
.
.
.
malam hari
"ini dimana Mas? ". tanya Raisa mengedarkan pandangannya.
"ini? kamarku". jawab Frans tersenyum
Raisa terkejut lalu mengangkat gaunnya memasuki Kamar Frans, ia melihat foto Frans yang sangat tampan.
"boleh foto ini untuk aku Mas? ". tanya Raisa menunjukkan Foto yang Raisa suka hingga Frans tertawa kecil.
"semua milikmu termasuk diriku". kata Frans membuat Raisa menoleh ke Frans.
Raisa gugup saat Frans mengatakan apa yang ada di tubuh Frans adalah miliknya, memang benar tapi ia merasa malu saat mendengar dari Frans sendiri malah mengakuinya.
"aku sudah menahan diri sayang..! sepertinya aku tidak bisa menunggu esok". kata Frans melepaskan jasnya, melepas dasi juga tak lupa ia membuka kemejanya hingga Raisa memerah memutar kepalanya melihat arah lain tidak berani melihat sisanya.
"kenapa? ". tanya Frans yang entah sejak kapan sudah ada dibelakang Raisa dan mengendus leher Raisa.
Raisa begitu gugup saat bibir Frans menciumi leher juga bahunya yang terbuka,
"ja.. jantungku berdebar kencang Mas". ucap Raisa gugup malah memberi tau isi hatinya hingga Frans tertawa
Frans memutar tubuh Raisa hingga pandangan Raisa yang menunduk melihat perut Frans yang sangat bagus, entah dapat keberanian dari mana tangan Raisa sudah ada di perut sixpack Frans.
glek...! Raisa menelan ludah dan meraba sampai atas hingga ia tersadar dengan cepat ia mengangkat tangannya tapi Frans memegang tangan Raisa meletakkannya kembali di belahan dada bidangnya.
"bagaimana?". tanya Frans dengan parau
Raisa memejamkan matanya mendengar detak jantung Frans yang berdetak cepat seperti apa yang dirasakannya hingga bibir Raisa melengkung sempurna.
"kok bisa mas? mas seperti profesional tidak terlihat gugup sama sekali". Raisa mendongak dan Frans tersenyum mengelus pipi Raisa yang tengah tersenyum manis.
"jangan gugup ya? nikmati saja". kata Frans membuat senyum Raisa memudar kembali kikuk dan malu bahkan wajahnya memerah.
Frans merangkul pinggang Raisa dengan cepat Frans mencium bibir Raisa, ia mengem*t, ******* bibir itu mengambil semua madu yang tidak ada habisnya itu dari bibir Raisa.
__ADS_1
"saat pertama kali kita bercium*n keinginanku hanya satu ingin menid*ri mu". bisik Frans hingga mata Raisa yang tadinya terpejam membelalak.
Frans mencium leher Raisa,
"i.. itu sebabnya Mas melamarku? karna pikiran itu?". gagap Raisa
"hmm..! kenapa? ". tanya Frans dileher Raisa
"aa.. aku tidak menyangka Mas punya pikiran kotor". jawab Raisa dengan jujur dan malu
Frans tersenyum lalu memberi tanda dileher Raisa sampai gadis yang telah resmi menjadi istrinya itu terpekik saat dilehernya seperti kulitnya digigit oleh Frans tapi geli namun anehnya malah suka.
"hanya kamu". bisik Frans
Raisa semakin berdebar saat Frans mencium setiap inci lehernya sampai di atas dadanya, Raisa merasa merinding saat Frans mencium semua jemari tangannya tapi tetap suka kelembutan Frans yang tidak terburu-buru padanya.
"aku ingin membuat istriku ini rileks". kata Frans berbisik di telinga Raisa yang memeluk Frans dan perlahan mendongakkan kepalanya.
Frans semakin semangat memberi tanda di leher Raisa, wangi tubuh Frans membuat Raisa mabuk begitu juga Frans yang suka aroma tubuh Raisa seperti wangi bayi saat dibedaki setelah mandi padahal Raisa belum mandi.
"hmmm? ". Raisa mendesah pelan sambil menggigit bibir bawahnya
Frans mengangkat tubuh Raisa dan merebahkannya perlahan ke atas ranjangnya, perlahan tapi pasti Frans bisa melepaskan pakaian Raisa.
