
.
.
.
akhirnya cerita Ariel penuh dengan air mata keluarganya, semua Keluarganya meminta maaf padanya atas segala penderitaan yang menimpa Ariel sejak kecil.
"sejak kapan mommy tau? ". tanya Ariel
"luka di tubuhmu nak". jawab Jessy
Ariel tertawa hambar ,"aku bodoh sekali tidak menyadarinya".
"kamu bukan bodoh nak, kamu hanya lupa dengan segalanya". Ramon
"iya, aku melupakan semuanya? aku tidak menyangka kalian telah mengetahuinya, kalian pasti sudah menganggapku bodoh selama ini kan? ". Ariel
"tidak". jawab Jessy, Ramon dan Frans dalam nada yang berbeda namun jawaban sama.
"hukum mommy saja nak..! mommy yang bersalah selama ini". Jessy memegang tangan Ariel
Ariel bisa melihat mata Jessy yang penuh dengan tumpukan air mata, ia melihat ke arah Ramon yang berjalan ke arahnya dan bersimpuh padanya, Frans hanya diam ditempat sambil membuang muka menahan isak tangis nya.
"ini salah Papi nak, papi yang sengaja menutupinya karna penyakit mommymu, kamu tau kan? saat mommymu sakit hanya membahas kejadian dulu, Papi yang berhak mendapatkan hukuman nak, hukum Papi saja". Ramon terunduk dihadapan Ariel.
Ariel menahan nafas, air matanya jatuh membahasahi pipinya walau wajahnya datar ia tidak tau kemana rasa dendamnya selama ini.
"a.. aku..? aku ...?". Ariel dengan suara tercekat.
Jessy juga kini telah bersimpuh di hadapan Ariel sambil memegang tangan Ariel, "mommy siap menerima hukuman mu nak..! saat mommy melihat luka di tubuhmu betapa hancurnya hati mommy..! hikss.. hikss... jika mommy bisa mengulang waktu mommy tidak akan pernah menjalin hubungan dengan Pria brengs*k itu...! tidak akan pernah".
"Mommy hanya memiliki satu penyesalan sayang, hanya itu, mommy tidak pernah menyesal telah mengandungmu serta melahirkanmu didunia ini". Jessy
"Papi yang bersalah telah menjalin hubungan dengan jal*ng itu, Papi bersalah Nak..! hukum Papi ya? balaskan rasa sakit di tubuhmu hanya pada Papi saja, jangan hukum mommymu !". Ramon
"Papi tidak punya penyesalan apapun asalkan kamu membebaskan Mommymu nak, dia mempertaruhkan nyawanya melahirkanmu jika ada yang bersalah didunia ini, papilah yang bersalah nak..! bunuh saja Papi". Lanjut Ramon lagi
Frans sesegukan mendengarnya, ia tidak pernah melihat Ramon begitu menderita hingga rela menyerahkan nyawanya pada Ariel dan hal itu sangat menyakitkan bagi Frans, Ramon, Mommynya.
keluarga Frans mengira Ariel mengungkapkan segalanya karna ingin membalas semuanya, tanpa tau apa tujuan Ariel mengatakan kejujurannya.
__ADS_1
"Aku memaafkan kalian...! walau aku sempat membenci Kalian sampai ke ubun-ubun tapi berkat kalian juga aku masih bertahan hidup, kebencianku pada kalian membuatku bisa bertahan hidup demi kembali dan membalas kalian berdua". Ariel berkata setelah berhasil menguasai diri
"aku hanya ingin tau bagaimana sikap kalian saat sudah tau aku bukan Varel melainkan Ariel, tidak ku sangka kalian telah mengetahuinya". Ariel
Kedua orang tua kandung Ariel menundukkan wajah mereka.
"Mommy... Papi..!". panggil Ariel
Ramon dan Jessy mendongak dimana Ariel masih duduk di sofa sementara mereka di lantai sedang bersimpuh pada Ariel meminta pengampunan sang putra yang hidup menderita selama ini.
"apa kalian akan memperlakukanku sama dengan Varel?". tanya Ariel
"tentu saja nak..! kalian putra Mommy darah daging mommy, belahan jiwa dan separuh nyawa mommy, kehilanganmu membuat mommy gila nak, walau Papimu bilang mommy hanya punya anak satu tapi hati mommy berkata lain dan mencari tau dirimu hingga Varel mengalami masa menyakitkan di usia kecilnya". Jessy menghapus air matanya
"Tentu saja Nak..! kamu Putraku, Putra sulungku yang akan menjadi Penguasa Fox Group! ". Kata Ramon
"bagaimana dengan Varel? ". tanya Ariel
"dia adikmu, apapun yang kamu berikan itu hak mu nak...! Papi tidak akan ikut campur bahkan jika kamu juga memberikan hak untuk adikmu yang itu". Ramon melihat ke Frans yang cegukan karna tangisnya yang sangat jarang seumur hidup itu.
