
.
.
Varel mengambil selimutnya lalu menyelimuti tubuh Shila, ia mengecilkan AC di kamarnya supaya tidak terlalu dingin hingga Shila bisa tidur lelap tanpa gangguan.
"papa..? ". racau Shila menarik lengan Varel yang membenarkan kembali selimut Shila
Varel mengerutkan dahi, "dia kelihatan kuat, siapa yang bakal mengira dia sangat manja pada Papanya, lihatlah baru tadi sore ditinggal Papanya dia sudah merengek seperti bayi". batin Varel penasaran dengan sosok Shila.
semua wanita itu sama dimata Varel tapi mengapa Shila berbeda, bagi Pria sepertinya bukankah Shila menarik? gadis angkuh, sombong dan kasar akan lebih menarik dibanding gadis sopan, manis, dan terlalu ramah yang sudah banyak Varel temui.
"Papa..? hiks.. hiks.. jangan tinggalkan Shila.. hiks.. hiks.. ". isak Shila menggenggam erat lengan Varel hingga Varel tidak tega pun memilih duduk di karpet dan memandang Shila yang tengah meneteskan air matanya.
Varel mengelapnya dengan ujung jari telunjuknya, "kau sama sekali tidak cocok menjadi gadis lemah!". batin Varel yang tidak suka melihat Shila yang terlihat rapuh saat ini.
Shila menautkan kedua alisnya, Varel awalnya tidak terlalu memperhatikannya namun kerutan itu semakin terlihat hingga Varel mengelus kepala Shila yang tenang seketika.
"apa dia mimpi buruk? keringatnya banyak". batin Varel.
Shila menggenggam lengan Varel, pada akhirnya Varel terlelap di samping Shila.
pagi-pagi buta
diam-diam Jessy masuk ke kamar Varel dan melihat penampakan itu, betapa bahagianya raut wajah Jessy, ia kembali masuk ke kamarnya dan memeluk Ramon yang masih tidur nyenyak, Ramon sama sekali tidak terusik oleh gerakan Jessy.
Shila menggeliat dan tersentak saat membuka mata ada Varel didekatnya, mata Shila melebar kaget.
"kenapa om ini bisa disini? apa dia tidak tidur di ranjangnya? ". batin Shila
Shila memperhatikan dirinya hingga dirinya tersadar tengah merangkul erat lengan kekar Varel, Shila membelalak melihat tangannya sendiri.
"Astagah...! Shilaaaaa?? apa yang kau lakukan?? kau sudah gila.. gila.. Shila gila". jerit Shila dalam hati.
perlahan Shila melepaskan tangannya namun gerakan Shila yang hati-hati tetap saja bisa membuat Varel terusik.
Varel membuka matanya dan bersitatap dengan mata Shila.
"Om..? ". cicit Shila tersenyum kikuk.
"kau sudah bangun? ". tanya Varel mengangkat tangannya tanpa sadar menekan kepala Shila
Shila mengerjabkan matanya, Varel duduk tiba-tiba ia meringis membuat Shila kaget lalu bertanya.
"om kenapa? ".
"pake nanya lagi, kakiku keram karna kedua tangan kecilmu itu memeluk erat sebelah lenganku, bahkan aku berusaha melepaskan diri kau malah menangis memanggilku Papamu".
__ADS_1
"masa sih om? ". tanya Shila memicing
"yaaa.. kau menangis dan bilang aku tidak boleh pergi, ck.. aku merasa lucu.. bukankah kau yang ingin Papamu berobat ke Jerman? lalu kenapa kau merengek seperti bayi padaku? kenapa tidak kepada papamu saja? ". gerutu Varel
Shila nyengir malu, "maaf Om..! kami kan tidak pernah terpisah jadi saat berpisah aku tidak terbiasa". ucap Shila
Varel terdiam menatap kakinya, ia tidak menyangka Shila meminta maaf karna hal spele padanya bukan masalah besar seperti jauh-jauh hari.
"aku bantu om ke Ranjang ya? ". Shila bangkit dan membantu Varel berdiri.
Varel menahan senyumnya melihat Shila begitu gigih membantunya berdiri.
"berat badanmu bahkan tidak sebanding dengan berat badanku, lalu kenapa kau berlagak kuat membantuku berdiri? ". ejek Varel
Shila mengabaikannya, ia tidak menyerah membantu Varel berjalan ke Ranjangnya lalu menjatuhkan Varel karna tubuh Om Tampannya itu memang sangat berat. sebenarnya Varel yang tidak mau berusaha walau sedikit hingga Shila semakin kesulitan membawa Varel.
