
.
.
Frans menutup hidungnya mencium bau amis Ruangan itu, sedang yang lainnya terlihat biasa saja malah Varel melihat sekeliling Ruangan itu.
"sudah lama kalian disini? ". tanya Varel
"tidak juga, mungkin sekitar 6 bulan". jawab Ariel
"jadi saat kau mengikuti Maharaniku kau baru datang?". tanya Varel
"hmm". jawab Ariel
"bagaimana kakimu saat itu? ". tanya Varel datar
"ck... sudah berapa waktu ini? kau baru menanyakannya sekarang? ". ketus Ariel
"bukankah aku sudah membayar hutangku, lagian mana aku tau kau kembaranku sudah jelas waktu itu kau mengikuti mobil, plat dan semua tentangku siapa yang tidak akan marah". kesal Varel
"kau percaya diri sekali, aku memilikinya karna aku suka mana mungkin aku menirumu dan kebetulan aku lihat plat mu berbeda denganku sekalian saja aku carikan yang sama untuk mengelabui kekasihmu". ketus Ariel
yang lainnya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"ckk.. itulah niatmu tidak baik". ketus Varel
"diam kau..! bersyukurlah pada Tuhan aku tidak menyukai gadis bar-bar seperti seleramu". kata Ariel
"huuh!". Varel hanya membuang nafas kasar
setibanya di dalam penjara sempit, terlihatlah oleh mereka seseorang yang berpenampilan begitu menyedihkan bahkan begitu kurus seperti nenek-nenek saja.
"mana si model bernama Desi itu? ". tanya Frans sambil menutupi hidungnya
"kenapa kau bawa aku kesini? ". tanya Varel dengan ketus
"apa dia wanitanya? ". tanya Ariel ke Jack
"benar Tuan". jawab Jack segera mengambil air dan menyiramnya ke wanita itu
"aaahhh". jeritnya terbatuk-batuk seketika
Desi melihat sekeliling lalu terbelalak melihat Ariel dan Varel ada di hadapannya.
"kalian...? ". marah Desi berjalan tertatih-tatih ke arah Varel dan Ariel namun rantai dikakinya membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"lepaskan aku..! ". teriak desi
"kenapa dia seperti nenek-nenek? ". tanya Frans heran
"dia sudah kehabisan cairan suntik kecantikannya Tuan". jawab Aham serius
__ADS_1
"apa?". sahut Frans kaget yang lain yang mendengarkan saja
"apa ada cairan untuk mempercantik diri? ". tanya Frans terheran-heran
"ada Tuan, wajahnya tidak cantik-cantik amat hanya menang menor, tubuhnya disuntik dibagian tertentu supaya mont*k dan berbentuk, cairan itu memiliki efek samping jika tidak diteruskan Tuan". jelas Rion
"iya Tuan.. wajahnya sudah rusak saat dia baru saja keluar dari penjara". sambung Jack
mereka sibuk berbicara sedangkan Desi sudah memaki dan menyumpah menatap penuh kebencian pada Ariel maupun Varel, Frans tidak tahan bau amisnya pun memilih keluar seorang diri.
"kalian benar-benar sampahh! ". jeritnya pilu
Varel terkekeh sedangkan Ariel tersenyum sinis.
"kau katakan aku sampah lalu kau apa?". ejek Ariel
"kau yang membuat dirimu dalam masalah, berani sekali kau menjebakku seperti itu, kau fikir hidupmu akan nyaman setelah bebas dari penjara? ". seringai Ariel
"dasar iblissssss...! kau iblissss...!". jerit Desi meronta-ronta
"kau tau aku iblis lalu kenapa kau tidak menjauh saat itu hah? ". ejek Ariel
Desi menjerit histeris, matanya merah menyala ingin sekali mencekik wajah Ariel sampai mati tapi tidak bisa, Ariel sudah menghancurkan segala impiannya saat keluar penjara hingga seperti sekarang harus menyiksanya seperti ini.
"lebih baik kau bunuh aku sialaaaannnn! ". teriak Desi
"terlalu mudah membunuhmu". kata Varel lalu berbalik melenggang pergi meninggalkan Ariel yang masih disana.
"apaa? ". teriak Desi semakin berapi-api
Desi semakin histeris di dalam sana, ia tidak menyangka hidupnya telah dipermainkan oleh Ariel yang tak lain seperti monster yang mengerikan baginya.
