Kisah Cinta Anak Kembar CEO

Kisah Cinta Anak Kembar CEO
Episode 27


__ADS_3

Kini waktunya makan siang pun dimulai, Ina segera membuka bekal yang dibawakan Mamah Yesi, iya sangat senang dengan masakan Mamah Yesi karena rasanya enak seperti memakan masakan sang bunda.


" Bunda, Ina kangen " ucap Ina dengan wajah sedih memandangi Foto di handphone nya


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan Ina, Ina pun meyuruh orang itu masuk.


Tok... Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


Ceklek,,


" Hai Ina " ucap Satria


" Hai, kamu ga makan dikantin " Tanya Ina


" Ga ah, ga seru " ucap membawakan buah-buahan


" Loh, memangnya kenapa " Tanya Ina sambil memakan makanannya


" Ga ada kamu " ucap Satria memandang wajah Ina yang sedang makan


" Maksudnya " ucapnya sambil menguyah makanan


" Karena sebagian semangatku ada pada dirimu " ucapnya satria masih memandangi wajah ina


" Uhuk.. uhuk "


" Makanya pelan-pelan kalau makan, lagian tak akan ada yang mengambil makananmu, ini minumnya " ucap Satria menyodorkan minuman pada ina


" Makasih " ucap Ina


Ina memakan makanannya kembali dengan perasaan berbunga-bunga pada satria, namun iya terlalu gengsi untuk memperlihatkan ya.


Tiba-tiba seseorang pun mengetuk pintu ruangan Ina, iya pun meyuruh orang itu masuk.


Tok... Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


Ceklek,,


" Dokter Andi " ucap Ina dengan wajah herannya


" Siang Dokter Ina, sudah makan siang " tanya Dokter Andi duduk didepan Ina dan disebelah Satria


" Ini saya lagi makan " ucap Ina


" Kalau begitu kita makan bareng " ucap Andi


" Sebel sudah ada mahluk yang satu ini, aduh bawaannya kesel mulu " batin Satria


" Eh ada Dokter Satria " sapanya didepan Dokter ina


" Dokter Ina ini saya bawakan daging salmon, pasti enak " ucap Dokter Andi hendak menyuapi Ina


" Em.. enak sekali " ucap Satria memakan makanan suapan Dokter Andi


" Dokter Satria, apa anda belum makan sampai harus memakan makanan punya saya " cibir Dokter Andi


" Yaelah, nyobain dikit kenapa " ucapnya Satria yang tidak suka


" Tapi itu tidak sopan " serunya


" Maafkan saya dok " ucap Satria Sambil memasang wajah sedih


" Dokter Ina saya juga bawakan piza buat kamu " Dokter Andi


" Makasih ya Dokter Andi jadi merepotkan " ucap Ina terseyum pada Dokter Andi


" Kenapa aku jadi ga suka liat Ina senyum manis pada Dokter Ani yang kegatelan ini " batin Satria


" Satria " pangil Ina


" Iya Ina cantik " ucap Satria keceplosan


" Apa, Ina cantik apakah satria juga menyukai Dokter Ina, wah dia sainganku ternyata " batin Dokter Andi


" Maaf Ina, aku keceplosan soalnya udah terbiasa manggil kamu dengan sebutan begitu " ucap Satria bangga didepan Dokter Andi


" Tidak apa-apa " ucap Ina terseyum


" Tadi kamu mau bilang apa " Tanya Satria

__ADS_1


" Kamu sudah makan " tanya Ina


" Apa aku ga salah denger Ina perhatian padaku, ya ampun aku seneng banget tuhan " batin Satria


" Ye,alah ngelamun " ucap Ina heran


" Em... belum Ina cantik " ucapnya berbohong


" Pantas saja, makan ini biar kamu ga sakit " ucap Ina menyodorkan pizza pada Satria


" Kalau ini mimpi aku ga mau bangun " batin Satria terlalu senang dengan perubahan Ina


" Loh, Dokter Ina gimana sih, itu kan pizza buat dia bukan buat satria cecunguk ini " batin dokter Andi kesal


" Tidak apa-apa kan dokter Andi jika satria yang memakannya " ucap Ina


" Sama sekali tidak, justru aku bersyukur kamu baik sekali tidak mau orang lain kelaparan " ucap Dokter Andi ketus pada satria


Merekapun melanjutkan makannya, Dokter Andi makan dengan perasaan kesal sedangkan Satria makan dengan perasan sangat kenyang karena sebenarnya iya sudah makan.