"aah..! om berat sekali melebihi berat 10 karung beras!". decak Shila terlentang di samping Varel.
Varel menyanggah sebelah tangannya dengan posisi menyamping menatap Shila.
"kau bicara apa? apa kau pernah mengangkat 10 karung beras? ". ejek Varel
"tentu saja!" . jawab Shila serius menoleh ke arah Varel.
Varel tentu terkejut mendengarnya, "benarkah? ".
Shila mengaduh kesakitan sambil mengusap-ngusap keningnya, "aku tidak mungkin berbohong Om! aku memang berasal dari desa terpencil di sumatera barat". gerutu Shila
Varel tampak berpikir, ia baru mengingat data pribadi Suryono memiliki Padi di Desa nya dan akhirnya ia baru menyadari bahwa Shila tidak berbohong.
"kehidupan seperti apa yang kau jalani dikampung itu? kenapa kau sekarang tidak punya ponsel? ". tanya Varel
"aaaah...! iya.. Ponsel..! ". pekik Shila terduduk seketika lalu berlari meninggalkan Varel.
"dasar gadis aneh". umpat Varel lalu menyunggingkan senyum tipisnya.
.
.
"Tante? tante masak? kan Shila sudah bilang biar Shila aja yang masak". Shila melihat semua masakan enak yang dibuatkan oleh Jessy
"tante senang memiliki anak perempuan sepertimu Shila.. nanti sore kamu pulang cepat sayang? bisa temani tante belanja? ". Jessy
Shila tampak berpikir, "sepertinya tidak ada tan, tapi nanti Shila tanya lagi sama kak Agus tante".
"tante punya pertanyaan sayang? ". Jessy
__ADS_1
"iya Tante". sahut Shila membenarkan tempat duduknya sedang serius menunggu pertanyaan Jessy
"kenapa kamu memanggil Agus Kakak? tapi Putra Tante dipanggil Om? ". tanya Jessy
Shila tersentak lalu tersenyum malu, "tidak tau Tante, Om Varel pernah menabrak Shila saat berada di lorong Rumah Sakit, Shila kesal jadi memanggilnya Om karna kasar, hehe ".
Jessy terdiam, "kamu diapakan sayang? ".
"tidak diapa-apakan Tante, cuma bicara Om Varel saja yang menyebalkan dan terdengar kasar". jelas Shila
Jessy menghela nafas, "dia memang kasar kamu harus mengerti sayang, sejak kecil dia pernah di culik, dia berubah dingin dan kasar pada siapapun, sulit mempercayai perempuan karna dia pernah diculik perempuan".
Shila terhenyak mendengarnya, "diculik? ".
Jessy menceritakan pengalaman kecil Varel hingga Shila tertegun mendengarnya, ia tidak menyangka Varel seperti itu karna pengalaman kecilnya yang sangat menyakitkan.
"ternyata om itu punya masa kecil yang menakutkan ya? pantas saja dia membenci semua perempuan hingga melakukan hal hina seperti itu". batin Shila akhirnya terjawab sudah semua alasan Varel melakukan hal yang tidak manusiawi saat itu.
.
.
"tumben kamu mau beli Ponsel Shila? ". tanya Agus dengan centil
Shila tersenyum lebar melihat ponsel barunya merek Samsung terbaru buatan KorSel.
"mainannya ada kak? ". tanya Shila berbinar seperti anak kecil
"eeh.. ada Nona". jawab pekerja konter dengan kaget melihat sisi kekanakan sang juara PI Season 7 itu.
Agus hanya bisa mendumel sendiri karna Shila mengabaikannya,
"Shila..? bisa tidak jangan mengabaikan kakak? ". tanya Agus memegang pipi Shila.
Shila melihat ke arah Agus, "kakak mau nya apa sih?".
"nah gitu dong..! mau kakak jawab pertanyaan kakak.. Ok? ". Agus
"kak.. besok aja ya? sore ini aku ada janji dengan Tante Jessy!". pinta Shila memelas manja
Agus menjatuhkan rahangnya melihat kepergian Shila, "sepertinya aku harus membayar Manager baru untuknya, aku bisa gila mengekorinya".
.
.
.
__ADS_1