
.
.
.
Frans membawa Raisa naik motor besarnya melewati kebun teh yang pemandangannya semakin indah disore hari.
dibalik pohon Eric melihat Raisa yang dibawa oleh Frans, "bagaimana bisa ini terjadi? jika dia sudah menikah berarti dia Raisa?? ". gumam Eric.
"apa Raisa akan meminta Tuan Frans memecatku? bagaimana kehidupan kami nanti? aku tidak punya pekerjaan lain selain disini". gumam Eric dengan kening mengkerut gelisah.
membayangkan Eric dipecat membuatnya takut, Eric harus meminta maaf pada Raisa dan memohon untuk tidak memecatnya.
sementara Frans membuat Raisa bahagia dengan berbelanja di Pasar, baju-baju disana murah namun bagi Raisa itu sudah mahal padahal kualitasnya lumayan bagus dari baju murah.
"tapi Mas..? ".
"tidak ada tapi-tapian..! kamu harus bayar dengan tubuhmu sayang". kata Frans yang entah sejak kapan sudah menjadi Pria mesum.
Raisa tanpa sadar mengerucutkan bibirnya namun Frans tidak melihatnya karna fokus membeli baju untuk Raisa di Vila, jadi jika pulang pergi tidak mesti bawa pakaian ganti lagi.
"dalam*nnya gimana?? bu' ada ukuran br* 40?". tanya Frans merangkul pinggang istrinya.
"40 ya Tuan? ". si Ibu menawarkan Br* cantik hingga Raisa yang tadinya malu kini sudah hilang entah kemana dengan senang ia memilah-milah dalam*nnya.
"bungkuskan semua yang dipegang istri saya bu". bisik Frans
si Ibu dengan cekatan dan senang mengambil semua br* yang di sentuh oleh Raisa mencarikan ukuran Raisa, emak-emak yang beli pun merasa takjub dengan Frans yang tau ukuran dalam*n istrinya berbeda dengan suami mereka.
"cel*n* d*l*mnya sayang? borong saja semua". pinta Frans
Raisa berwajah datar melihat belanjaannya hampir 2 plastik besar isinya hanya dalam*nnya saja, awalnya Raisa heran mengapa Ibu penjual tadi memegang setiap dalam*n yang Raisa pegang ternyata atas perintah Tuan Muda yang kaya miliknya.
"Mas? ini bagaimana??". tanya Raisa dengan kesal.
Frans terkekeh ia mengambil semuanya lalu menitipkannya pada seorang anak kecil seumuran Rumini.
"kamu kerja kan dek? bisa jagain belanjaan abang? nanti digaji bagaimana? ". tanya Frans
"bisa bang..! bisa". jawab gadis kecil itu dengan senang dan semangat.
Raisa sampai tak bisa berkata-kata melihat anak seumuran adiknya bekerja seperti itu, Raisa tidak merasa hidup mereka yang paling menderita karna ia yakin masih ada yang lebih susah darinya hanya saja ia dan adik-adiknya sudah berhasil melewati ujian itu berkat Vivi hingga bisa bekerja di Perusahaan Frans.
__ADS_1
"Mas..? ". Raisa terlihat kasihan ke anak gadis itu yang menjaga belanjaannya
"ayo sayang..! ". ajak Frans
Frans membawa Raisa bermain setelah puas ia kembali ke anak tadi yang memeluk barang-barang Frans dan Raisa sampai tertidur.
"dek..? ". panggil Frans
"eh..? ". Anak itu terbangun sambil celingukan hingga tersenyum kikuk melihat Raisa dan Frans
"maaf ya kami kelamaan". ucap Raisa mengangkat tangannya mengelus kepala anak itu
"tidak apa Nona, Tuan". jawab anak itu tersenyum cerah merasa bahagia akan mendapatkan upah.
Frans mengeluarkan beberapa uang ratusan ribu rupiah lalu menyimpannya ke saku baju Anak itu yang tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Frans dan Raisa lalu lari dengan raut wajah gembira.
"ayo sayang..! ". ajak Frans
"mas aku ingin menolong anak itu". kata Raisa serius
Frans melihat raut wajah Raisa yang terlihat sangat serius, ia tidak bisa mengelak harus menuruti permintaan Raisa.
malam itu juga Frans mendatangi sebuah perumahan kecil yang ternyata itu sudah menjadi milik keluarga anak itu.
