
.
.
Shila melihat kiri-kanan depan belakang, "om ngapain kesini? ". tanya Shila
"karna aku merindukanmu". jawab Varel
Shila tertawa kecil, "ya sudah terserah om..! tapi aku tidak mau terkena skandal dengan pria aneh". ketus Shila memberikan lap tangan ke dada bidang Varel
Varel tersenyum mengambil itu lalu mengelap pilar ruangan syutingnya Shila sambil senyam-senyum melihat Shila, Shila hanya mampu tersenyum sambil menggeleng-geleng kepalanya pelan.
Varel tersadar saat ada seseorang yang menegurnya pilar tidak usah dibersihkan melainkan kaca saja.
"eeh..? iya..". Varel berjalan ke arah kaca lalu mengelapnya sambil sesekali melihat Shila
"dasar pria cuma lihat gadis cantik saja, lalu bagaimana kami yang berasal dari kalangan tidak cantik? ". gerutunya melenggang pergi meninggalkan Varel yang menyamar.
kemanapun Shila syuting, Varel akan terus mengikuti Shila tapi masih dalam jarak aman.
"hei...! ".
"iya". sahut Varel melihat ke arah belakang
"Nona Shila memang sangat cantik tapi pria sepertimu tidak cocok bersaing dengan Pria yang sedang menggilainya". bisik lelaki yang juga mengidolakan Shila
"siapa? ". tanya Varel pura-pura tidak tau
"Tuan Muda Fox Group? kau tau kan? ". tanya Pria itu
"kita sebagai seorang pekerja bawahan yang tidak dianggap hanya bisa menatapnya dari jauh". sambung Pria itu lagi
"iya.. aku hanya menatapnya saja tidak bisakah aku menatapnya saja?". tanya Varel dengan tampang sok rendahannya
"iya.. iya.. Nona Shila sangat baik karna nya aku tidak jadi dipecat oleh Sutradara padahal aku melakukan kesalahan". bisik Pria itu
Varel melihat kartu nama Pria itu adalah Ferizal (Izal) yang artinya didalam kurungan itu adalah nama panggilannya.
"memang kau melakukan apa? ". tanya Varel berbisik
"aku tidak sengaja menjatuhkan lampu ke mobil Nona tapi Nona tidak marah padahal aku dimarah habis-habisan oleh Sutradara bahkan hampir memecat ku karna harga lampu itu sangat mahal, tapi Nona menggantinya tanpa pamrih dan sejak saat itu aku ngefans berat padanya". bisik Izal
Varel terdiam lalu melukiskan senyum tipisnya melirik Shila yang sedang berbicara dengan Vivi perihal pekerjaan, Vivi sibuk membenahi gaun Shila yang akan digunakan untuk syuting.
"kamu baik sekali sayang! ". batin Varel
"pokoknya kau tidak boleh perlihatkan pada orang lain kalau kau mengidolakannya, Tuan Muda Fox Group sangat menggilainya, jika dia tau kau menatap seperti itu padanya tamatlah pekerjaanmu". bisik Izal mengingatkan
Varel hanya tertawa didalam hati, ia tidak menyangka saat dirinya menyamar seperti ini begitu asik dan sangat berbeda.
Varel jadi tau perbedaan orang yang tulus, baik, dan penjilat hanya sekali merasakan cara mereka memandang dan berbicara pada nya.
"aku harap kau akan bekerja keras lalu bisa menjadi sutradara kecil di Fox Entertainment". kata Varel
"bicara apa kau? apa kau tidak tau mendaftar disana sangat mustahil, semua lulusan luar negri sementara aku hanya lulusan sekolah abal-abal di kampung, mana ada yang tau aku berbakat". gerutu Izal
__ADS_1
"coba saja". kata Varel menepuk pundak Izal lalu berlalu membawa kain lapnya.
"kenapa dia? apa dia dekat dengan direktur Fox Entertainment? apa aku coba saja? ". gumam Izal
.
.
Varel melihat Shila dari jauh seperti pria kurang kerjaan, padahal Varel adalah pria tersibuk di negara ini bahkan pekerjaannya lebih sibuk dari pada pekerjaan seorang bapak presiden.
