
.
.
"hati-hati sayang! ". Varel mengelus kepala Shila
Shila tersenyum lalu memanyunkan bibirnya dan Varel dengan cepat ******* singkat bibir Shila, Shila melebarkan matanya.
"kenapa om curang? ". kesal Shila menepuk pundak Varel
Varel terkekeh, "kenapa aku harus menolaknya sayang? ".
Shila mengerucutkan bibirnya, "ya udah om sana kerja, cari uang yang banyak".
Varel tergelak hingga di tatap tajam oleh Shila, "maaf sayang".
"aku kerja ya? ". Varel menekan pelan kepala Shila
Shila mengangguk pelan.
.
Varel melambaikan tangannya saat Shila berbalik tersenyum manis padanya seolah tidak marah dengan kejadian sebelumnya, bukankah hal wajar bagi sepasang kekasih berciuman? dan Shila tidak bisa marah pada Pria yang telah menguasai separuh hatinya itu.
"aku ingin sekali cepat menikahinya". gumam Varel tersenyum melihat rambut Shila yang bergelombang berlari sangat cantik padahal Shila membelakanginya.
.
Varel mengeluarkan ponselnya setelah mengantarkan Shila, ia tiba-tiba mendapatkan panggilan telfon dari nomor asing.
"ini..? ". Varel teringat nomor ponsel yang pernah diberikan oleh Nando
"dia menghubungiku? ". gumam Varel mengangkat panggilan nomor asing itu.
"kenapa lama sekali? ". tanya Pria itu di ujung telfon
"kenapa kau menelfonku? ". tanya Varel dengan datar
pria di ujung telfon tertawa, "datanglah..! aku ingin membicarakan hal penting denganmu".
tut.. tut.. tut
Varel memejamkan matanya, "sebenarnya apa maunya? ". decak Varel yang merasa bingung saudara kembarnya ini musuh atau bukan.
jika Varel mengatakan musuh tapi tidak bisa dimusuhi karna saudara kandungnya sendiri, berbeda jika dia memang musuh yang jelas tidak sedarah.
Varel melihat pesan masuk dari nomor asing itu berupa alamat tempat janjian pertemuan mereka, Varel memutuskan untuk mendatangi kembarannya itu.
.
"tempat apa ini? ". gumam Varel mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
dengan was-was Varel masuk ke Rumah mewah yang berada di ujung jalan, ia memasuki Rumah itu sesekali matanya melirik kiri dan kanan.
"kau datang?".
Varel melihat ke atas dan terlihatlah Pria yang sangat mirip dengannya itu, Varel menaikkan sebelah alisnya melihat dasi Pria itu.
"apa kau kenal aku? kenalkan namaku Ariel Brimadirgantara". Ariel memperkenalkan diri sambil berjalan menuruni tangga
"kenapa raut wajahmu seolah sudah tidak terkejut lagi dengan kedatanganku hmm? ". tanya Ariel tersenyum miring
"apa maumu? ". tanya Varel merasa enggan memanggil abang sebab mereka hanya selisih menit saja.
"mauku? menggantikanmu". jawab Ariel membenarkan dasi di lehernya.
Varel menatap datar pemandangan itu, "itu dasi dari kekasihku bukan? ". tanyanya dingin
"ooh.. kau tau? aku sangat menyukai kekasihmu itu, rasanya menyenangkan mempermainkannya". kekeh Ariel
"kenapa kau melakukan ini? apa salahku padamu? ". tanya Varel
"salahmu itu karna hidup bersama mereka, hidupku menderita sejak kecil, di jual oleh para mafia hingga ginjalku tidak ada, aku melihatmu di TV saat hilang beberapa tahun yang lalu, aku menderita tapi orangtua itu tidak mencariku malah mencarimu, hidupku penuh dengan penderitaan tapi hidupmu malah baik-baik saja".
"kalian tidak pantas bahagia, aku akan balaskan semuanya! aku benci kalian semua". Ariel berkata marah juga dengan mata berapi-api
Varel menarik nafas dalam-dalam, "mommy tidak tau kalau kau itu ada, tapi Papi menutupinya demi kesehatan mentalnya dan kau harus tau hidup kami tidak sebahagia yang kau fikirkan".
"aku tidak percaya..! sejak saat itu dendamku semakin dalam pada kalian, aku berjuang hingga aku bisa membeli ginjal manusia lain dan aku kembali untuk membalas semuanya". Ariel
Varel sangat tau watak pria ini sangat mirip dengannya, bedanya Varel lebih terkendali sementara Ariel sangat emosian dan pendendam karna kesalahan mereka yang lalai.
