
.
.
di tempat lain
"Apaaa? ". pekik Vivi namun terbelalak seketika ia segera menutup mulutnya
"kenapa kau suka sekali berteriak?". tanya Ariel mengucek telinganya
"maaf Tuan, ta.. tapi saya tidak bersalah, tuan yang mengagetkan saya dengan permintaan aneh Tuan itu". cicit Vivi
"aku harus pulang, ada rapat penting nanti malam". jawab Ariel
"iya Tuan, silahkan saja Tuan pergi tapi kenapa bawa-bawa saya? ". jawab Vivi namun melihat tatapan tajam Ariel membuatnya menciut.
"kau yang bawa mobil, aku mau tidur". jawab Ariel
"Tap...? "
"Tapi-tapian apa lagi? kau mau aku melakukan apa? apa perlu aku bakar Kampus adikmu? ". tanya Ariel mengancam
Vivi dengan cepat menggeleng kepalanya, "i.. iya Tuan saya akan ikut Tuan ta.. tapi... ".
"Tapi apa lagi? apa kau tidak bisa berbicara hal lain heh? setiap kali kau berbicara denganku pasti berteriak, matamu suka melotot dan sekarang kau suka berbicara tapi.. tapi.. apa bagusnya kata tapi itu hah? ". Ariel mengomel dengan tatapan datarnya.
Jika ada Aham dan Rion disini (Orang setia Ariel) pasti mereka sudah pingsan berdiri mendengar perkataan Ariel yang pemecah rekor sepanjang 27 tahun lamanya Ariel hidup.
biasanya Ariel berbicara panjang X lebar hanya mengenai bisnis, dendam saja tidak ada hal lain tapi sekarang Ariel bisa mengomel dan hanya Vivi si gadis cerewet namun penakut itu saja yang bisa membuat Ariel seperti itu.
"cepat jalan..! ". titah Ariel
"adikku bagaimana Tuan? ". protes Vivi dengan cepat menepis tangannya sendiri hingga Ariel hanya menggapai angin.
"kau ini bawel sekali, cepatlah..! dia akan baik-baik saja, ada gadis berkaca mata tebal itu bersamanya". Ariel mendekat dengan tatapan tajamnya menarik tangan Vivi membawanya pergi.
Ariel memakai masker putih juga Topi putih itupun atas kemauan Vivi yang alasannya banyak sekali jika membawa Ariel, malu lah, tidak mau ambil jalan pusing lah, dan banyak lagi alasan Vivi.
"Tuan.. Tunggu..! tunggu adik saya Tuan". Vivi memegang pintu seolah sedang menghalangi Ariel yang hendak membawanya kabur tanpa mengatakan apa-apa pada adiknya.
Ariel berdecak, "5 menit".
Vivi tersenyum senang lalu melepaskan tangannya secara perlahan dari tangan Ariel.
"Ya Tuhan... kenapa dengan Tuan Ariel ini? apa otaknya bermasalah? katanya ada hal penting disini tapi aku lihat dia tidak pernah keluar dari Rumah ini, apa pekerjaan Online? lalu kenapa harus jauh-jauh pergi kebandung?". batin Vivi
"Dek.. cepat balikk..! kakak tidak bisa menahan Tuan Gila ini jika kamu belum datang juga 5 menit lagi". batin Vivi gelisah
Ariel melirik Vivi yang sibuk menggigit bibir bawahnya, mata Vivi terlihat celingak-celinguk mencari seseorang, dan kaki Vivi yang tak bisa diam.
__ADS_1
"3 menit". ujar Ariel
"apaa..? kenapa cepat sekali? 1 menit belum berlalu tuan jangan curang". kesal Vivi lalu mengeluarkan ponselnya menelfon adiknya.
Ariel menyandar di dinding bersidakap dada menatap Vivi yang tidak ada istimewanya sama sekali tapi kenapa Ariel bisa terpincut? apa pesona gadis ini? apa bibirnya? bibir yang suka mengoceh tanpa rem bahkan bisa berbicara panjang X lebar dalam 1 paragraf dan dalam satu tarikan nafas.
"hmmff...? ". Ariel menahan tawanya seketika
Vivi menatap kesal ke Ariel, ia benar-benar kehilangan sopan santunnya sekarang karna ia tidak bisa menahan diri untuk berbicara sopan pada Ariel, takut? tentu saja takut tapi ia bisa berlindung dari Shila kan? siapa suruh Ariel terus mengusik rakyat jelata sepertinya.
