
.
hari-hari berlalu begitu cepat hingga tidak sadar Ariel melupakan balas dendamnya pada keluarganya sendiri.
dirinya merasa hidup berada diantara keluarga kandungnya itu, walaupun Jessy mengomelinya dan mengejeknya anak lampir tapi mommynya itu akan menjadi dokter paling utama yang merawatnya saat sakit, Ariel pernah bekerja lembur selama 2 hari berturut-turut hanya untuk mengurus perusahaan keluarga Desi yang berani menjebak dirinya di hari itu, ia jatuh sakit dan saat itulah Ariel luluh dengan kasih sayang Jessy yang ada disaat ia butuh walaupun terkadang mereka bertengkar mulut tapi Jessy dengan telaten merawat putranya itu.
"bagaimana nak? apa sudah baikan? ". tanya Jessy mendekat dan meraba kening putranya
Ariel memejamkan matanya seakan merasakan rasa hangat mengalir dihatinya mendapat perhatian dari emak lampirnya itu.
"abang kenapa mom? ". tanya Frans tiba-tiba datang
"biasalah abangmu demam 2 hari tidak tidur". jawab Jessy membawa putranya duduk dan memberikannya bubur
"makan bubur lagi? hahaha". Frans mengejek abangnya yang sudah 4 hari makan bubur
"diam..! ". Ariel dan Jessy membentak Frans yang terdiam seketika, wajahnya berubah masam sambil meminum jus.
"makan bubur ini sayang.. terus minum sup ayam ini, kamu suka kan? ". Jessy mengelus kepala Ariel
Ariel mengangguk lalu dengan patuh makan bubur, Ramon duduk disamping Frans lalu menyenggol bahu putra bungsunya itu sambil bertanya lewat sorot mata seolah pertanyaannya ada apa dengan abangmu begitulah yang ditangkap oleh Frans.
"demam". jawab Frans dengan santai hingga dapat tatapan tajam dari Ariel
"jangan terlalu memaksakan diri nak..! ini semua salah Papi yang membuat anak Pak Roza berani berbuat gila seperti itu". Ramon
Ariel melihat Ramon seketika, "Papi tau? ".
"tentu saja..! Pak Tua itu datang ke papi memohon ampun padamu yang mempersulit perusahaannya". jawab Ramon
Frans sibuk makan tanpa berniat ikut campur, ia lebih suka berpetualang dari pada di suruh membaca berkas Perusahaan abangnya itu yang seperti obat tidur bagi Frans.
Jessy mendengarkan pembicaraan Ariel dengan Ramon.
"aku tidak akan mengampuninya pi..! dia berani menjebakku dan untuk itu mereka harus membayar mahal semua itu". jawab Ariel dengan tegas
"Papi mengerti nak..! lakukan apa saja yang menurutmu benar". jawab Ramon tersenyum tulus karna tau putranya sangatlah cerdas dan kompeten.
__ADS_1
Jessy mengelus kepala Ariel hingga Ramon menaikkan sebelah alisnya.
"tumben kamu akur dengannya sayang? ". tanya Ramon merasa heran
"entah kenapa aku merasa kerinduanku begitu besar semenjak anak lampir ini tiba Pi.. aku merasa anak kita ini adalah anak kita yang hilang dulu". ucapan Jessy membuat Ariel terbatuk-batuk seketika
Jessy dengan cepat mengambilkan air minum lalu memberikannya pada Ariel,
"bagaimana nak? apa udah baikan? " tanya Jessy
Ramon dan Frans saling pandang tidak mengerti tapi Frans lah yang paling terlihat tidak mengerti karna dia memang tidak tau abangnya itu ada 2, keluarganya tidak pernah membahas kejadian 27 tahun yang lalu
"apa maksud mommy? ". tanya Ariel
"tidak ada nak..! makanlah sup nya..! bukankah kamu suka? hmm? ". Jessy mengambilkan sup ayam nya dan memberikannya ke Ariel
Ariel menerima sup itu, walau gugup ia berusaha bertindak seolah tidak tau apa-apa
Jessy mengantarkan Ariel ke luar Mansion dan memastikan putranya itu pergi, Jessy melambai seperti istri setia saja pada Ariel.