"pergilah sejauh mungkin, aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan". kata Ariel tersenyum sinis
"lalu? kau mau apa dengan wajahku? ". tanya Varel dengan dingin
"itu urusanku..! aku akan hidup bahagia dengan kekasihmu". ujarnya begitu sombong
"dia sangat tau kita berbeda". kata Varel dengan senyuman miringnya
"kau fikir aku bodoh? aku dan kau itu seperti pinang dibelah dua, tidak hanya wajah, bentuk tubuh dan semuanya sama, dia tidak bisa membedakan ku dengan kau". Ariel
Varel tersenyum sinis, "Jika kekasihku menolakmu dan mengatakan membencimu atau menjauhimu, maka saat itu juga kau harus mundur sebagai pria sejati".
"siapa takut". Ariel terima tantangan Varel
"aku akan kembali". Varel berbalik
"aku yang akan kembali..! kau pergi sejauh mungkin". Ariel
Varel memutar kepalanya menatap Ariel dengan tajam, "apa aku juga tidak bisa membawa barang-barangku? kau fikir aku rela membiarkan barang-barangku kau gunakan? ".
"ck...! " Ariel berdecak
__ADS_1
Varel tidak melawan Ariel karna tau Ariel hidup menderita selama ini sementara mereka memang tidak tau apa-apa, apa yang Varel alami saat kecil tidak ada apa-apanya dibanding dengan masalah yang dialami Ariel sejak bayi hingga tumbuh menjadi Ariel yang angkuh, sombong, pemarah, penuh dendam dan kebencian.
.
"ck.. tidak ku sangka mudah sekali mengusirnya". senyum miring Ariel memainkan dasi pemberian Shila.
Varel bukannya mendatangi Mansionnya malah kembali ke kamar Shila,
"aaahh". Shila memekik kaget melihat kedatangan Varel
Shila menutupi tubuhnya, "om..? om ngapain kesini?". kesal Shila dengan mata melotot galak.
Varel mendekati Shila hingga Shila melangkah mundur dan mundur, "o..m.. om.. jangan macam-macam". cicit Shila dengan takut-takut
Shila memejamkan matanya merasa Kekasihnya sedang mencab*linya sebab Shila memakai pakaian tipis ternyata tidak, Shila membuka matanya saat Varel memegang tangannya dan mengusapnya lembut.
"om..? om kenapa? ". tanya Shila merasa gelagat Varel sangat aneh
"aku akan sangat merindukanmu sayang". gumam Varel menatap lama jemari lentik Shila
Shila membalas genggaman tangan Varel, "om ada masalah apa? ". tanya Shila merasa heran tak biasanya Varel seperti ini.
Varel memeluk Shila yang semakin kebingungan, entah apa yang terjadi dengan Varel.
"om kenapa? ". tanya Shila mengelus punggung Varel
"ku harap kamu bisa membedakan kami sayang". gumam Varel pelan nyaris tak terdengar padahal Shila sangat dekat dengan Varel saat ini.
"om ngomong apa? membedakan apa? ". tanya Shila
Varel memejamkan matanya terus memeluk Shila, "ayo kita tidur sayang..! "
Shila hendak marah melepaskan pelukannya dari Varel tapi melihat Varel tengah menghapus cepat air matanya membuat Shila semakin kebingungan.
"baiklah om". Shila menuruti kemauan Varel
Alhasil Shila tidur memeluk Varel malam ini, Shila tidak tau apa-apa hanya merasa ada yang berbeda dengan tingkah Varel malam ini tapi ia tidak tau apa itu.
keesokan paginya, Varel menatap Shila sampai sepuasnya.
muuaaah..!, kecupan sayang di kening Shila
"sayang.. aku mencintaimu! aku sangat mencintaimu, aku harap kamu percaya itu dan buatlah saudaraku berubah, hanya kamu yang bisa merubahnya, sama sepertiku kamu pasti bisa merubahnya kan? bunuh keangkuhannya dengan sifat bar-bar mu sayang". bisik Varel berkaca-kaca
ia harus menelan pil pahit ini, Varel tidak bisa melawan Ariel dengan cara keras karna tau jika melawan dengan keras maka hubungan mereka tidak akan bisa diperbaiki lagi.
sebenarnya Ariel hanya salah faham, dan Varel sangat tau itu sebelum semuanya lepas kendali alangkah baiknya Varel sedikit mengalah demi kebaikan Mommy, Papi, Shila juga dirinya, Jessy bisa kehilangan kewarasannya jika tau putra kandungnya sendiri bermusuhan dengan putra kandungnya yang lain.
.
.
__ADS_1
.