Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
pelajaran baru lagi


__ADS_3

.


.


di dalam mobil Shila mengomel-ngomel sedangkan Varel setia mendengarkan omelan Shila yang sangat imut dimata Varel, sedangkan Vivi hanya fokus berkendara.


"kenapa om tidak berbicara? ". kesal Shila


"aku harus bicara apa sayang? ". tanya Varel balik


"om mau aku tambah marah heh?". tanya Shila dengan mata melebar


Varel terkekeh lalu menggeleng kepalanya pelan, ia tidak bisa berkata-kata karna tidak tau mau bicara apa.


"kenapa om bilang tadi mau balas hah? om pikir aku tuli? ". tanya Shila mengomel


"sayang.. aku sangat merindukanmu tadi malam, bukannya melepas rindu saling berpelukan atau bercium*n aku malah melihatmu terkapar lemas dengan badan panas". Varel


Shila membelalakkan matanya mendengar pembicaraan Varel, ia melihat ke arah Vivi yang tampak menahan senyum mendengar Varel ingin bercumbu mesra dengan kekasihnya.


"dasar om cab*l". pekik Shila


Shila walaupun polos tapi ia tau apa itu bercium*n.


Varel malah terkejut, "kenapa sayang? aku tidak melakukan apapun kan? aku memang marah pada orang yang berani membuat kekasihku demam".


Shila menutupi wajahnya yang memerah, ia tidak tau kenapa setiap Varel mengatakan dirinya kekasihnya sungguh membuat hatinya seperti terkena Virus benih-benih cinta Varel seolah masuk secara perlahan lewat pori-pori nya itu hingga wajahnya kini mulai merona entah karna malu atau karna suka pada Varel, Shila pun tidak tau.


.


"Shila sepertinya kita terlambat, Elis dibawa ke Rumah Sakit dan aku dengar nyawanya sudah tidak tertolong". Vivi masuk ke mobil dalam keadaan terengah-engah


Varel diam saja tanpa ikut campur, Shila membekap mulutnya sendiri.


"kenapa dia bisa meninggal? apa yang membuatnya bisa ada ditempat ini? ". tanya Shila khawatir


"aku dengar dia membeku Shila, katanya ada di RS Cendana yang tidak jauh dari sini untuk di periksa". Vivi


"ayo kita kesana..! ". ajak Shila


"tapi kalau ada skandal bagaimana Shila? ini pas sekali kejadiannya setelah kejadian tadi malam yang dia lakukan padamu, aku takut ada wartawan gila yang berani menerbitkan artikel membahas tentangmu yang membunuh Elis dengan cara yang sama bahkan lebih sadis". Vivi berdecak khawatir


"tidak apa..! ada Om ku yang akan membereskannya". jawab Shila mengelus dagu Varel yang tersenyum mengusap kepala Shila.


"turuti saja maunya..! sisanya tidak perlu kau takutkan". kata Varel dengan serius


"baik Tuan". jawab Vivi percaya kata-kata Varel

__ADS_1


Varel didalam mobil terus saja menatap Shila, sesekali Shila mendelik kesal karna Varel kini kurang kerjaan memotretnya.


"apa om tidak sibuk bekerja? ". tanya Shila dengan heran


"aku punya banyak pekerjaan sayang..! tapi apapun yang kamu lakukan akan aku tinggalkan semua itu dengan tangan terbuka". jawab Varel dengan senyum lebarnya mencubit gemas pipi Shila


Shila menganga, "om mau jatuh bangkrut? ".


Varel tertawa terbahak-bahak, Shila mendengus melihat arah lain.


"kenapa Maharaniku tidak tertawa hmm? ". tanya Varel


"mana bisa aku tertawa saat ada wanita yang menyerangku tadi malam meninggal mengenaskan". gerutu Shila


Varel tersenyum sambil mengangguk,


di Rumah Sakit, tidak ada wartawan yang berani bertanya-tanya pada Shila padahal Shila ada didepan mereka, 1 jam yang lalu Varel mengirim pesan pada Nando untuk membungkam semua wartawan di RS Cendana untuk tidak bertanya-tanya pada Shila atau membuat artikel yang tidak baik tentang Shila karna Varel mengancam akan menerkam kepala orang itu tanpa bersisa (artinya membuat jatuh bangkrut).


jika Tuan Muda Fox Group sudah memberi ancaman seperti itu, jika ada pria lain pun disamping Shila tidak akan memotret Shila walau bisa membuat mereka kaya mendadak jika membuat artikel Shila dengan Pria lain dengan judul besar selingkuh.


