
Ditempat lain, Sisil dan Leo sudah sampai diparkiran kantor polisi dimana Dona sedang ditahan disana.
Leo segera menelepon Renal dan memberi tahukan jika iya sudah berada dihalaman kantor polisi tersebut.
Tut... Tut... Tut...
" Halo Tuan " ucap Renal
" Halo kamu dimana " tanya Leo
" Saya masih dikantor polisi, Tuan dimana " ucapnya
" Aku sedang dihalaman kantor polisi.. " ucapnya Leo
" Baik saya Kesana Tuan " ucap Renal
" Aku tunggu, jangan lama " ucap Leo menutup teleponnya
" Bagaimana mas, Renal dimana " tanya sisil
" Dia sedang menuju kemari " ucap Leo
Lima menit kemudian Renal sampai dihalaman tersebut dan segera menghampiri sang majikan
" Tuan " ucap Renal
" Dimana Dona " ucap Leo tanpa basa basi
" Ada didalam Tuan, mari saya antarkan " ucap Renal sopan
" Terima kasih Renal " ucap Sisil
" Sama-sama Nyoya " ucap Renal
Mereka segera masuk kedalam dan segera menghampiri sang petugas yang ada disana dan memberitahukan jika Mereka ingin bertemu dengan Dona
" Maf Pa, saya mau bertemu dengan tahanan yang bernama Dona " ucap Renal
" Baik Tuan saya akan panggilkan, Tuan dan Nyoya sebaiknya menunggu diruangan itu " ucap sang petugas sambil menunjuk ruangan yang tidak jauh dari sana
" Terimakasih pa " ucap Renal
" Sama-sama " ucap sang petugas
Sang petugas pun segera menghampiri petugas yang berjaga disana, bahwa ada yang mau menemui tahanan yang bernama Dona
" Siang Pa, saya mau memberitahukan jika diluar ada yang mau bertemu dengan tahanan yang bernama Dona " ucapnya
" Baik saya akan panggilkan terlebih dahulu "
" Baik Terimakasih "
Sang petugas segera menghampiri Dona dan memberitahukan jika ada tamu yang mau bertemu dengannya
" Saudari Dona, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda " ucap Snag petugas
" Siapa pa, apa dia pengacara saya " ucapnya Dona antusias
" Saya tidak tahu " ucap sang petugas
" Siapa yang datang, apa itu Om Heri atau siapa ya " batin Dona
" Mari silahkan " ucap Sang petugas segera mengborgol tangan Dona dan segera dibawa keruangan khusus untuk menemui tamu
__ADS_1
" Silahkan waktu anda hanya sepuluh menit " Sang petugas
" Terima kasih pa " ucap Sisil
" Sama-sama Nyoya " ucapnya sang petugas melangkah menjauh dari sana namun masih memantau dari kejauhan
" Duduk " ucap Leo dengan wajah ketus
" Mau apa mereka kesini.. aku harus menghasut bunda agar aku bisa keluar dari sini " batin Dona
" Om Leo.. lepaskan aku dari sini " ucap Dona sambil menangis
" Jangan harap " ucap Leo
" Bunda tolong Dona, lepasin Dona dari sini " ucapnya masih menangis tersedu-sedu
" Apa yang kamu perbuat itu jahat sekali " ucap Sisil
" Maksud bunda apa, Dona tidak mengerti " jawabnya memang tidak mengerti karena seingat dia yang dia tabrak bukan keluarga Leo
" Jangan pura-pura tidak tahu " bentak Leo
" Mas jangan bikin keributan disini, tenang " ucap Sisil berusaha menenangkan sang suami
" Baik mafkan Saya sayang " ucap Leo pada sisil
" Tante katakan kenapa Om Leo sampai marah-marah sama Dona " ucapnya Penasaran
" Kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu yang kamu tabrak itu Farel, anak pertama ku " sindir Sisil sambil marah
" Apa... Farel " ucapnya sambil meneteskan air matanya karena kaget dan terasa hatinya sakit, biar bagaimanapun Farel dan Dona lama berpacaran pasti ada rasa cinta pada Farel meskipun hanya sedikit
