
.
.
"om ngomong apa sih? ". Shila berdecak tak suka
"aku takut terjadi sesuatu dengan cinta kita sayang, aku heran kita baru saja berbahagia karna saling mencintai tapi kenapa masalah ini muncul dan aku...? "
"ssstttt....!!". Shila meletakkan jari telunjuknya di bibir Varel.
"om! aku tidak pernah menyalahkan om, aku gadis yang kuat dan aku bisa mengatasi masalah ini apalagi dengan bantuan pacar kerenku ini". Shila tersenyum
Varel tersenyum lembut, "kamu hanya menghiburku sayang, terimakasih tapi aku tetap tidak bisa tenang sebelum masalah ini ku atasi".
Shila mengangguk lalu memeluk Varel dengan manja, "aku sangat menyukai wangi om". bisik Shila dengan gemas
Varel memcium sayang puncak kepala Shila dan mengulas senyum, namun matanya itu melihat ke arah depan seolah sedang menelisik pelaku yang sebenarnya.
"aku tidak tau tujuanmu tapi tidak akan ku biarkan kau merebut milikku". batin Varel memeluk Shila semakin erat namun tidak membuat Shila merasa sesak nafas.
Shila tersenyum manis di pelukan Varel, ia memang polos tapi binatang buas saja bisa ia hadapi apalagi hanya masalah seperti ini saja, selagi tidak nyaman dirinya berhadapan dengan fans tidak masalah karna menurutnya lebih nyaman lagi menghadapi musuh yang jelas bukan fans.
.
Varel menghubungi orang suruhannya dan ternyata orang itu kehilangan jejak, "sial..! "
"Tuan.. sepertinya mereka dari kalangan geng Ular Kobra". kata Pria ujung telfon
"apa maksudmu? bicaralah yang jelas jangan menggantung kata-kata". decak Varel.
"itu adalah geng kecil dari kalangan dunia hitam Tuan, mereka sangat mahir bersembunyi dan jago menipu daya lawannya untuk keuntungan mereka semata".
Varel mengumpat, "aku tidak peduli dia dari geng ular piton, ular sendok atau Ular sawah sekalipun, kau harus cari mereka sampai dapat kalau bisa kau cari tim dan aku akan bayar harganya yang stimpal dengan kepuasanku".
"baik Tuan". jawab orang itu
Varel mematikan panggilannya secara sepihak, ia berjalan mondar-mandir dan memukul dinding disampingnya dengan marah hingga tangannya memerah mengeluarkan darah.
"siapa yang berani bermain-main denganku". gumam Varel dengan mata berapi-api
.
"Shila.. ada seseorang mau menemuimu".
Shila menoleh dan melihat mobil Varel yang sama seperti malam itu, "siapa dia? ". batin Shila
"sepertinya Tuan Muda tidak mau keluar..! coba datangi Shila". kata wanita yang lain
Shila tersenyum untuk menutupi rasa gelisahnya saja lalu pergi ke arah lain mengabaikan mobil itu.
__ADS_1
"aku tidak mau percaya begitu saja, bisa saja itu pelakunya dan aku tidak berani menemuinya seorang diri". decak Shila
sore harinya, Varel datang dengan penampilan culunnya ia kaget melihat mobil dirinya ada disana hingga matanya terbelalak dibalik kacamata tebalnya.
"apa dia pelakunya? tapi aku sedang menyamar". gumam Varel yang menyamar menjadi Leo
Varel tampak berpikir dan akhirnya ia meraba kantongnya ternyata ada alat GPS yang sedang ia bawa untuk diberikan pada Shila, tapi malah menyimpang karna ada hal yang lebih penting.
Varel berjalan tenang ke arah mobil itu lalu tersungkur pura-pura terjatuh dengan cepat ia mengeluarkan alat GPS itu dari kantong celananya dan menancapnya dibalik mobil itu tak lama setelah itu ia bangkit mengusap-ngusap bajunya dengan kesal sendiri.
"dasar bodoh Leo..kenapa kau bisa tersungkur? ". marah Leo seolah merutuki kebodohannya sendiri
"waah.. ini mobil Tuan Muda Varel ya? kenapa bisa disini? apa Tuan Muda Varel ada disini menemui Nona Shila? ". Varel berakting sebagai Leo si pria norak meraba mobil Varel.
