
.
.
.
Ariel tertawa melihat raut wajah Vivi yang sedang marah, bukannya terpesona Vivi malah menganga melihat tawa Ariel yang ia pikir tengah mengejeknya.
"Tuan...? ". Vivi menarik lengan Ariel lalu mendorong tubuh Ariel dari belakang
Ariel masih tertawa di usir oleh Vivi dengan cara seperti itu, kenapa Ariel tidak bisa marah?
"pergi... pergi.. pergi...! ". geram Vivi yang masih asik mendorong-dorong tubuh Ariel supaya keluar dari Apartemennya.
setibanya di Sofa, Ariel memutar tubuhnya hingga Vivi yang tadinya berusaha mendorong Ariel terhuyung dan Ariel menarik tangan Vivi, alhasil Vivi tidak tersungkur hanya terduduk saja di sofanya.
Vivi mengerjabkan matanya menatap datar ke depan, hal itu membuat Ariel terkekeh mengusap kepala Vivi dan mengacaknya gemas.
"pakai bajumu..!". kata Ariel melirik paha Vivi yang semakin terekspos.
Vivi mengabaikannya karna ia tau Ariel tidak akan tertarik padanya, sungguh ia tidak merasa seksi hingga bisa membuat Ariel meliriknya.
Ariel mendorong tubuh Vivi hingga terlentang dan Ariel tentu menindihnya lalu menatap wajah Vivi yang masih menatap datar padanya.
"kau dengar aku atau tidak? ". tanya Ariel
Vivi yang tadinya datar berubah kesal, "kenapa aku harus pakai baju? ini Rumahku, tempat tinggalku, milikku, mau aku pakai baju atau tidak disini bukan urusan anda, saya hanya minta anda keluar! ".
Ariel menyeringai, "aku tidak keberatan kau tidak memakai baju! ".
Vivi membelalak saat tangan Ariel meraba pahanya, dengan cepat Vivi menepis tangan Ariel.
"jangan menggangguku Tuan, aku tau anda tidak tertarik padaku, tubuhku tidak sebagus model papan atas jadi aku tidak akan menuruti perintah anda". kesal Vivi
"aku tetap laki-laki". kata Ariel dengan serius.
Vivi menatap Ariel, "kenapa anda melakukan ini Tuan? apa aku punya kesalahan pada anda? kenapa anda mempermainkanku? apa menarik mempermainkan gadis jelata sepertiku? ".
Ariel menautkan kedua alisnya.
"apa karna aku tidak sengaja memeluk anda saat itu? aku minta maaf Tuan, aku tidak sengaja waktu itu, aku bukan sengaja melakukannya, berhentilah mempermainkanku Tuan! aku minta maaf karna saat itu aku benar-benar tidak sengaja melakukannya". Vivi berkata dengan berkaca-kaca
"aku tidak bermain denganmu! ". kata Ariel dengan serius mengusap mata Vivi yang terpejam mengeluarkan air matanya.
Vivi membuka matanya, "lalu kenapa anda menggangguku? ".
"menurutmu? ". tanya Ariel balik
"karna balas dendam". jawab Vivi memalingkan muka nya.
Ariel memejamkan matanya, "aku tidak sejahat itu".
"lalu apa ? kalau bukan dendam apa? ". tanya Vivi membentak
Vivi membelalak saat Ariel mencium bibirnya, Vivi berusaha memberontak tapi tangannya di kunci oleh Ariel hingga kekuatan Vivi melemah sampai ia tak lagi melawan.
.
__ADS_1
.
di tempat lain
Shila tersentak kaget saat ada lengan kekar memeluknya dari belakangnya.
"om udah pulang? ". tanya Shila mengelus lengan Varel
"maaf sayang..! aku harus mengatasi Perusahaan yang harus bisa menerima 2 presdir Fox Group". bisik Varel.
"apa artinya pak Ariel tidak perlu lagi meniru tandatangan Om? ". tanya Shila
"hmm". jawab Varel menyunggingkan senyum tipisnya.
"apa mereka menerima Pak Ariel Om? ". tanya Shila
"ya..! mereka menerimanya". jawab Varel
Shila tersenyum manis, "baguslah".
"apa om mau mendirikan Perusahaan baru? ". tanya Shila penasaran
"hmm.. aku ingin buka produk kecantikan khusus Ms. Paramastri". jawab Varel
Shila menyeringai lebar, "karna aku sudah tidak sibuk Kuliah aku akan membantu Om, bagaimana? ". tawar Shila.
"benarkah? apa saja keahlianmu sayang? ". tanya Varel
Shila menjawab dengan narsis hingga Varel yang gemas menciumi wajah Shila, Varel ingin mencoba hal baru yaitu membuka Perusahaan Kecantikan sebab Fox Group ada dimana-mana tapi masalah kecantikan Fox Group masih lemah.