"tidaaaakkkk...! lepaskan akuuuuu!! lepaskan aku sialaannnn! lepassss". jerit Desi begitu pilu
Jack tersenyum miring menatap remeh Desi, "maka nya jadi manusia punya akal yang harus dipikirkan saat mencari musuh, sejak dulu Tuan Ariel sangat kejam bahkan setiap ada wanita jal*ng yang mendekatinya pasti akan dibunuh tanpa berkedip".
" berbeda jika Tuan kami sedang Geram, dia akan bermain-main dengan mangsanya seolah menunjukkan betapa bodohnya dirinya telah berani mempermainkan Tuan kami". sambung Rion
"bodoh..! ". umpat Aham
Desi semakin menjerit mungkin sebentar lagi ia akan kehilangan kewarasannya, entah sampai kapan Ariel mempermainkannya seperti ini, kapan ia bisa bebas? atau Desi akan mati ditempat ini? ini lebih buruk dari penjara.
.
.
di tempat lain
Shila mendapat undangan siaran TV, "apa aku datang aja ya? aku akan katakan pada semua orang kalau aku tidak akan muncul lagi di TV". gumam Shila melihat kartu undangannya
Shila keluar dari kamarnya berjalan ke arah Suryo yang hari ini jadi mandor, sebab Rumah Makannya sudah banyak pekerja.
__ADS_1
"Pa..? ". panggil Shila.
Suryo menoleh, "apa nak? ". tanya Suryo
"Shila ingin berhenti dari dunia modeling apa Papa tidak marah? ". tanya Shila
bukannya marah Suryo malah berbinar, "benarkah nak? iya.. kamu tidak perlu jadi model lagi ya? Papa sudah sembuh total dan saatnya kamu jalan-jalan keluar negri menghabiskan uang penghasilan Papa".
Shila terkekeh memeluk Suryo dengan manja, "Shila tidak mau ganti manager dan saatnya Shila ingin berumah tangga, apa Papa mengizinkan Shila? ".
"apaa? kenapa cepat sekali? ". tanya Suryo kaget
"Huhh.. Shila bosan bekerja Pa, Shila pengen kasih Papa Cucu yang lucu dan biarkan Shila malakin uang Om Raffan". kata Shila.
Suryo tampak berpikir, jujur saja ia memang sangat ingin punya cucu tapi putrinya masih muda dan ia tidak mau memaksa namun tiba-tiba Shila menawarkan diri ingin menikah cepat.
"apa kamu hamil sayang? ". tanya Suryo seketika
Shila membulatkan matanya, "mana mungkin Pa..! Shila tidak pernah berbuat seperti itu". bantah Shila
"lalu kenapa kamu ingin cepat menikah? apa karna Varel? dia memaksamu? ". cecar Suryo
"Kak Vivi sudah menikah dan Shila tidak mau mencari manager baru sementara Kak Vivi juga tidak mau dipecat oleh Shila Pa, dia masih bersikeras ingin menjadi manager Shila". jawab Shila
Suryo terdiam, "benar hanya itu saja? ". tanya Suryo
"iya Pa..! kak Vivi selalu ingin berbulan madu tapi impiannya ingin bulan madu bersama-sama dengan Shila Pa". kesal Shila
"hmm? ". Suryo tak mengerti
"Hehe..! Shila ingin merasakan hal baru Pa". jawab Shila malu-malu
Suryo tertawa, "kenapa kamu jujur sekali sayang? apa kamu lupa bahwa umurmu masih muda hmm? ".
"Shila sudah besar Pa, Shila sudah tamat kuliah dan bekerja juga sudah bosan, cita-cita Shila hanya 1 yaitu Papa sehat selalu dan itu sudah tercapai sekarang Shila ingin memberi Papa Cucu yang lucu, apa keinginan Shila salah? ". tanya Shila dengan polos
Suryo tertawa terbahak-bahak.
"baiklah nak..! Papa setuju jika kamu menikah tapi sebelum hamil harus periksa kedokter umurmu sudah bisa hamil apa belum? Papa tidak mau umurmu masih muda bisa berbahaya bagi keselamatanmu saat melahirkan". Suryo
"Shila sudah bertanya sama dokter Pa, katanya umur 17 tahun saja sudah bisa hamil apalagi umur 21 tahun". jawab Shila
"sudah.. sudah.. jangan bicara seperti itu didepan Varel, dia bisa saja kehilangan pertahanannya". peringatan Suryo memeluk Shila dengan sayang.
"Papa tidak memaksa Nak..! walaupun Papa ingin cucu tapi Papa tidak mau kamu terlalu memaksakan diri". kata Suryo serius dengan tutur kata lembutnya.
"iya Pa..! ". jawab Shila tersenyum lebar.
.
.
__ADS_1
.