Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
kelelahan


__ADS_3

.


.


"apa yang kau lakukan?? ". bentak Varel


"aku memeriksanya Tuan.. ". jawab Gibran dengan sabar sambil tersenyum


"kenapa kau pegang-pegang tangannya? ". tanya Varel dengan marah


"itu karna aku memeriksa denyut nadinya, apa anda tidak keberatan saya memegang lehernya?". tanya Gibran dengan begitu sabarnya.


"apa kau bilang? ". tanya Varel dengan tatapan nyalang


"Tuan saya mohon anda keluar saja! ". usir Vivi dengan berani


Varel beralih menatap tajam Vivi, "kau berani melawanku? ".


"anda menghalangi pekerjaan seorang dokter Tuan Muda, jika anda cemburuan seperti ini lebih baik tidak usah panggil dokter, Nona saya dalam bahaya jika mengikuti kecemburuan anda, lagian seorang dokter itu sudah bersumpah dengan pekerjaannya kenapa anda malah seperti ini? jika anda mau memecat saya setelah ini silahkan saja, saya lebih memilih dipecat oleh anda dari pada saya di marahi oleh Tuan Suryo karna Nona sebagai putri kesayangannya memiliki bekas luka". jawab Vivi tanpa rem hingga Gibran bertepuk tangan dan Nando terbahak mendengarnya.


Vivi sudah 2 jam menahan geram karna Varel tak mengizinkan Gibran menggunakan alat memeriksa detak jatung Shila, tidak boleh memegang kulit Shila, tidak boleh pegang leher Shila hal itu membuatnya geram, lalu untuk apa Varel menghubungi dokter pribadi jika dilarang untuk memeriksa Shila hanya karna cemburu.


Varel menatap tajam ke arah Gibran dan Nando.


"apa yang Manager Nona boneka hidup katakan memang benar, kami memang sudah sumpah lagian aku mengaguminya karna ciptaan Tuhan bukan karna apa-apa". balas Gibran mendukung Vivi


"lebih baik kita keluar Tuan..! saat ini Nona muda belum sepenuhnya milik anda masih milik Tuan Suryo papanya". balas Nando menarik lengan Varel keluar kamar Shila.


"periksa lagi dokter..! jangan sampai kaki Nona saya memiliki bekas luka, bahaya jika ada! Saya bisa dipecat oleh Kak Agus". pinta Vivi ke Dr. Gibran


Gibran bergidik geli mendengar perkataan Vivi, "ini cewek lebih takut katanya siapa tadi? ha iya kak Agus itu dibanding Tuan Muda, apa dia tidak tau jika Tuan Muda marah tadi? bisa saja memecat Kak Agusnya itu". batin Gibran


Gibran tersenyum tipis, "dia pintar juga menyebut papanya Nona Shila". batin Gibran kini lebih leluasa merawat Shila


Varel bolak-balik di kamar Shila sambil memaki dan mengumpat geram seolah Shila sedang melakukan operasi besar saja sementara Nando hanya mampu menggeleng dengan kelakuan Varel yang begitu berlebihan.


"Tuan.. Nona tadi bukan pingsan tapi ketiduran karna kelelahan bukan sakit hingga butuh operasi besar, ingat Tuan, anda jangan bersikap seperti ini karna bisa saja Nona pergi dari anda, Nona belum menjadi milik anda jadi kendalikan rasa cemburu anda itu yang melebihi Tuan Besar". kata Nando membuat Varel berdecak pelan


"aku benar-benar khawatir.. bagaimana jika dokter cunguk itu memegang tubuh Shila? ". marah Varel


"ada Vivi didalam Tuan, Mereka tidak berdua". jawab Nando


"lagian saya sangat mengenal Gibran Tuan Muda, dia memang playboy tapi belum pernah saya dengar dia berpacaran dengan pasiennya". jelas Nando

__ADS_1


"apa hubungannya? ". tanya Varel dengan ketus


"Gibran sudah terikat janji saat menginjakkan kaki didunia kedokteran Tuan, mereka yang menjadi dokter sudah bersumpah, Gibran yang tidak pernah pacaran dengan pasiennya artinya dia benar-benar menjaga sumpahnya itu". jawab Nando


walaupun apa yang Nando katakan benar adanya namun hatinya masih gelisah.


"ayo kita keluar Nan..! atasi masalah bedeb*h gila itu, aku tidak akan menyerahkannya ke polisi". ujar Varel menebak hatinya yang masih ada rasa takut.


