Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
percaya


__ADS_3

.


.


.


Ariel menghela nafas mendengarnya,


"kenapa menghela nafas nak? apa segitu tidak percaya nya kamu sayang? ". kekeh Jessy


Ariel menggeleng, "cepatlah mom..! Ariel mau sarapan terus berangkat ke Perusahaan sudah cukup lama Ariel meninggalkannya".


Jessy tertawa tapi ia menyiapkan sarapan untuk putranya setelah bercengkrama sebentar Ariel pun pergi diantar oleh Jessy seperti istri saja.


"dimana tempat tinggal Vivi ya? ". gumam Jessy mengulum senyum


"aah.. biarkan saja..! nanti Anakku itu yang akan membawanya sendiri". gumamnya tersenyum lembut lalu kembali masuk ke dalam Mansionnya.


di Perusahaan


"akhirnya anda datang juga Tuan!! ". Nando menghela nafas lega melihat kedatangan Ariel


"ada apa? kenapa penampilanmu seperti gembel? ". tanya Ariel dengan sebelah alis terangkat


Nando tidak heran lagi perkataan pedas Ariel.


sebenarnya Ariel cukup heran saat masuk ke Perusahaannya semua Karyawannya tampak sibuk, itu sebabnya ia datang ke Ruangan Kerja Nando, padahal ia tidak pernah kesitu lebih sering menghubungi Nando datang ke Ruangannya.


"Desiana berulah Tuan, entah apa yang dia lakukan hingga ada ide kita bocor ke Perusahaan lain". jelas Nando mendekati Ariel


"ckkk...! jal*ng...! suasana hatiku sedang baik dan dia malah merusaknya". decak Ariel


Nando diam sambil menatap ke arah komputernya.


"hubungkan ke Komputerku! ". titah Ariel


"baik Tuan...!". jawab Nando semangat


Nando sangat percaya kemampuan Ariel yang tak berbeda jauh dengan Varel, disaat dirinya buntu Nando sangat yakin Ariel maupun Varel pasti memiliki jalan kecil yang tidak diketahuinya, jika tidak? mana mungkin Ramon berani menyerahkan Perusahaannya pada Putranya (Varel) itu, sedangkan Ariel tak berbeda jauh dengan Varel.


Nando menghubungkan data-data pentingnya ke Komputer Ariel, segera ia mengambil berkas-berkas yang di perlukan dan Ipednya.


.


di Ruangan Ariel membaca sekilas semua saham dan data-data yang telah bocor, ia masih tenang membacanya seolah sudah menemukan jalan keluarnya.


Nando meminta Sekretaris perempuannya meletakkan berkas-berkasnya di meja Ariel lalu segera pamit dengan sopan.


Nando diam menatap Ariel seolah sedang menunggu perintah, "Ya Tuhan...!! perusahaan sedang kacau tapi Tuan Muda masih tenang saja, ku harap semuanya akan baik-baik saja". batin Nando

__ADS_1


"kita Rapat...! " titah Ariel


"baik Tuan". jawab Nando


Nando segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sekretarisnya meminta orang-orang berkepentingan ikut untuk menghadiri Ruangan rapat.


Nando percaya dengan kemampuan Ariel, Ariel berjalan dengan tenang diikuti Nando yang sedang sibuk menata rambutnya.


Pintu Ruangan Rapat di buka.


"Hormat kami Tuan Muda..! ". sapa seluruh dewan direksi yang berkumpul dan beberapa manager di setiap Ruangan Kantor yang ada di Perusahaan Fox Group.


Ariel mengangkat tangannya lalu berjalan dengan langkah lebarnya namun masih bisa mereka rasakan aura dingin yang terasa ingin mencekik mereka, benar-benar seperti Varel jika begitu siapa yang akan percaya pria yang sedang bersama mereka kini bukanlah Varel melainkan Ariel.


Ariel duduk di kursi kebesarannya, Nando berdiri disamping Ariel.


"kita Mulai..! " Titah Ariel


semua orang segera duduk dan bersiap mendengarkan perintah Ariel, benar saja mereka semua hampir pusing menjalankan perintah Ariel yang setiap orangnya kebagian masalah untuk segera diatasi.


.


Kabar bocornya Data Perusahaan Fox Group tentu menyebar luas di segala media, mereka sempat meragukan Perusahaan Fox Group akan menemukan jalan keluarnya.


di salah satu gedung tepatnya Apartemen milik Desiana, ia meneguk Wine dan tersenyum manis melihat berita yang muncul di TV nya.


"aku harap Tuan harus bersikap baik padaku mulai besok, aku sudah bilang kan kalau aku cukup berpengaruh untukmu, berhentilah bersikap sombong dan Arogan padaku". senyum manisnya seakan sudah merasa menang saat ini.