"Shila..? ". panggil Vivi
"hmm? ". sahut Shila melihat ke arah Vivi
"pria aneh itu kenapa menatapmu begitu jelas? apa jangan-jangan dia fans gilamu? ". bisik Vivi
Shila melihat arah lirikan Vivi
"jangan dilihat..! nanti ketahuan kamu bisa diculik". Vivi menutupi mata Shila
Shila tertawa kecil, "itu om Raffan". bisik Shila
Vivi membelalak sempurna, "apa-apaan kamu Shila? apa kamu pikir bisa membodohiku? mana mungkin Tuan Muda Fox Group mau menyamar jadi orang jelek seperti itu? dia kan bukan tahanan kan? ".
"tapi itulah kenyataannya". jawab Shila menahan tawa melihat wajah bodoh Vivi
Vivi menganga di tempat menatap pria culun itu memang terlihat sedikit mirip dengan Tuan Muda Varel, ia benar-benar tercengang demi apa Varel mau merubah penampilannya yang super sempurna itu menjadi pria culun yang tidak menarik sama sekali.
.
.
"Om? ". panggil Shila yang baru saja masuk
Varel melepas kaca matanya lalu memeluk Shila dengan erat, Shila hanya bisa pasrah di peluk oleh Varel.
"kenapa om menungguku? apa om tidak ada kerjaan? ". tanya Shila penasaran
"kita baru aja pacaran tapi besok harus berpisah lagi karna aku harus pergi ke London". jawab Varel dengan lemas.
Shila menautkan kedua alisnya, "om ngapain ke London?"
"pekerjaan sayang". jawab Varel masih memeluk Shila
"ya udah..! om pergi aja". jawab Shila sambil tersenyum
"ya...kamu tidak akan merindukanku sayang? kenapa aku bertanya? seharusnya aku tau kamu tidak mencintaiku sebesar rasa cintaku padamu". balas Varel dengan lemah
Shila tersenyum, "kan bisa VC om".
"aah... iya..! karna aku terlalu memikirkan pekerjaanku disana aku lupa teknologi sudah semakin canggih". kata Varel menepuk dahinya yang benar-benar melupakan hal itu.
"ya udah sana pergi..? kenapa masih disini? ". kekeh Shila mengelus-ngelus punggung Varel
Vivi masuk ke mobil Shila dan terkejut melihat siculun tadi memeluk Shila.
__ADS_1
"eeh.. Kak? om lepaskan dulu ada kak Vivi". gerutu Shila
Varel mengabaikannya saja.
"maaf ya Kak..? ini om kejam jadi kayak anak-anak sekarang". ucap Shila ke Vivi
"iya Shila". Vivi menatap arah lain sambil menahan senyum
.
.
"udah om sana pergi?". usir Shila berusaha melepaskan pelukan Varel yang tak kunjung lepas
"ikut aku ya sayang? ". bujuk Varel
"ihh..! nggak mau om". tolak Shila melepaskan pelukannya dari Varel
"sana om! aku akan tunggu kabar om kalau udah sampai ya? ". kata Shila mengelus rahang Varel
Varel tersenyum lembut lalu mengecup gemas telapak tangan Shila, Varel menggenggam tangan Shila.
"ayo ikut sayang! ". ajak Varel
"om nanti dilihat banyak orang". elak Shila
"biarkan saja". Varel membawa Shila keluar dari mobilnya.
Vivi mengikuti Nando karna mereka satu mobil namun dianggap nyamuk oleh Varel,
Shila menutupi wajahnya mungilnya dengan sebelah tangannya sementara Varel menggenggam tangan Shila sambil membawa kopernya sendiri.
"memang berapa lama tuan di London Tuan? ". tanya Vivi
"hanya 1 minggu". jawab Nando
"lalu kenapa Tuan..? ". kata Vivi tergantung
Nando tersenyum miring, "bagi Tuan Muda 1 hari seperti 1 tahun baginya tidak melihat kekasih hatinya".
Vivi mengangguk-ngangguk, sementara banyak orang melihat Shila dan Varel bergandengan tangan.
"udah om? ". cicit Shila merasa malu saat Varel berdebat dengan satpam yang tidak bisa membiarkan Shila masuk
"kau mau aku pecat hah? ". marah Varel
Shila memukul bahu Varel lalu pria kejam yang pemarah tadi melembut seketika saat Shila memukulnya.
"apa sayang? ". tanya Varel
"minta maaf". titah Shila
Varel menghela nafas panjang, "maaf". ucap Varel melihat arah lain.
.
__ADS_1
.