yang dimasukkan ke keranjang,
"saat mereka menikah nanti kamu harus mau mengadakan pesta pernikahan Beb". kata Ariel serius
Vivi terdiam menatap Ariel, "Mas tidak malu? ".
"malu? kenapa aku harus malu? ". tanya Ariel dengan serius
"aku tidak cantik, aku tidak tinggi juga tubuhku tidak terlalu bagus jadi untuk dibawa kemana-mana kita bagai langit dan bumi". jawab Vivi dengan sendu
Ariel menghela nafas panjang, "siapa yang bilang kita tidak cocok? aku akan memberinya pelajaran".
"mas..? ". rengek Vivi
"bukankah kamu lihat acara yang dibintangi oleh adikmu itu? ". tanya Ariel.
Vivi mengangguk karna ia juga menonton Shila yang menjelaskan pada publik dirinya tidak begitu buruk.
"mereka mengatakan apa? ". tanya Ariel
"ternyata Tuan Muda Ariel menyukai tipe perempuan imut". jawab Vivi menunduk
"kamu? ". tanya Ariel
"aku...? tidak imut aku cerewet mas". jawab Vivi membuat Ariel tertawa
"kenapa ketawa? ". tanya Vivi kesal
"justru karna kamu cerewet dan bawel maka nya terlihat imut". jawab Ariel mencubit kedua pipi Vivi
"imut dari mana coba? ". tanya Vivi tak terima dikatakan imut
sejak bersama Ariel kulit Vivi semakin bersih dan bersinar, wajahnya juga semakin mulus dengan segala perawatan yang diberikan oleh Jessy hingga kini Vivi semakin manis dan imut tidak bosan untuk dipandang.
"ya sudah..! tidurlah.. ". Ariel hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum tampan dengan sikap Vivi yang selalu merendah tapi malah membuat Ariel semakin gemas dan menyukainya.
jika di luar sana banyak perempuan yang justru kebalikan dari sifat Vivi, Ariel menyukai Vivi apa adanya bukan karna hal lainnya.
dan banyak teman-teman Vivi dulu dimasa sekampus tidak percaya Vivi yang tidak lulus kuliah bisa mendapatkan Tuan Muda Fox Group, bisa dikatakan Vivi putus kuliah ditengah jalan itu pun hanya 2 semester saat Adiknya hendak masuk kuliah, sedangkan mereka yang dahulunya merudung Vivi tidak sesukses Vivi sekarang.
saat Vivi semasa SMA banyak bekerja paruh waktu demi biaya adiknya makan dan uang jajan adiknya sekolah, semua penderitaan Vivi seolah membuahkan hasil, ia mendapatkan hadiah terindah dari semua keikhlasannya saat merawat adik satu-satunya itu, hadiah itu adalah Ariel.
.
.
.
__ADS_1