
.
.
hari-hari Shila lewati seperti itu hingga tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Shila menghubungi Suryono yang telah lama di Jerman.
"Papa?? ". panggil Shila berkaca-kaca melihat wajah Suryono yang tidak lagi sekurus 1 bulan yang lalu
"nak..? bagaimana kabarmu sayang? ". tanya Suryono dengan lembut terlihat sekali mata Suryono memerah menahan rindu pada sang putri yang selama 1 bulan ini tidak terlihat olehnya.
"Shila baik Pa..? papa bagaimana? apa keadaan Papa sudah membaik? ". tanya Shila menghapus sisa air mata harunya.
"papa baik nak..! maafkan papa tidak bisa Vidio call denganmu nak..! papa tidak diizinkan memegang ponsel yang memiliki radiasi tinggi". jelas Suryono
"iya Pa..! Mang Aji sudah menjelaskan semuanya pada Shila, Shila sudah TF uang ke Mang Aji, Shila mau Papa refresing selama 2 minggu disana belikan Shila banyak hadiah ya??". kata Shila dengan senyuman manisnya.
"2 minggu lama sekali nak..! kenapa tidak 1 minggu saja? ". tanya Suryono
"papa Shila beri diskon 1 minggu lagi karna Shila senang melihat Papa sembuh, nikmati hari-hari papa disana ya? Shila tau disana adalah tempat pertemuan Papa sama Mama kan?". senyum manis Shila membuat Suryono tersentak.
Shila tersenyum lebar berbicara dengan Papanya, bahagia jelas terpancar dari wajah Shila, bisa Suryono tebak Jessy begitu memanjakan putrinya hingga memancarkan aura seperti itu, dan mang Aji menjelaskan pada Suryono bahwa kasih sayang Jessy membuat Shila mengetahui rasanya memiliki ibu.
"Papa jangan pikirkan Shila disini ya? Shila bahagia kok bersama Tante Jessy, Tante sangat baik sama Shila dan yang lainnya juga sama, Shila sayang Papa jadi habiskan waktu disana mengenang Mama ya pa?? kapan lagi papa kesana? hehe..! ".
Suryono awalnya tidak mau tetap di Jerman namun penjelasan Shila membuatnya terenyuh, ia bangga memiliki Shila yang sangat dewasa, ia akan membelikan uang Shila untuk Shila juga.
Suryono memiliki tabungan walau tidak banyak tapi cukup untuk menjadi biaya nya selama di jerman untuk jalan-jalan membawa Mang Aji.
Suryono tidak mau menyusahkan putrinya yang banting tulang bekerja untuknya, jika bukan karna untuk sembuh Suryono tidak akan memakai uang Shila.
.
"Shil..? ". panggil Varel membuat Shila menoleh dan tertawa dengan mata berkaca-kaca.
"om..? Papa sudah sembuh". ucap Shila dengan nada gemetar dan matanya terlihat berembun seperti kristal sungguh cantik dimata Varel.
Varel mendekat dan mengelus kepala Shila, "jadi papamu akan pulang? ". tanya Varel terdengar tidak rela Shila akan kembali ke Rumahnya.
"belum om..! Shila meminta Papa untuk jalan-jalan disana". jawab Shila menghapus air matanya
__ADS_1
Varel menautkan kedua alisnya, "jalan-jalan? ".
Shila menjelaskan mengapa Shila meminta Suryono berobat di Jerman, alasan utamanya negara itu adalah awal pertemuan Suryono dengan Mamanya, Shila tidak melupakan kenangan masa kecilnya saat berumur 6 tahun sampai 7 tahunnya, ia juga sering mendengar cerita dari Suryono tentang sosok ibunya yang sangat mencintai Shila begitu juga Suryono.
"maaf..! kau pasti tau sesuatu tentang keluargaku kan? karna keluargaku kau harus kehilangan ibumu". ucap Varel yang tau alasan Ibu Suryono meninggal karna tidak terima jatuh bangkrut.