.
diluar sana banyak wanita yang ingin bermalam dengan Ariel maupun Varel tapi Vivi sungguh tidak bisa berpikir jernih saat Ariel mencumb* nya hingga melupakan konsekuensinya.
"bagaimana ini? aku harus bagaimana? kenapa semua harus seperti ini? apa salahku? ". batin Vivi terisak.
Ariel terbangun tapi matanya masih terpejam ia mengeratkan pelukannya di tubuh Vivi, "aku akan bertanggung jawab..! percayalah, aku berjanji atas nama mommyku". bisik Ariel yang tau pikiran Vivi.
"be.. benarkah Tuan? anda tidak bohongkan?". tanya Vivi
"hmm..! sekarang tidurlah! ". hembusan nafas Ariel kini menerpa leher mulus Vivi
Ariel hidup lama di dunia hitam jadi hubungan seperti itu hal biasa didunianya, walaupun Ariel tidak pernah melakukannya tapi ia cukup dewasa mengerti hubungan itu, berbeda dengan Varel yang besar bersama keluarga yang tau arti menjaga sedangkan Ariel hanya tau arti bertanggung jawab tanpa tau arti menjaga.
.
ke esokan harinya Vivi terbangun langsung melihat sekeliling,
"apa yang aku pikirkan? sadarlah Vi, Tuan Ariel tidak akan bertanggung jawab". batin Vivi mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Vivi termenung cukup lama hingga bunyi suara air membuyarkan lamunannya, "Tuan masih ada disini?". gumam Vivi
Vivi berusaha untuk mengambil jubah mandinya yang terlempar di lantai dengan susah payah ia mencoba menggapainya.
"kenapa rasanya perih sekali? ". gumam Vivi
"sedang apa? ". tanya Ariel
__ADS_1
Vivi tersadar, ia memegang erat selimutnya melihat ke arah Ariel, mata Vivi melebar kaget melihat tubuh atas Ariel yang tidak memakai apapun hanya handuk putih melingkar dipinggangnya saja.
Ariel menyunggingkan senyumnya saat Vivi memalingkan muka, "mandilah..! aku bukan pria munafik, jika aku suka aku tidak akan menahan diri".
Vivi menundukkan wajahnya, "tapi...? "
"mandilah..! aku akan buatkan sarapan! ". potong Ariel
Vivi pun melihat jubah mandinya yang sangat jauh hingga sulit dijangkau olehnya,
"ckk.. aku bahkan sudah melihat semuanya!". Ariel berjalan ke arah tatapan Vivi dan mengambilkan jubah itu memberikannya ke Vivi yang wajahnya sudah merah merona.
Vivi bukan lah gadis remaja seperti Shila, usia Vivi sudah 24 tahun tapi tingkahnya seperti anak Remaja karna sejak dulu ia sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk jatuh cinta.
.
dimeja makan
"apa kuat berjalan? bagaimana?". tanya Ariel yang kini berhadapan dengan Vivi
"sudah baikan Tuan". jawab Vivi mencoba untuk tersenyum
Ariel mengelus pipi Vivi yang merona, "imut sekali! ". gumam Ariel tersenyum begitu tampannya.
Vivi semakin menunduk malu
"kalau begitu beri aku waktu 2 minggu..! ". kata Ariel serius memegang tangan Vivi
"hmm? ". Vivi menyahut tidak mengerti
"aku harus mengurus Perusahaan mungkin akan menginap disana, jika kamu merindukanku datanglah ke Perusahaan !". jawab Ariel
Vivi salah tingkah saat Ariel mengatakan boleh mengunjunginya jika ia rindu.
"istirahatlah disini..! setelah semua urusanku selesai aku akan menikahimu". Kata Ariel membuat Vivi menatap Ariel yang terlihat serius.
"kenapa?". tanya Ariel
Vivi menggeleng kepalanya pelan sambil tersenyum.
"tidak masalah aku menjadi istri simpanannya, asalkan Tuan Ariel bertanggung jawab itu sudah cukup bagiku dan aku tidak akan serakah". batin Vivi
.
.
.
catatan :
jangan heran Ariel melakukan hubungan itu ya? dia hidup tanpa keluarga yang mengajarkan etika menjaga kehormatan perempuan, di tempat Ariel dibesarkan hanya ada kekerasan fisik dan batin. disana diajarkan jika suka maka lakukan setelah itu ia akan bertanggung jawab, malah Pria yang mau bertanggung jawab di dunia hitam itu sangat jarang dan Ariel setidaknya punya rasa tanggung jawab.
.
.
.
__ADS_1