Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
aku akan melindungimu!


__ADS_3

.


.


Shila akhirnya membalas pelukan Varel, Vivi sudah bisa bernafas secara beraturan sebab cukup lama beristirahat, Varel dan Shila berpelukan hampir 30 menit.


Varel melepaskan pelukannya lalu memegang bahu Shila dan memperhatikannya seolah sedang mencari luka di tubuh Shila hingga matanya tertuju pada kaki Shila.


"ini sepatu kak Vivi om". jawab Shila.


Varel melepaskan sepatu di kaki Shila lalu memberikannya pada Vivi,


"pakai saja..!" titah Varel ke Vivi


"terimakasih Tuan". jawab Vivi langsung memakai sepatunya karna Shila sudah ada yang menjaga.


Varel melihat Kaki Shila dengan aura dinginnya yang mencekam, Shila memukul-mukul bahu Varel


"om disini sudah dingin jangan menambah suhu lagi". protes Shila yang sangat tau Varel membuka kulkas 10 pintunya hingga suasana menjadi semakin dingin.


Varel melepaskan jas nya lalu memasangkannya ke tubuh Shila, tangan Varel memegang tangan Shila lalu Varel membelakangi Shila hingga Shila naik ke punggung Varel, Shila melingkarkan tangannya di leher kokoh Varel.


"berapa jauh lagi om kita keluar dari sini? ". tanya Shila


"10 Km lagi". jawab Varel


Vivi membelalak, "a.. apaaa?? 10 KM lagi Tuan? ".


"hmm..! ". sahut Varel


Shila hanya diam dipunggung Varel, "apa aku jalan aja om? ". tanya Shila


"tidak perlu..!". jawab Varel dengan cepat


"om.. aku dengar suara air". Shila memukul pelan bahu Varel seolah meminta untuk berhenti.


"iya.. aku juga Shil". sahut Vivi


Varel diam ditempat, "apa kalian haus? ". tanya Varel melirik kesamping.


dibalas anggukan oleh kedua perempuan yang sedang bersama Varel itu.


"baiklah". Varel membawa Shila ke asal suara air.


"dimana senter om tadi? ". tanya Shila


"dileherku". jawab Varel yang mana senternya bergantung di lehernya.


Shila meraba tubuh Varel hingga ia mendapatkan senternya dan menghidupkannya.


.


.

__ADS_1


setelah puas meminum air dari mata air kecil Shila dan Vivi merasa lega bebas dari kering tenggorokan, sedangkan Varel menunduk membersihkan luka di kaki Shila dengan telaten, Vivi curi-curi pandang begitu baper dengan kasih sayang Varel pada Shila hingga mau merendahkan diri pada Shila.


"awwh.. jangan terkena air om..! perih". protes Shila


"tidak bisa maharani, kakimu sudah kotor aku takut terinfeksi, walau sakit tahanlah sedikit". pinta Varel.


Shila meringis meremas bahu Varel karna lukanya memang masih sakit disiram air, namun di kaki Shila sudah banyak debu dan kotoran jika tidak dibersihkan maka kaki Shila akan semakin lama sembuhnya.


Varel mengeluarkan betadin dan handiplast dari balik jas nya yang terpakai di tubuh Shila, Varel mengecup kening Shila yang tampak menggemaskan mengerjab-ngerjab polos di tengah pancaran rembulan.


Shila mendongak menatap Varel, "kenapa om? ".


"jika saja kamu tidak menghindariku masalah ini tidak akan terjadi". kata Varel mengetuk hidung Shila.


Shila terdiam, ia ingat bagaimana Shila berusaha menjauhi Varel karna gugup akan ungkapan perasaan Varel padahal bukan Shila yang mengungkapkan cinta.


"jadi tadi siang om datang ingin mengatakan hal ini?". tanya Shila


"iya.. aku ingin bilang kalau Carol kabur dari penjara dan aku yakin kamu adalah incaran pertamanya". jawab Varel


Shila memejamkan matanya sambil mendumel dalam hati dengan bibir bergerak-gerik tapi tidak mengeluarkan suara.


"lain kali jangan menghindariku! aku tidak memaksamu untuk membalas perasaanku, kenapa kamu harus canggung Maharaniku? apa aku meminta jawaban saat mengungkapkan perasaanku hmmm?". Varel berdiri menggendong Shila dan meletakkannya di bebatuan karna luka Shila sudah dibersihkan dan diobati.