" Terus bagaimana keadaan Farel sekarang bunda " tanya Dona dengan wajah paniknya
" Mas kendalikan emosi mu " ucap Sisil
" Sudah tidak ada ampun baginya.. wanita murahan tidak tau diri seperti ini tidak usah dikasihani " ucap Leo dengan wajah marah
" Aku harus membawa Mas Leo pergi dari sini sebelum amarahnya memuncak " batin Sisil
" Nanti Kita bicara lagi sama dia, ayo kita pergi mas " ajak Sisil
Leo pun menahan emosi nya dan segera mengikuti langkah sang istri yang hendak melangkah pergi dari sana namun kaki Leo ditarik oleh Dona, Dona dengan segera bersujud pada Leo
" Om Leo sumpah demi Tuhan aku tidak tahu jika yang aku tabrak adalah Farel... " ucapnya bersimpuh dikaki Leo
" Dona bangun.. jangan begitu " ucap Sisil
" Sudah cukup kamu menggangu keluarga ku lagi, mulai detik ini jangan pernah lagi mendekati keluarga ku bahkan muncul dihadapan ku " ucap Leo mendorong Dona dengan kakinya hingga iya jatuh lagi kelantai
" Bunda... tolong maafkan aku " ucap Dona dengan segera bersujud dikaki Sisil sekarang
" Tolong bunda mafkan Dona.. sumpah demi Tuhan Dona tidak tau apa-apa, Dona kira orang lain yang Dona tabrak " ucapnya
" Semoga Sisil tidak terhasut oleh air mata buaya di dona " batin Leo
" Semoga Nyoya tidak memaafkan Dona " batin Renal
" Lepaskan " ucap Sisil
" Tidak bunda... aku tidak melepaskan kaki bunda sebelum bunda memaafkan aku " ucapnya Dona sambil menangis
Sang petugaspun menghampiri Dona dan Sisil berada.
__ADS_1
" Maf waktunya habis, Saudari Dona mari ikut saya kembali kepenjara " ucap sang petugas
" Aku ga mau... lepaskan aku " ucap Dona meronta-ronta ketika sang petugas hendak membawanya ke dalam sel penjara
" Ayo ikut saya, jangan sampai saya melakukan hal kasar padamu " ucap sang petugas mengancam Dona
" Sebaiknya aku nurut sebelum Dia melakukan hal kasar padaku " batin Dona
" Baiklah " ucap Dona menuruti perkataan sang petugas
" Kalau begitu kami permisi Tuan dan Nyoya " ucap sang petugas
" Silahkan " ucap Renal
Dona dan sang petugas kembali kedalam sel penjara sedangkan Renal, Leo dan Sisil segera menemui Pa Budi untuk mengucapkan terimakasih padanya
" Renal " panggil Leo
" Iya Yuan " jaeabnya
" Saya mau bertemu dengan Pa Budi " ucap Leo
" Baik Tuan saya tunjukan Ruangannya karena dari semalam saya meninggal disana " ucap Renal
" Kenapa kamu menginap disini " tanya sisil
" Karena semalam Tuan berpesan agar mengawasi Nona Dona, aku tidak berani jika pergi dari tempat ini " ucap Renal
" Ya ampun mas " protes Sisil
" Aku kan menyuruhnya mengawasi Dona bukan tidur disini " ucap Leo pada sang istri
" Yang dikatakan Tuan Benar, Nyoya tidak usah marahi Tuan " ucap Renal
" Baiklah " ucap Sisil
Merekapun sudah sampai diruangan Pa Budi, Renal segera mengetuk pintu ruangan tersebut
Tok... Tok... Tok....
" Masuk "
Ceklek,,
" Mari silahkan " ucap Renal
" Terima kasih Renal " jawab Sisil
" Sama-sama Nyoya " jawabnya
" Siang apa Budi " sapa leo
" Siang juga Tuan Leo, mari silahkan duduk " ucap Pa Budi
" Baik, terima kasih " ucap Leo sopan
Merekapun duduk diruangan Pa Budi, Leo pun memberikan amplop coklat kepada Pa Budi yang iya simpan diatas meja itu
" Apa ini Tuan " ucap Pa Budi heran
" Itu amplop coklat masa anda tidak tahu " cibir Renal
" Iya aku tau itu amplop coklat maksud saya ini amplop untuk apa " ucap Pa Budi
__ADS_1