
.
.
Varel memakan Jeruk sambil menatap Shila yang sedang menunduk mengingat semua yang pernah Varel lakukan untuknya.
"kok bisaa?? om Raffan kok bisa menyukaiku? sejak kapan? ya Tuhan...! kenapa aku bodoh sekali tidak menyadarinya? tapi aku tidak mencintainya kenapa aku yang gugup? ini pertama kalinya aku dapat ungkapan cinta dari seseorang dengan serius". batin Shila.
"Shila..? ". panggil seorang dokter membuat Shila menoleh cepat ke arah itu.
"abang..? abang Leon? ". pekik Shila
Varel menatap tak suka akan kedekatan Shila dengan Leon.
"abang disini? bukannya di rumah sakit desa? ".tanya Shila melepaskan pelukannya dari Leon.
Leon tersenyum mengelus kepala Shila, "aku mendengar Papamu sudah sembuh dan menjual sawahnya, apa itu benar? "
Shila menghela nafas panjang, "iya bang, Papa malah ingin buka Rumah Makan khas masakan padang dikota ini, Shila buatkan tempatnya tapi Papa tidak mau terima modal yang Shila berikan".
"kamu mau merusak harga diri papamu? hutangnya semakin banyak padamu". ejek Leon
Shila mengerucutkan bibirnya, "tapi abang belum jawab aku.. kenapa berada di rumah sakit ini? ".
"aku ingin berada didekatmu jadi aku menggunakan koneksiku untuk kembali ke Jakarta". jawab Leon
Shila tertawa lebar,
"ekheemm..! uhuk.. uhukkk". batuk Varel
Shila menoleh ke Varel, "aah.. om kenalkan ini Dokter Leon".
"aku tau..! kau memanggilku om tapi dia kau panggil abang". decak Varel.
"hai.. sepupu..? bagaimana keadaanmu? ". dokter Leon
"tidak usah sok dekat, kita hanya sepupu jauh". ketus Varel
"ahahaha..! kalian sepupu jauh ya? sejauh apa?? ". tanya Shila dengan polos karna ia tidak punya keluarga lain selain papanya saja.
Leon mencubit pipi Shila dengan gemas sedangkan Varel bangkit dari brankarnya dan merebut Shila dari Leon.
"dia milikku! ". desis Varel
Shila tertawa hambar, "ahahahaha.. aku lebih baik keluar ya? permisi!! ". Shila keluar dari ruangan yang terasa sangat dingin itu.
Varel menatap tajam Leon yang menatap kepergian Shila, Varel menutupi hal itu hingga Leon malah melihat tubuh Varel.
"ck.. aku baru tau seorang Tuan Muda Varel Kanaka Mafileokaveka Raffan juga bisa cemburu". kata dokter Leon dengan decakan pelannya.
"aku tau kau dekat dengannya tapi jangan pernah berharap untuk kau bisa mendapatkannya". kata Varel dengan dingin
__ADS_1
"jika dia mencintaiku kau tidak akan bisa melawanku kan? dia tidak gila harta untuk mau menikahimu hanya karna kau berkuasa". kata Leon dengan angkuh
Varel mengepalkan tangannya, "apa maumu? "
"kita bersaing sehat". tantang Leon dengan serius
Varel semakin mengeluarkan aura dinginnya, "kau tidak takut menantang seorang Tuan Muda Varel Kanaka? ".
"kenapa aku harus takut? selagi kau manusia aku tidak akan takut". jawab Leon dengan enteng.
"jadilah seorang pria sejati..! jika Shila memilihku kau tidak boleh mengganggu kami". sambung Leon dengan serius.
Varel tersenyum miring, "kau yang pertama kali bertemu dengannya bukan berarti kau bisa begitu sombong seolah kau bisa memiliki hatinya, baiklah jika itu maumu..! aku terima tantanganmu namun jika gadis itu mencintaiku... "
"aku akan mundur layaknya pria sejati dan aku akan mengikhlaskannya jika dia memang mencintaimu". sambung Leon
.
.
Shila di dalam toilet duduk diatas kloset.
"apa itu tadi?? kenapa mereka saling menatap seperti itu? apa mereka binatang buas yang saling bermusuhan? ". oceh Shila
mana Shila tau tatapan ganas kedua pria tampan itu karna memperebutkan Shila, Shila tau tatapan kedua pria tampan itu seperti binatang buas yang sedang memperebutkan wilayah kekuasaan.