"kata siapa Mamaku meninggal karna keluarga om? Mama punya penyakit jantung yang selalu disembunyikan dari Papa, Papa mencintai Mama dan sangat ingin memiliki anak dari perempuan seperti Mama hingga aku hadir membuat penyakit Mama semakin parah tapi Mamaku tidak pernah menyalahkanku om, Om jangan merasa bersalah ya?? ".
"kau terlalu baik". Varel mengusap kepala Shila
"lagian ada hikmah dari semua itu kan? jika aku tidak tinggal di kampung aku tidak akan semandiri ini, aku pasti menjadi gadis manja yang tidak tau makna hidup". kata Shila dengan sombong membuat Varel terkekeh.
Varel tentu kagum dengan pribadi Shila, awalnya ia mengira Shila akan marah ternyata Shila sudah tau ceritanya, Suryono benar-benar mengagumkan bisa membuat Pribadi Shila sehebat ini.
"apa aku bisa seperti Papanya? aku bahkan tidak memiliki sifat Papanya walau setengah". batin Varel merasa insecure saingannya adalah Papanya Shila sendiri.
Varel yakin Suryono akan membencinya tapi mendengar penjelasan Shila membuatnya merasa yakin bahwa Suryono dan Shila tidak pernah menyesal mengambil keputusan untuk menyerah saat menjual perusahaan itu dibanding sebaliknya yaitu menjual Shila.
.
.
Nando mengkonfirmasi dengan Vivi, juga agensinya dan semua selesai semalam itu juga sementara Shila tengah terlelap di ranjang mewah Varel, ia lelah terus mengoceh pada buku diarynya yaitu Varel si manusia kutub yang hampir meleleh.
Varel mungkin tidak bisa seperti Suryono tapi Varel bisa menggunakan kekuasaannya untuk membuat Shila bahagia dengan upaya nya itu.
.
Shila menganga mendengar penjelasan Vivi ia ada kontrak kerja di Jerman.
"tapi pekerjaanku bagaimana kak? ". tanya Shila
"Tuan Muda memundurkan semua pekerjaanmu karna baginya iklan ini sangat penting dilakukan di Jerman". kata Vivi dengan semangat.
Vivi tentu senang ia pergi ke Jerman, liburan gratis membuat siapapun bahagia terutama gadis tak punya apa-apa sepertinya.
.
Shila berlari ke mansionnya dan mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
"sayang? ". panggil Jessy dengan heran melihat raut wajah Shila yang terlihat begitu bahagia.
"Tan? Om Varel dimana Tan? ". tanya Shila memegang lengan Jessy seperti ibu kandungnya sendiri.
"dia sedang berenang! ". jawab Jessy
Shila memekik senang lalu berlari ke arah kolam berenang hingga Jessy semakin terheran-heran di buatnya.
"Om...? " teriak Shila
Varel yang mengusap kepalanya dengan handuk pun menoleh, ia telah mengenakan jubah mandi namun rambutnya masih basah.
Shila tertawa senang berlari ke arah Varel lalu melompat memeluk Pria tinggi itu.
hap...!
Varel terpaku, ia tidak bisa bergerak.
"terimakasih om..! om sangat baik membuatku pergi ke Jerman, hehe.. aku janji akan balas om seribu kali lipat hutangku ini". Shila melepaskan pelukannya menatap Varel lalu kembali memeluk Varel tanpa beban.
Varel malah yang masih kaku lalu tangannya bergerak melingkar di pinggang kecil Shila dan tersenyum merasakan sensasi yang berbeda saat memeluk Shila.
"kalau begitu aku beres-beres ya om? bye...? ". Shila melepaskan pelukannya dari Varel lalu berlari meninggalkan Varel seorang diri yang masih terpaku ditempat.
.
.
di dalam kamar Varel terdiam ia teringat pelukan Shila, aneh? sungguh aneh, tapi mengapa Varel merasa belum puas memeluk Shila.
"Aku memang jatuh cinta padanya? ". batin Varel menatap belahan dada bidangnya yang bergemuruh hebat saat di peluk oleh Shila.
Varel akhirnya menyadari dirinya memang telah terpikat oleh keistimewaan Shila, gadis sederhana yang tidak tau akan cinta hanya tau mencari uang untuk kesembuhan Papanya.
.
.
.
__ADS_1