"ada apa sih sayang? kenapa semenjak dia sakit kamu berubah hmm? ". tanya Ramon penasaran
.
"katakan sayang? ada apa hmm? ". tanya Ramon mengusap air mata Jessy yang mengalir deras padahal mata istrinya itu sudah bengkak.
"a.. aku tau dia bukan Varel Pi.. " jawab Jessy sesegukan
"apaaa? " . Ramon dan Frans menyahut syok namun Frans yang terlihat lebih syok.
"bagaimana itu bukan Abang Mom? mommy jangan bercanda, dia abang ku Abang Varel yang sombong dan pelit eeh.. sekarang enggak pelit lagi sih". Frans
"apa maksudmu sayang? ". tanya Ramon
"t.. t.. tubuhnya banyak bekas luka dan itu sangat menyakiti hatiku pi.. hik.. hiks.. sejak kapan Varel anak kita memiliki luka seperti itu". jawab Jessy kembali menangis
"luka? ". beo Ramon dan Frans
__ADS_1
Jessy menceritakan hari dimana dirinya melihat tubuh Ariel tanpa baju, tentu saja membuat mereka syok sebab mereka tau Varel yang sebenarnya tidak pernah ada luka ditubuhnya ataupun bekas luka, Varel hanya punya 1 trauma yaitu saat diculik oleh wanita gila yang ditinggalkan suami hingga menculik anak orang lain.
Ramon terduduk lemas sedangkan Frans juga syok berat mendengarnya, ia akhirnya tau bahwa dirinya memiliki 2 abang yang tampan, jenius, dan pasti kepribadiannya berbeda menurut Frans.
Varel pelit meminjamkan apapun padanya tapi Ariel malah kebalikannya, pantas saja ia heran tak biasanya Varel mau meminjamkannya barang-barang mahal miliknya.
".j.. j.. jadi dia? ". Ramon tergagap
"iya pi.. di.. dia anak kita yang hilang 27 tahun yang lalu, hatiku seperti di tusuk-tusuk ribuan jarum tumpul melihat bekas luka di tubuhnya, bagaimana kehidupannya selama ini? a... a.. aku tidak bisa membayangkannya". isak tangis Jessy
"sayang.. itu bukan salahmu.. itu salahku. jangan tersiksa sayang.. akulah yang seharusnya menerima rasa sakitmu itu". Ramon dengan tangan gemetar memeluk Jessy
Frans bisa melihat penderitaan antara Ramon dan Jessy saat ini, ia tidak tau cerita sebenarnya tapi ia yakin ada rahasia besar yang begitu menyakitkan saat kelahiran abangnya itu.
.
.
sementara Ariel sibuk dengan pekerjaannya, ia terlalu menikmati hari-harinya menjadi penguasa Fox Group hingga melupakan Perusahaannya yang sedang di urus oleh orang-orang kepercayaannya.
"Tuan? ". Nando datang membawa Pak Roza yang mana pria itu adalah Ayah kandung Desi
"kenapa kau membawanya? ". tanya Ariel dengan datar dan dingin
"Tuan Roza bisa membuat kegilaan dibawah Tuan jika saya tidak membawanya menemui anda". jawab Nando dengan sopan didepan Roza ia sengaja bersikap sopan pada Ariel supaya siapapun tidak ada yang berani meremehkan Tuan Muda nya
"ck...! ". Ariel membuang muka
Pak Roza mendekati Ariel namun masih dengan jarak aman, "Tuan..? saya mohon ampuni saya, saya mohon jangan persulit Perusahaan saya lagi hanya karna Tuan tidak mau membantu saya".
"kau berani meminta hal itu padaku? kau sadar apa yang kau katakan? ". tanya Ariel dengan dingin
"saya sangat tau apa yang saya katakan Tuan, saya punya keluarga yang harus saya hidupi dan hanya anda yang bisa membantu saya". jawab pak Roza dengan fasih seakan tidak ada rasa bersalah.
Ariel tertawa keras hal itu malah membuat Nando berdecak akan keberanian Pak Roza, Nando sangat tau bagaimana sifat Ariel yang sama kejamnya dengan Varel dulu sebelum mengenal Shila.
.
__ADS_1
.
.