"panggil aku Ariel nama panjangku Ariel Brimadirgantara". ujar Ariel
Ariel menarik Jessy dan duduk disampingnya, "kasih sayangmu membuat kebencianku hilang mom..! kata Shila kalian baik sudah pasti aku akan menjadi orang baik, aku ingin bahagia bersama kalian, banjiri aku kasih sayang yang selama ini tidak pernah aku dapatkan! ". Ariel berbicara panjang X lebar pada mommynya.
Jessy langsung memeluk Ariel dan menciumi sisi kepala putranya layaknya seorang bayinya, Ramon juga berdiri dan menatap pemandangan itu tanpa berniat ikut campur.
Frans tersenyum haru melihat hal itu,
"Anakku.. Anakku...! Anakku...! ". Isak tangis Jessy
Ramon benar-benar tidak cemburu saat ini, ia bahkan rela Jessy mengabaikannya demi memberi perhatian dan kasih sayang ibu pada Ariel yang selama ini tidak pernah Ariel dapatkan.
Ariel tersenyum dalam pelukan Jessy, ia merasa beban hitam di dalam hatinya telah terangkat, kini hatinya telah bersih tanpa setitik benci sekalipun, hatinya hanya ingin bahagia setelah semua penderitaan yang ia lalui dirinya hanya ingin bahagia bersama keluarganya.
"Papi? ". panggil Ariel
Ramon berjalan ke arah Ariel dan Ariel berdiri, mereka berpelukan Ariel bisa merasakan tubuh Ramon yang bergetar-getar.
"dasar cengeng..! ". ejek Ariel
"kau mengejek papimu cengeng hah? karna mu ini Papi cengeng". gerutu Ramon
__ADS_1
Ariel terkekeh sedangkan Jessy sudah mengambil tisu mengelap ing*snya yang keluar tiada henti.
setelah itu Ariel memeluk Frans yang memanggilnya abang, bahkan Ariel memukul punggung Frans yang mengoceh dan membanding-bandingkan dirinya dengan Varel.
"sejak kau menyelamatkan abang di Rumah sakit hari itu aku langsung menyayangimu detik itu juga Frans...! ". kata Ariel membuat Frans menangis seperti anak kecil hingga Ariel terkekeh dan Ramon tertawa, Jessy pun tersenyum.
mata Mereka sudah bengkak sedari tadi hanya menangis sedangkan Ariel hanya mengeluarkan beberapa air mata saja dan matanya tentu baik-baik saja.
hari sudah menunjukkan pukul 12 malam dan mereka kembali ke kamar masing-masing.
untuk pertama kalinya Ariel tertidur nyenyak sambil tersenyum tipis namun bayangan wajah Vivi menghiasi mimpinya saat gadis menyebalkan itu berteriak dan terlihat wajah masam gadis itu sungguh membuat tidur Ariel semakin nyenyak.
.
ke esokan paginya
"Mom? ". Ariel menyandarkan dagunya di bahu Jessy
Jessy tersenyum manis memegang rahang Ariel, "mommy memasak sup ayam kesukaanmu nak..! "
"hmm.. lezat sekali". bisik Ariel membuat Jessy tertawa karna geli.
Jessy mematikan kompor lalu berbalik menatap putranya, "bagaimana dengan kekasih hatimu nak? siapa gadis yang bisa membuat hati es anak mommy luluh..? hmm? ".
Ariel terdiam, "apa aku jatuh hati padanya mom? aku rasa aku hanya tertarik saja padanya".
"sama saja nak..! dulu Varel juga tertarik dengan Shila dan kamu juga lihat bagaimana gilanya dia pada Shila kan? ". Jessy
"mommy tau sesuatu? ". tanya Ariel memicing
Jessy terkekeh,
"apa bocah itu yang memberitau Mommy? ". tanya Ariel semakin memicingkan matanya curiga.
"ya.. apa kamu marah mommy tau nak? mommy tidak pilih-pilih menantu tapi kalau kamu memang suka bawa Vivi kesini nak..! mommy tau dia gadis baik-baik dan pekerja keras". Jessy
.
.
.
__ADS_1