"lalu kenapa om bilang-bilang? ". tanya Shila melihat arah lain


"aku mulai bosan berbohong padamu demi mommy, semua yang aku lakukan bukan karna mommy tapi kamu tidak pernah menganggap sedikit saja karna inisiatif aku sendiri". jelas Varel kembali membenarkan jas di tubuh Shila.


"mereka seperti aktor dan aktris, kenapa aku merasa sedang menonton drama secara langsung, tapi mereka tidak berakting..! Tuan Muda sangat romantis, tidak pernah jatuh cinta tapi saat jatuh cinta begitu romantis mengalahkan pria-pria yang sudah sering jatuh cinta diluar sana". batin Vivi begitu dramatis


"apa kata orang?? haha.. Profesional... iya.. Pro..". batin Vivi yang tidak peduli dianggap nyamuk oleh kedua pasangan menggemaskan itu.


.


cukup lama mereka berjalan hingga tidak lama kemudian terdengar Nando berteriak memanggil Varel.


"Tuaannn? ". teriak Nando


"Tuan Muda disinii". balas Vivi hingga Varel dan Shila melihat ke arah Vivi


"hehehe..! ". cengir Vivi malu-malu


Nando berlari dengan senternya juga hingga bertemu dengan Varel.


"kau bawa mobil? ". tanya Varel


"bawa tuan.. !" jawab Nando menunjuk ke arah barat.


.


.


di dalam mobil

__ADS_1


Nando nyetir mobil sementara Vivi disamping Nando curi-curi pandang menatap kemesraan Varel dan Shila dibelakang mereka, Nando meliriknya hingga Vivi tersadar dan dengan cepat meminta maaf dengan bahasa bibir tanpa suara lalu melihat arah lain.


"bagaimana Papa om? ". tanya Shila


"papamu tidak tau..! aku mengatakan kalau kamu ada di puncak bersamaku, aku juga sudah menutup mulut orang-orang terakhir bersamamu, tidak ada media yang berani menerbitkan artikelmu yang hilang diculik si bedeb*h gila itu.. pihak polisi sudah bekerja sama denganku supaya masalah ini tidak bocor ke publik". jelas Varel panjang X lebar.


"jadi kita ke mana om?". tanya Shila


"sesuai kata-kataku pada Papamu". jawab Varel


"puncak? ". tebak Shila dibalas anggukan oleh Varel yang mengelus kepala Shila.


"aku sudah minta dokter pribadi kami datang ke puncak untuk memeriksa keadaanmu". ujar Varel


Shila diam sambil mengangguk pelan melihat arah lain, Varel menyibakkan rambut Shila dan Shila melihat ke arah Varel.


"aku akan singkirkan pria itu untukmu..! jangan takut ya? ada aku yang akan melindungimu". kata Varel


Shila mengerjabkan matanya lalu tersenyum sambil mengangguk pelan karna ia percaya kata-kata Varel, sungguh menenangkan hati Shila.


di puncak bogor


Varel menggendong Shila yang tertidur dan dr. Gibran berlari ke arah Varel lalu berdecak kagum melihat Shila.


"Boneka hidup..! dia benar-benar dewi tahun ini Tu...? kata Gibran menggantung saat melihat Varel yang menatap dingin padanya.


"lakukan tugasmu dengan benar jika tidak ingin aku sepak ke pulau cacing". kata Varel dengan ketus sambil berlalu meninggalkan Gibran


Gibran menelan salivanya bersusah payah, Gibran juga teman dekat Nando yang otomatis dekat juga dengan Varel jadi tau tentang Pulau Cacing itu.


"cuma memuji gadisnya saja membuatku terdampar ke pulau cacing, bagaimana jika aku menatapnya? dasar bucin! ". umpat Gibran


Nando keluar dari mobil tersenyum tipis menepuk-nepuk bahu Gibran.


"kenapa? kau juga mau melapor pada Tuan Muda? ". tanya Gibran ke Nando


"Tuan Muda memang Bucin terhadap dewi tahun ini". jawab Nando merangkul Gibran dan membawanya masuk.


"hmmm.. sangat.. Tuan Muda sangat mengerikan..! kasihan boneka hidup itu pasti menderita dikekang oleh Tuan Muda kejam yang kini beralih profesi jadi pria tukang cemburu yang begitu bucin". gerutu Gibran dibalas kekehan oleh Nando.


Vivi sudah mengikuti Shila yang digendong oleh Varel tanpa berbicara, ia takut membuat marah Varel karna yang bisa menjinakkan Varel itu hanya Shila sementara Shila sedang tertidur pulas.


.


.


.


selamat beraktifitas...!!


.


.

__ADS_1


__ADS_2