"kau lucu". Gumam Ariel
"tidak lucu tuan". jawab Vivi dengan mata melotot tak senang.
Ariel tertawa dibalik maskernya membuat Vivi semakin kebakaran saja hatinya, ia tidak menyangka Ariel segitu menyebalkannya terus saja tiada henti mengganggu ketentramannya di Rumah ini bersama adiknya.
.
"tidak apa kak..! aku sudah bisa mandiri, lagian kakak sudah membelikanku mobil, rumah juga kontrakannya sudah aman, biaya kampus juga, semua sudah baik-baik saja kak, aku harap kakak baik-baik saja disana ya? ". Vika tersenyum lebar menatap Vivi
"maafkan kakak ya dek..! kakak tidak tau kalau Tuan Ariel akan semenyebalkan ini". bisik Vivi
"iya kak.. Tuan Ariel mungkin suka sama kakak". celutuk Vika berbisik pula
Vivi tertawa terbahak-bahak seketika sedangkan Vika hanya tersenyum menatap kakaknya yang hatinya seperti berlian menurut Vika sama dengan Shila.
"kenapa kakak ketawa? ". tanya Vika
"cepatlah..! kau kehabisan waktu". Ariel mengetuk pintu Rumah
"eh.. lihat.. dia sangat tidak sabaran". Vivi menangkup pipi Vika yang tertawa cekikikan.
.
Vivi mencium pipi Vika lalu mengelus kepala adiknya, "jaga dirimu baik-baik dek, jangan pacaran sama siapapun, kakak nggak suka kamu jadi baby sugar ok? apapun yang kamu butuhkan bilang sama kakak, nanti kalau udah sukses kakak yakin jodoh itu pasti datang".
Ariel tersenyum tipis mendengar omelan tak masuk akal itu bagi Ariel tidak bagi yang lain.
"iya kak.. kakak hati-hati ya? jangan ngebut". Vika melambai ke kakaknya
"jaga dirimu". ucap Ariel singkat
"iya Tuan.. hati-hati". balas Vika melambai ceria
Vivi masuk ke mobil Ariel dan memasang seatbeltnya, ia dengan cepat menghapus air matanya saat mobilnya mulai meninggalkan area perumahan mewah itu.
"kau cengeng sekali". ejek Ariel
Vivi diam tanpa menoleh
__ADS_1
"heii.. kau marah? ". tanya Ariel
"....?". Vivi tidak menjawab masih diam
"kau mau aku turunkan disini? ". ancam Ariel
" ..... ?".
"terserahmu saja, bangunkan aku kalau sudah sampai". Ariel membenarkan kursinya lalu memejamkan matanya untuk istirahat.
"dia bukan atasanku tapi kenapa tingkahnya bisa semena-mena denganku? apa dia seperti ini karna tidak ada Tuan Nando? dasar Tuan pesuruh, keras kepala, jahat, batu, iya.. dia batu, tidak menyenangkan sama sekali". batin Vivi menyumpah serapah
"apa perlu aku memukul kepalanya supaya dia sadar kalau aku ini Manager Shila bukan Asistennya". batin Vivi
muka Vivi sudah merah padam, ia benar-benar belum puas bersama adiknya tapi Ariel yang berkuasa suka-sukanya saja mengatur Vivi seolah Vivi bawahannya padahal Vivi digaji oleh Heri dan Shila.
.
"Tuan? ". Vivi memanggil Ariel
"Tuan? kita sudah sampai! ". Vivi bersuara lagi
"aduh.. gimana cara banguninnya?". gumam Vivi kebingungan
"Tuaaaannn? ". jerit Vivi lalu ia terbatuk-batuk seketika
"ckk.. suaramu jelek sekali". ketus Ariel tapi masih dengan mata terpejam
"uhukk.. uhuk.. ! anda sudah bangun Tuan? ". tanya Vivi
"hmm". Ariel
"kalau begitu saya mau pulang ke Rumah saya". Vivi mengelus lehernya lalu hendak turun namun matanya terbelalak saat tangan Ariel memegang pergelangan tangannya.
"panas..? tangan Tuan Panas sekali? ". Vivi melihat tangan Ariel tanpa menyentuh
"bisakah kau bawa aku ke Rumahmu? sepertinya kepalaku sakit". pinta Ariel
"eeh..? iya Tuan". Vivi kembali memasang seatbeltnya.
.
.
.
Hehehe.. ketagihan Nae bikin Part mereka, dan juga Varel dan Shila masih baik-baik aja nih..hehe..
.
__ADS_1
.
.