
.
.
"kamu buat apa sayang? ". tanya Jessy tiba-tiba membuat Shila kaget.
"Tante ngejutin Shila aja". decak Shila dengan kesal hingga Jessy terkekeh.
"buat apa sayang? apa kamu lapar? kan bisa tante masakkan, kamu mau apa biar tante yang masak". Jessy hendak mengambil alih kerjaan Shila tapi Shila menolaknya.
"om Varel ingin makan nasi goreng pedas buatan Shila Tan". jawab Shila
"benarkah? ". tanya Jessy melihat masakan Shila
Shila mengangguk, Jessy teringat saat Shila memasak nasi goreng untuk sarapan mereka semua, semua memuji masakan Shila yang pedas namun buat nagih dan saat itu Varel tidak berbicara apa-apa tapi makannya yang paling lahap diantara mereka semua.
"ya udah deh..! kamu mau makan apa sayang? ". tanya Jessy
"hmm.. Shila mau jus mangga Tan, tapi tidak ada disini ya? ". jawab Shila
"kamu mau jus mangga sayang? ". tanya Jessy dibalas anggukan oleh Shila
"Tante pesankan ya? ". Jessy bersiap menghubungi seseorang.
"tapi Tan yang murni". rengek Shila
"tentu saja sayang..! tante memiliki teman yang menjual jus murni yang sangat enak". jawab Jessy mengelus pipi Shila yang tersenyum manja
Jessy langsung menghubungi temannya sedangkan Shila fokus dengan masakannya, ia sudah biasa dimanja dan disayang oleh Jessy selama ia tinggal dimansion Jessy Ramon.
1 Mansion sangat tau bagaimana kepedulian Jessy pada Shila, bahkan pelayan Jessy pun tau Shila adalah satu-satunya perempuan yang disayangi Shila dan menjadi kandidat terkuat menjadi menantu Jessy.
"apa pakai timun ya? ". gumam Shila lalu teringat saat Varel makan tidak menyentuh timun sama sekali berbeda dengan Frans yang sangat menyukai timun.
"om Varel suka Sosis". gumam Shila mengangguk membenarkan kata-katanya sendiri.
Shila kembali menggoreng sosis nya lalu membentuknya seperti makanan untuk anak-anak, bahkan Shila membuatnya dengan versi besar.
Shila selesai memasak dan Jus pesanan Jessy tiba, lalu memberikannya pada Shila.
"makasih tante". ucap Shila mengecup pipi Jessy yang tertawa mengelus pipi Shila.
"habiskan ya sayang! ". pinta Jessy dibalas anggukan mantap oleh Shila.
"tante itu pesan jus apa? ". tanya Shila penasaran
"oh.. ini jus tomat". jawab Jessy
"tante suka tomat ya? ". tanya Shila tersenyum geli
__ADS_1
Jessy tergelak lalu mengangguk membenarkan.
"kamu tidak suka kan? ". tanya Jessy
Shila dan Jessy sibuk mengoceh hingga Shila kaget saat ponselnya bergetar lalu mengangkatnya, Shila mengerucutkan bibirnya mendengar omelan Varel yang terlalu lama datang.
"kenapa sayang? ". tanya Jessy dengan gemas
"om marah-marah bilang Shila jangan nanam padi terlebih dahulu kalau memasak nasi goreng, kelamaan". lapor Shila membuat Jessy tertawa keras.
Shila menggerutu membawa makanan untuk Varel, sambil membawa jus Mangga nya yang sudah habis separuh Shila minum.
Jessy dan yang lainnya tau kalau pekerjaan Shila dulu nya adalah seorang petani cantik, walau bukan pekerjaan tetap tapi Jessy tau Shila senang membantu Papanya menanam padi.
.
.
"kenapa lama sekali? apa padinya sudah matang? sudah ditumbuk?". cecar Varel dengan menyindir
Shila mencibir hingga Varel menghela nafas panjang, memang Shila tidak pernah takut padanya
"duduklah..! " titah Varel membuat Shila mengerutkan keningnya dan memicingkan matanya dengan tatapan curiga.
"aku tidak sejahat itu..! cepat duduk..! ". titah Varel dengan tegas
Varel memutar bola matanya dengan jengah, "yahh..! terserah kau saja..! cepat duduk disampingku! ". pinta Varel dengan sabar.