"sedang apa kau Leo? ". teriak seseorang
"tidak ada.. Tuan Muda Varel disini ya?". tanya Varel yang menyamar sebagai Leo
"tidak ada, Tuan Muda tidak ada disini mungkin saja Shila yang membawanya". teriak orang itu
Leo berlari dengan gaya culunnya memasuki tempat lokasi syuting Shila, ia tersenyum tipis menyiratkan kesan misteriusnya.
.
"kenapa tangan om? ". tanya Shila memegang tangan Varel.
Varel tersenyum, "aku hanya marah dan melampiaskannya pada dinding". jawab Varel tersenyum lebar
"tidak apa sayang". jawab Varel senang menatap Shila
Shila mendengus, ia menarik lengan Varel dan duduk di sofa nya lalu mengambil kotak obat dari bawah meja sofa.
Varel menatap Shila saja tanpa mengalihkannya sedikitpun, Shila dengan telaten merawat luka Varel lalu membalutnya dengan perban baru.
"udah selesai". Shila tersenyum melihat tangan Varel sudah terbungkus dengan rapi sementara tadi hanya memakai sarung tangan saja untuk menutupi lukanya.
"terimakasih sayang". ucap Varel
"om.. " panggil Shila
"apa maharaniku sayang? ". tanya Varel
"apa om akan memanggil namaku Shila? ". tanya Shila penasaran sebab ia sudah terbiasa dipanggil Maharani atau sayang oleh Varel.
"jika ada yang memanggilmu Shila itu artinya orang itu bukan aku sayang". jelas Varel berkata dengan serius
Shila terkejut, "kenapa begitu om? bukannya itu memang namaku? ". tanya Shila heran
"ya sudah..! tidurlah sayang..! aku harus kembali dan menyelesaikan pekerjaanku". Varel
__ADS_1
Shila mengangguk dan Varel mengecup pipi Shila dan menggenggam tangan Shila keluar rumah.
"tidak usah sampai gerbang sayang, disini saja". Varel menahan Shila didepan pintu
"aku pergi ya?". Varel
Shila mengangguk dan melambaikan tangannya.
sepasang mata tengah melihat dari balik semak-semak, ia bersembunyi dengan sangat baik demi melihat interaksi kedua pasangan manis itu.
"tunggu saja..! aku akan menggantikanmu". gumam Pria itu tersenyum sinis
sesampainya di Mansion, Varel membuka laptopnya dan terkejut saat melihat titik terakhir GPSnya.
"apa ini? jadi dia mengikutiku? ". gumam Varel tak percaya dirinya begitu ceroboh tidak menyadari hal itu.
Varel dengan cepat menelfon Shila dan meminta kekasihnya untuk tetap didalam Rumah, Shila mengiyakan karna dirinya memang tidak berniat keluar Rumah, setelah itu Varel mengirim aplikasi khusus ke ponselnya untuk terhubung ke GPS nya yang terpasang di mobil itu.
"sebenarnya siapa dia? kenapa dia mengikutiku? apa dia memata-mataiku saja? lalu kenapa dia menunggu disana saat itu? ". decak Varel merasa heran
ditempat lain,
Nando tidak bisa menemukan pelakunya, setiap kali Nando mencari tau jawabannya akan sama yaitu Varel sendiri, Nando tidak mengatakannya pada Varel karna tidak mau dianggap bodoh dan tidak becus.
mana mungkin Varel mengikuti kekasihnya sendiri sementara Shila itu memang miliknya, ada yang ganjal di sini tapi Nando tidak bisa menemukan jawabannya.
"siapa dia? kenapa semua CCTV tidak ada? dan semua bukti yang kucari kenapa berakhir pada Tuan Muda? tidak mungkin Tuan Muda pelakunya kan? ". geram Nando yang tak bisa menemukan buktinya
"Nan... ". Izal memanggil Nando
"iya..! kenapa? ". tanya Nando melihat ke arah Izal
"apa Varel pernah ke Hotel? ". tanya Izal dengan serius
"tentu saja pernah". kekeh Nando
"maksudku bukan dulu-dulu tapi kemarin". jawab Izal
"hah? kemarin?". Nando
"ya.. aku melihat Varel masuk ke hotel, saat aku memanggilnya ternyata aku kehilangan jejaknya". kekeh Izal
Nando terdiam, "kau yakin itu Tuan Varel? ".
"kenapa kau bertanya seperti itu? apa kau fikir mataku bermasalah? ". tanya Izal dengan kesal.
.
.
__ADS_1
.