Shila menggeleng-geleng kepalanya teringat ungkapan cinta Varel padanya di Rumah Sakit ini, memang bukan hal yang romantis tapi mengapa Shila merasa terganggu bahkan merasa gugup padahal Shila tidak mencintai Varel.
.
.
"iya nak papa disini". jawab Suryo melebarkan tangannya dan Shila otomatis masuk dalam pelukan sang Ayah.
Jessy tersenyum memeluk Ramon disampingnya, ia merasa iri dengan Suryo hingga dirinya begitu tidak sabar ingin Shila menjadi menantunya.
"bagaimana keadaan om mu nak? ". tanya Suryo membuat Jessy dan Ramon terkekeh pelan.
Shila melihat Jessy dan Ramon, "papa ngomong apa sih? om Raffan bukan om Shila". elak Shila
"tapi hanya kamu yang memanggilnya om kan? disaat semua orang memanggilnya Tuan Muda kamu memanggil pria terhormat itu dengan sebutan om". goda Suryo
"haha.. Shila mau ke toilet Pa". izin Shila melarikan diri karna ia sudah terlalu malu didepan Jessy dan Ramon.
Ramon dan Jessy terbahak-bahak sedangkan Suryo terkekeh pelan melihat putrinya melarikan diri dengan alasan ke toilet padahal tadi Shila sudah ke toilet.
.
.
"om udah boleh pulang Tan? ". tanya Shila ke Jessy
__ADS_1
"iya sayang..! ayo masuk nak! ". ajak Jessy
"haha.. maaf Tante..! Shila harus menemui Kak Vivi, di Rumah Sakit sebelah, Shila belum menjenguknya". tolak Shila dengan senyuman
"kenapa sayang? kamu bisa pergi nanti kan? apa Varel melakukan sesuatu padamu sayang?". tanya Jessy dengan serius.
"bukan Tante..! Shila memang terburu-buru Tan.. Muaaahhh dadah Tante.. ". Shila dengan cepat mengecup pipi Jessy dan melarikan diri dari sana
"hei.. Sayang.. jangan berlari..! ". teriak Jessy
"ada apa sayang? ". tanya Ramon membuat Jessy beralih ke Ramon
"Shila kenapa ya pi? kenapa dia seolah menghindari Varel? ". tanya Jessy
"kita percaya pada putra kita ya? dia tidak akan membuat kesalahan dengan melukai menantu kesayanganmu, kita tanyakan baik-baik padanya". Ramon
Jessy mengangguk, mereka berdua masuk ke Ruangan inap Varel lalu terlihat Varel tampak mencari kekasih hati pujaannya.
"mana Maharani Varel mom? Pi? ". tanya Varel tampak kecarian
Jessy dan Ramon saling pandang tidak mengerti.
"mommy ada pertanyaan untukmu Rel". ujar Jessy mendekati Varel dan duduk disamping Varel
"apa mom? ". tanya Varel dengan mata mengedar mencari Shila.
"kenapa Shila menghindarimu sayang? apa kamu melakukan sesuatu yang salah padanya? ". tanya Jessy hingga Varel menoleh ke Jessy
"jadi Maharani Varel sekarang pergi mom? ". tebak Varel
"iya.. dia bilang ingin melihat managernya, apa yang kau perbuat hingga Maharanimu memilih menghindarimu? ". Ramon
Varel berdecak sambil memijit pelipisnya, "apa ungkapan Varel terlalu cepat? ". gumam Varel
Jessy dan Ramon saling pandang, "jadi itu alasannya? ". tanya Jessy dan Ramon serentak.
"mungkin saja". jawab Varel
"kamu sudah benar sayang..! Shila harus melewati fase ini supaya dia tau semua yang kamu lakukan untuknya bukan tanpa alasan". Jessy mendukung Varel mengelus rahang putra sulungnya.
"hmmm..! dia gadis polos yang tidak peka, tapi papi yakin keputusanmu sudah benar nak..! kamu harus lebih cepat bertindak karna Papi melihat dr. Leon tadi menyapa papa Shila, bisa saja Leon juga mencintai Shila, dari gerak-geriknya Papi bisa menebaknya". Ramon
"dia malah menantang Varel pi". decak Varel
"apaaa?? ". Shila dan Ramon menyahut serentak.
.
.
.
__ADS_1