"lalu Nona Muda bagaimana Tuan? hari sudah jam 3 pagi.. tidak bisakah anda istirahat selama 2 jam? lagian Pria itu tidak akan lari bukan? Nona tadi mengatakan kalau ia sudah mengurungnya dengan aman". Nando


"aku tidak bisa berpikir jernih Nan..! cepat selesaikan Bedeb*h gila itu". Varel meninggalkan Nando


Nando yang gelagapan memilih antara Varel atau Shila pun akhirnya memilih Varel, Varel memang tipikal pria dingin yang suka menyimpan masalah tapi apapun yang menyangkut Shila pasti akan membuatnya kalap hingga tidak akan tenang jika belum di tuntaskan.


.


ke esokan paginya.


Shila mengerjabkan matanya lalu perlahan menggeliatkan tubuhnya,


"Nona Boneka sudah bangun? ". tanya Gibran


Shila berteriak seketika melihat Gibran lalu dengan panik ia melihat sekeliling.


Shila menghela nafas lega, "dimana om Raffan?". tanya Shila


"om Raffan? siapa ya Nona? ". tanya Gibran dengan raut wajah terlihat jelas begitu bingung.


"aah.. Tuan Muda Fox Group bukankah namanya Tuan Varel Kanaka Mafilookavika Raffan? ". jelas Shila


"hmmmfftt... ahaha... ". tawa Gibran menggelegar


Shila mengerjabkan matanya, "salah ya? hmm.. Mafi.. leoka..veka aha.. kalau di pelan kan bisa tapi kalau dicepatin malah keseleo..hehe.. harap maklum dokter". cengir Shila


Gibran akhirnya mengerti mengapa Varel jatuh cinta pada gadis bak boneka hidup itu, ternyata dewi PI tahun ini adalah gadis super unik.


"Tuan Muda sedang pergi mengurus sisanya". jawab Gibran sambil berusaha menutupi tawanya lalu memeriksa keadaan Shila tanpa rasa canggung karna ia tau Shila adalah gadis yang baik.


"mengurus sisanya maksud dokter apa? ". tanya Shila


"mohon Nona Boneka tanyakan pada Tuan Mafilookavika itu". kata Gibran dengan tundukan sopannya menahan senyum


Shila mengerutkan keningnya, "dokter kenapa memanggilku boneka? ". tanya Shila dengan kesal

__ADS_1


"karna Nona sangat cantik seperti Boneka hidup". jawab Gibran dengan jujur


Shila tersenyum aneh ke arah Gibran karna ia merasa Gibran adalah dokter aneh yang paling aneh dari pada dokter Leon abangnya.


.


.


"om?? ". Shila berjalan sedikit pincang ke arah Varel yang datang dalam keadaan kacau begitu juga Nando


"ah.. aku tidak apa-apa, kamu bagaimana Maharaniku? apa sudah baikan? kakimu bagaimana?? ". cecar Varel memegang pipi Shila


Shila mengangguk lalu melihat ke arah Nando yang tak berbeda jauh dari Varel,


"saya lelah Tuan Muda..! saya cuti sehari". kata Nando lalu berjalan letih ke arah kamar tamu ujung.


Vivi melihat Nando yang terlihat seperti zombie melewatinya, ia mengedarkan pandangannya hingga terhenti pada Varel yang tengah berbicara dengan Shila.


"mampus aku..! ". Vivi memukul pelan keningnya lalu berbalik mengikuti Nando dan berbelok ke arah kamarnya.


Nando melihat kebelakang karna ia merasa ada yang mengikuti tapi tidak ada siapapun, "sepertinya aku mulai berhalusinasi.?". decak Nando kembali melanjutkan langkah kakinya.


.


"Om dari mana? kenapa kayak begini? ". tanya Shila penasaran.


"aku membereskan si bedeb*h untukmu Maharaniku, aku tidak mau hal yang sama terulang lagi". kata Varel perlahan mendekat ke Shila


Shila bisa melihat lingkar mata hitam dibawah mata Varel seolah mengerti Pria yang sangat berkuasa ini mengorbankan waktu serta jam tidurnya hanya demi keamanan Shila.


"om Varel mencintaiku? dia bahkan merelakan jam tidurnya demiku, dia juga memikirkan papa, Jika Papa tau pasti akan melakukan hal yang sama dengan Om tapi papa baru aja sehat". batin Shila


"bisa bantu aku ke kamar Maharani? mataku berat sekali". pinta Varel


Shila menyahut lalu memapah Varel ke kamar Varel dengan pelan karna kaki Shila juga masih sakit, Varel benar-benar langsung tertidur saat jatuh ke ranjangnya, selama 1 harian ini ia begitu kelelahan juga menahan kantuk untuk tidak tertidur.


Shila membantu melepaskan sepatu Varel lalu menyelimuti Varel sebisanya, "om istirahat saja, sekarang giliran aku yang menjaga om". gumam Shila tersenyum kecil lalu keluar dari kamar Varel.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2