"anak Ibu tadi kerja dipasar lagi". kata Frans
"maafkan saya Tuan, saya sudah melarangnya tapi dia datang membelikan saya baju hangat dan mengucapkan selamat hari ibu, saya tidak bisa marah padanya Tuan.. maafkan saya! ". ucap Ibu itu dengan kepala tertunduk.
Raisa jadi mengerti bahwa Frans lah yang telah membantu ekonomi Keluarga anak tadi, mungkin itu sebabnya Frans meminta anak itu menjaga belanjaannya.
di Vila
"Mas tau kalau anak tadi sedang mencari uang untuk bisa membeli hadiah pada Ibunya? ". tanya Raisa penasaran.
"setiap tahun dia akan melakukan hal itu sayang, terkadang aku rutin membayar orang untuk memberinya uang tanpa sepengetahuannya". jawab Frans
Raisa tersenyum senang, "Mas..? "
"hmm? ". Frans menoleh ke Raisa
Raisa mendekat lalu memegang bahu Frans, "sebenarnya apa kekurangan Mas? kenapa Mas selalu keren?".
Frans mengelus pipi Raisa, "sudah semakin berani ya? tidak malu-malu lagi hmm?? ".
__ADS_1
Raisa memeluk Frans dengan erat, "sama seperti aku yang saat itu ditolong Kakak ipar aku yakin Ibu dan anak itu akan mengingat kebaikan Mas sampai ia dewasa".
"hmm..!". sahut Frans melingkarkan tangannya di pinggang Raisa.
Raisa melepaskan pelukannya dari Frans dan mengatakan bahwa ia ingin menceritakan tentang keluarganya, awalnya Frans menolak karna hanya membuat Raisa sedih saja jika cerita masa lalu tapi Raisa bersikeras karna ia sudah siap.
Frans mendengar cerita Raisa pun tak menyangka Eric akan sebrengs*k itu, dulu saat bekerja di Kebun Teh bersama bos yang lama Eric mengaku jomblo atau single dan sesekali ke Kota untuk menemui Ibu nya, sungguh Eric Pria brengs*k saat tidak kembali lagi ke Kota dengan membuat alasan ibu nya telah menikah lagi hingga tidak butuh dirinya lagi.
"kamu mau aku pecat dia sayang? ". tanya Frans
"tidak usah mas..! aku hanya tidak mau bertemu dengannya, jika mas memecatnya sama saja aku menghancurkan hati anak itu, dia terlihat tidak tau apa-apa". jawab Raisa tersenyum menghapus air matanya.
Frans memeluk Raisa dan memberi ketenangan untuk istrinya,
.
.
pagi-pagi
Frans sedang bersantai meminum teh susu, ia menoleh ke arah pintu terdengar olehnya bel rumah.
"siapa pagi-pagi begini? ". gumam Frans terpaksa keluar Rumah.
Raisa sedang tertidur pulas sebab Frans membuat Raisa tidak tidur sampai pagi, Frans tidak mengganggu tidur istrinya karna ia tau istrinya lelah melayani hasr*tnya yang semakin menjadi-jadi setelah menikahi Raisa.
pintu di buka
Frans mengerutkan keningnya melihat Eric, "Pak Eric? ada apa? pagi-pagi gini datang ke Vilaku?".
"Tuan..? apa saya boleh bertemu dengan Nona Muda? ". tanya Eric
Frans bersidakap dada, "dia sedang tidur..! bapak tidak akan mengganggu jam tidur istriku kan? dia baru tertidur sekitar jam 6 pagi tadi".
Eric melihat Frans yang terlihat tidak tau siapa dirinya lalu Eric diam-diam merasa lega karna Raisa tidak memberitau Frans, ia pun pamit pergi.
Frans menutup pintu rumahnya lalu berubah dingin dan datar, ia sepertinya mulai tak senang pada Pria itu tapi alasan Raisa juga sangat mulia, Raisa tidak ingin ada anak yang bekerja banting tulang karna ayahnya tidak ada.
"ckk...!! masih punya muka dia bertemu dengan Keluarga istriku terutama Raisa, apa dia tidak sadar dengan kesalahannya? dia takut dipecat". decak Frans yang jujur saja merasa geram dengan tingkah Eric yang tidak merasa bersalah malah takut seolah tidak ingin kebusukannya terbongkar.
.
.
__ADS_1
.