Shila menggeser duduknya, "om mau apa sih? ". tanya Shila dengan kesal.
"tunggu aku makan ya?". kata Varel tersenyum puas dan Shila menjatuhkan rahangnya sedangkan Varel malah mengusap kepala Shila tanpa merasa bersalah.
Shila hendak beringsut tapi tangan kekar Varel menarik pinggang Shila hingga kembali merapat ke sisi Varel, Shila yang kehabisan akal membelakangi Varel lalu hendak bangkit namun sekali lagi lengan Varel mengunci pinggang Shila yang mendelik tajam ke arah Varel.
Shila tidak berbicara karna tidak mau membuang tenaga, alhasil ia berwajah datar meminum jus Mangga nya tapi posisinya membelakangi Varel.
.
"apaaa?? ". Shila terkejut mendengar Varel mengatakan telah menemukan pelaku yang meneror Shila.
Shila dengan cepat memutar kakinya hingga duduk bersampingan dengan Varel tapi tangan Varel makin melingkar di pinggang kecil Shila tanpa Shila sadari, ia terlalu fokus mendengarkan penjelasan Varel tentang pengirim misterius itu.
"lalu om apakan dia? ". tanya Shila penasaran
"aku buang ke laut". jawab Varel dengan santai
Shila memukul dada bidang Varel, "om jangan bercanda..! "
Varel tersenyum, "bukankah kau takut padanya? dia sangat mengerikan, bahkan dia hendak masuk ke tempat tinggalmu dan mencuri baju tidurmu yang tipis itu".
__ADS_1
Shila membelalakkan matanya, "hah?? ".
"iya... dia pria cab*l yang sebenarnya". jawab Varel
"syukurlah om sudah menangkapnya". ucap Shila lega mendengar penjelasan Varel.
"hmm! sekarang tidurlah yang nyenyak..! ". Varel menekan kepala Shila hingga Shila menoleh ke Varel.
Varel tersentak melihat Shila dari jarak dekat, ini pertama kalinya Varel sangat dekat menatap seorang perempuan.
"kenapa om? ". tanya Shila menekan kedua pipinya merasa ada yang salah dengan wajahnya.
"kau minum apa? kenapa wajahmu hijau semua? ". tanya Varel meledek berusaha menutupi ego nya.
Shila menautkan kedua alisnya, "memang wajahku hijau ya om? ".
"hm.. hijau.. oh.. pantas saja kuning kau meminum mangga ya? ". ejek Varel tidak nyambung
Shila makin kebingungan, "tadi om bilang wajahku hijau loh, kenapa sekarang malah kuning, yang mana yang benar om? "
"tadi hijau sekarang kuning". bohong Varel
"om aneh". kesal Shila bangkit dan berjalan ke arah tempat tidurnya yaitu sofa mahal milik Varel.
Varel berdehem lalu berdiri dan berjalan menuju ranjangnya sambil merutuk dalam hati,
Shila yang biasanya selalu takut karna memikirkan fans gila nya itu sekarang menjadi lebih tenang sebab Varel telah menyelesaikan masalahnya.
.
.
ke esokan paginya Shila berbicara dengan direktur Hotel Fox Group tentang kontrak iklan yang telah dijanjikan oleh Pemilik Fox Group sebelumnya.
"hahh? model pria nya Om eeh..? maaf pak maksud saya Tuan Muda Fox Group Pak?". tanya Shila yang masih belum terbiasa memanggil Varel Tuan Muda pada orang-orang pekerja nya Varel.
"benar Nona..! tahun-tahun sebelumnya juga Tuan Muda dengan Juara PI lainnya, walaupun harus dengan jadwal syuting yang berbeda". jawab pak direktur Fox Hotel (Handoyo).
"oh.. pisah ya? baguslah". senyum lega Shila membuat Handoyo dan yang lainnya menatap Shila dengan heran.
jika model PI lainnya akan bertanya mengapa berbeda? mengapa harus diedit? mengapa begini? mengapa begitu? dan banyak hal lainnya yang membuat mereka bingung harus menjawab apa.
Anehnya Shila malah lega seolah itu adalah berkah sedangkan bagi perempuan lain malah petaka, sungguh perbedaan yang sangat tidak mereka mengerti.
.
.
.
__ADS_1