.


"Ommm...? ". Shila berlari ke Varel memperlihatkan berita di Layar ponselnya ternyata di TV sudah ada beritanya.


Shila dengan cepat berlari dan duduk disamping Varel yang tengah tersenyum mengelus kepala Shila yang serius menonton berita.


"bagaimana Om? apa pak Ariel bisa mengatasinya?". tanya Shila penasaran


"biarkan saja sayang..!". jawab Varel


"apaa..? biarkan? Perusahaan Fox Group dalam bahaya om". kesal Shila


Varel tersenyum, "Perusahaan Fox Group akan baik-baik saja kita lihat 1 minggu kedepan ya? jika Ariel tidak bisa mengatasinya aku akan turun tangan".


"maksud Om? om akan muncul didepan publik? ". tanya Shila


"kamu tidak mau aku muncul sayang? ". tanya Varel


"tidak... aku malah senang kalau om muncul jadi aku tidak akan dicap sebagai tukang selingkuh". kata Shila sambil tersenyum tulus merangkul lengan Varel


"cukup aku yang tau dan yang lainnya tidak usah kamu pikirkan Maharani". ujar Varel

__ADS_1


Varel mengecup lama kening Shila lalu Shila dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Varel sambil menonton berita begitu juga Varel.


sementara beberapa hari kemudian pihak lain yang merasa diuntungkan segera mengambil kesempatan untuk bangkit bahkan mulai disorot oleh media karna Perusahaan Fox Group sedang dilanda masalah hingga tidak bisa menerima tawaran wartawan, namun ada juga beberapa wartawan berkemah di Perusahaan Fox Group.


Vivi menonton berita sambil mengerutkan keningnya, "apa Tuan Ariel baik-baik saja ya? ". gumam Vivi


Vivi membelalak lalu memukul kepalanya seketika, "berhentilah berpikir yang tidak-tidak, jangan menaruh hati pada Tuan yang pandainya menyuruh itu Vivi..! kau sama sekali tidak berhak". gerutu Vivi


siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Pria Sempurna seperti Ariel maupun Varel tapi Vivi sadar diri bahwa dirinya itu hanya Rakyat jelata yang tidak akan pantas bersama dengan Ariel bahkan bermimpi pun tidak berani.


Vivi terlonjak kaget saat ponselnya bergetar lalu ia mengerutkan keningnya melihat nomor asing, Vivi tidak pernah mengangkat panggilan nomor asing tapi mengapa jarinya berkhianat?


"haloo? ". sapa Vivi


"....?". tak ada suara


"apa salah sambung ya? ". gumam Vivi pelan dan hendak mematikan panggilannya


"ini Aku.. "


Vivi melebarkan matanya mendengar suara berat itu, beberapa hari menghabiskan waktu dengan Ariel di Bandung membuat Vivi tau sosok Ariel walau hanya mendengar suaranya saja.


"Pak.. ehh..? Tuan?? ". Vivi gelagapan karna gugup tak biasanya ia mendapat panggilan dari Pria berkuasa seperti Ariel.


"bisakah kau datang? aku tidak bisa keluar karna banyak wartawan diluar, bawakan aku makanan apapun yang bisa dimasak selama beberapa hari kedepan, dan datang ke Mansion ambilkan beberapa baju ku pada Mommyku, aku sudah mengatakannya". Ariel


"baik Tuan". jawab Vivi


"terimakasih". ucap Ariel membuat Vivi kaget melihat layar ponselnya dan panggilan sudah terputus.


"bolehkah aku menyimpan Nomor Tuan Ariel? ". gumam Vivi


Vivi berlari setelah tersadar akan perintah Ariel tanpa menukar sendal ia berlari ke luar Apartemennya.


Vivi naik taksi ke Mansion Ariel dan ternyata Jessy telah menunggunya


"ini nak..! ". kata Jessy menyerahkan koper yang berisi pakaian Ariel


"te.. terimakasih Tante". ucap Vivi yang memang memanggil Jessy Tante sebelum Ariel datang ke Mansion keluarga Varel.


"ini kartu nya nak...! perlengkapan makanan yang harus kamu belikan harus sehat-sehat ya?".


Vivi menerima Kartu limited Jessy sambil mengangguk, dan Jessy memelas pada Vivi untuk menjaga putranya dengan baik padahal itu hanya akal-akalannya saja karna Jessy tau Ariel tertarik dengan gadis manis ini.


Jessy tentu sudah tau Vivi tau mana Varel dan mana Ariel sebab Vivi begitu dekat dengan Shila.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2