.


"jadi benar Elis meninggal karna kedinginan Dok? ". tanya Shila serius


"benar Nona..! saya sudah periksa semua yang ada di tubuh Elis, sepertinya dia dilec*hkan di ikat di dalam air lalu dibuang begitu saja". jawab dokter


"tidak ada Nona, sepertinya orang ini sangat berpengalaman, saya periksa korban sudah tidak peraw*n lagi Non". jawab dokter


"dia memang bukan gadis lagi dok, dia memiliki banyak daddy sugar, ah.. tidak.. tidak dia itu Baby Sugar nya om-om buncit dok". kata Vivi menyambar


Shila menyenggol lengan Vivi dengan mata melebar penuh peringatan,


"memangnya aku salah bicara? ". kesal Vivi merasa dirinya tidak bersalah


Shila meminta maaf pada dokter itu dan dibalas senyuman oleh dokter itu karna menganggap Shila sangat baik mau meminta maaf demi orang lain.


"dimana om Raffan Kak? ". tanya Shila


"tadi sedang menghubungi seseorang, kamu tau Shila banyak wartawan diluar sana mereka hanya menatapmu saja tidak berani mendatangimu seperti biasa kan? ". heboh Vivi


Shila tampak berpikir, "karna Om Raffan kan? dia memang berkuasa hal seperti ini sangat mudah baginya". jawab Shila dengan enteng


Vivi menganga mendengarnya, Nona nya ini tidak tau betapa romantisnya Varel melakukan hal seperti ini pada Shila malah Vivi yang heboh seharusnya kan Shila yang berbunga-bunga.


.


.

__ADS_1


Shila duduk dan tampak berpikir menatap pemandangan di luar, Varel meraih tangan Shila hingga siempunya menoleh


"ada apa sayang? ". tanya Varel dengan lembut


entah mengapa Shila kini menyandarkan sisi kepalanya di bahu Varel hingga Pria tampan itu gemas mengecup sayang puncak kepala Shila.


"aku merasa apa yang terjadi pada Elis adalah salahku om". ujar Shila dengan pelan


"kenapa kamu berpikir begitu? ". tanya Varel dengan serius


"instingku merasa ini salahku, kenapa dia harus meninggal setelah berkelahi denganku om? dia bilang aku merebut apa yang dia miliki, malam itu aku sangat marah karna dia menyiramku dengan air jadi berbicara kasar padanya, om kan tau aku tidak tahan AC". curhat Shila dengan nada manja di bahu Varel


Varel mengulum senyum, "apa kamu marah pada pelakunya? ". tanya Varel dengan lembut


"otakku berkata dia pantas tiada karna sangat menyebalkan tapi hatiku sebagai manusiawi tidak setuju". ujar Shila


"kenapa begitu? ". tanya Varel penasaran


"issh.. bisa saja dia punya keluarga yang dihidupinya Om, bisa saja dia itu tulang punggung keluarganya di suatu kampung atau desa, karna kematiannya keluarganya jadi kelaparan, aku kasihan om". Shila


Varel terhenyak, "kamu memikirkan sampai kesana sayang? ".


"iya om..! seperti om dibunuh oleh orang lain dengan tiba-tiba, siapa yang akan sedih? Mommy om, Papi Om, Frans, aku juga akan membenci orang itu, semua ada lingkaran kehidupannya Om". jelas Shila


"aku tidak akan biarkan ada yang mencoba menyentuhku sayang". kekeh Varel


Shila memutar bola matanya dengan jengah, "lalu kalau aku om? apa om terima jika aku diposisi Elis?".


Varel membelalak, "tidak akan aku biarkan". tegas Varel


"itulah dia om, dia mungkin menyebalkan tapi ada orang lain yang menganggapnya sangat berharga sama seperti om tidak membiarkan ada orang lain yang melukaiku begitu juga seseorang yang merupakan keluarga Elis". jelas Shila


Varel tampak berpikir, saat ia menghabisi seseorang tidak pernah melihat kesana hanya berpikir dia pantas untuk mati saja.


"om kenapa? ". tanya Shila mendongak menatap Varel


Varel menggeleng kepalanya lalu mengecup sayang kening Shila, Shila tersenyum lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Varel.


"rasanya nyaman sekali". gumam Shila


"kamu adalah kenyamananku sayang". bisik Varel membuat Shila tersenyum saja.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2