"hmm.. Ahhh? aaannnggghhh". Raisa meracau tidak jelas sambil meremas rambut Frans
Raisa memekik saat bibir Frans memil*n dan menye**t payud*ra nya dengan lembut namun menuntut, lama-lama tubuh Raisa seperti busur yang siap melepaskan anak panah.
Frans kembali menciumi leher Raisa dan perlahan menggerakkan pingg*lnya.
"aaahhhh". Raisa menjerit seketika meremas dan mencakar punggung Frans
Frans tidak bergerak, ia tidak bisa terburu-buru karna milik istrinya ini masih sempit
"tenang sayang..! tenang ya..? tenang". bisik Frans
Raisa menarik nafas dalam-dalam, ia menangis kesakitan hingga Frans iba menciumi mata Raisa.
"sayang..? dengar?". kata Frans hingga Raisa melihat mata Frans sambil sesegukan.
"sakitnya hanya sebentar setelah ini tidak akan sakit lagi, ini sakit karna aku adalah Pria pertama bagimu". bujuk Frans menangkup pipi Raisa.
__ADS_1
Raisa memeluk Frans dan memejamkan matanya, perbuatan Raisa seolah memberi tanda pada Frans memintanya untuk meneruskannya sementara Raisa akan menahan rasa sakitnya.
perlahan Frans menggerakkan kembali pingg*lnya kembali Raisa menangis dan menggigit bahu Frans yang juga meringis tapi mau bagaimana lagi sudah tanggung jika dikeluarkan atau dihentikan.
"pelan-pelan". bisik Frans
Frans tidak terburu-buru dengan sangat berhati-hati memasukkan miliknya ke tempat sempit yang lumayan sulit di terobos paksa olehnya.
cukup lama pemanasan sampai Raisa melepaskan gigitannya dari bahu Frans, kini ia sudah mendesah-desah nikmat saat ini, Frans merasa Raisa sudah menikmati permainan pun semakin mempercepat aksinya hingga mulut Raisa semakin meracau kuat.
"nggh...!ngghh".
Frans menggeram mengangkat sebelah kaki Raisa dan semakin gencar melancarkan aksinya hingga tiba di puncak kepuasan itu dan Frans tumbang diatas tubuh Raisa tapi masih bisa menopang tubuhnya supaya Raisa tidak keberatan menahan tubuhnya.
bukan karna Frans lemah tapi masa pemanasan nya dengan Raisa cukup lama memakan banyak waktu dan tenaga hingga harus butuh istirahat jika harus lanjut ronde kedua.
"terimakasih sayang". bisik Frans
Raisa memeluk Frans hingga Frans mengumpat pelan
"kamu membangunkannya lagi sayang". decak Frans
Raisa yang tadinya lelah melotot seketika, "aaahhh". pekik Raisa
alhasil ronde kedua pun terjadi dengan berbagai pose, saat ke kamar mandi pun lanjut ronde ketiga di pancuran shower, keempat di bath Up.
"Mas..? udah..! aku merasa kakiku sudah lemas dan tidak sanggup berdiri lagi". ringis Raisa
"iya maaf sayang..! maaf..! sekarang aku mengerti kenapa menikah itu enak". balas Frans mengecup bibir Raisa yang memerah malu.
Frans menggendong Raisa yang tidak kuat berjalan atau berdiri lagi, lalu menyelimuti tubuh Raisa dan tanpa malu lagi Raisa masuk ke pelukan Frans tentu Frans mencium kening Raisa.
jujur saja Frans suka Raisa yang manja dan bertingkah manis seperti sekarang, apalagi senyum manis Raisa yang sangat cantik dengan lesung pipinya itu.
"pantas saja Bang Ariel melakukannya sebelum nikah, bang Varel sampai suka ambil jatah malam saat anak-anaknya tidur, Papi dan Mommy yang tidak ingat umur, ternyata nikmat apalagi dengan seseorang yang dicintai sepenuh hati". batin Frans tersenyum memejamkan matanya memeluk Raisa yang sudah masuk ke alam mimpi saking lelahnya.
Frans membuatnya tidak tidur berjam-jam hanya karna hasrat nya 1 tertahan itu.
.
.
__ADS_1
.