" Ina kamu sudah makanya " ucap Satria melihat kotak makanan Ina habis


" Iya " jawabnya


" Ini buah-buahan untukmu dimakannya " ucapnya satria


" Makasih " ucap Ina langsung membuka parsel buah-buahan tersebut


Ina pun mengambil buah apel, tak lupa iya cuci dahulu dan memakanya, begitu manis iya pun tersenyum


" Enak " ucap Satria


" Manis " ucap ina


" Aku sengaja belikan Apel, dan anggur saja karena itu buah kesukaanmu .." ucap Satria


" Maksih " ucap Ina sambil tersenyum manis


" Kalau dokter Ina suka buah-buahan besok-besok aku bawakan " ucap dokter Andi melihat wajah Satria


" Tidak usah repot-repot dok " ucap Ina


" Aku ga repot demi kamu " Dokter Andi melihat sinis pada satria


" Lihat saja, aku Takan kalah dari satria aku harus bisa merebut hatinya Dokter Ina dan membuat iya membenci Satria " batin Dokter Andi


Tok... Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


Ceklek,,


" Dokter Ina, siang ini anda ada jadwal mengoperasi pasien, anda sudah ditunggu di ruang operasi " ucap salah seorang suster


" Baik Sus .. segera saya Kesana " ucap Ina


" Satria, Dokter Andi maaf ya ini sudah waktunya praktek dan saya ada jadwal mengoperasi pasien, kalau begitu permisi" ucap Ina melangkah pergi


Sedangkan dokter Andi dan Satria saling bertatapan tidak suka.


" Jangan pernah dekati dokter Ina, dia akan segera menjadi calon istriku " ucap Dokter Andi dengan wajah kesal pada satria


" Jangan mimpi atau mimpimu ketinggian " ucap Satria kesal


" Saya peringatkan lagi jauhi Dokter ina " bentak dokter Andi melangkah pergi dari sana


" Aku Takan menyerah untuk dapatkan ina " teriakan satria kesal


" Aku Takan menyerah aku ga akan lepaskan Ina padamu " gumamnya


.


...****************...


.


Satria pun segera menyusul Ina diruang operasi karena memang jadwalnya Mereka akan bekerjasama untuk mengoperasi pasien.


" Maaf aku terlambat " ucap satria


" Sudah Siap, kita mulai " ucap Ina yang dibalas anggukan oleh Satria


Merekapun segera mengoperasi pasien dengan hati-hati dan teliti, karena operasinya cukup berat mereka menghabiskan waktu dua jam untuk mengoperasi.

__ADS_1


Setelah selesai Ina pergi keruangannya dan bersiap-siap untuk pulang karena jadwal prakteknya sudah selesai.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu Ina, dan mengobrol empat mata dengan ya


Tok... Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


Ceklek,,


" Dokter Ina " ucap seseorang itu


" Dokter Dina " ucap Ina


" Silahkan masuk " ucap Ina


" Bolehkah saya duduk " ucapnya


" Oh iya, mari silahkan " ucap Ina dengan wajah bingung


" Ada apa ya dokter Dinda, da yang bisa saya bantu " ucap Ina


" Saya mau bertanya pada Dokter " ucapnya Dinda


" Boleh " jawabnya


" Apa hubungan anda dengan dokter satria " ucapnya dengan pura-pura wajah sedih


" Saya bersahabat dengan dokter satria dari kecil, memangnya ada apa " ucapnya Ina masih heran


" Aku sebenarnya suka dengan satria " ucapnya sambil menangis


" Terus apa hubungannya sama saya " ucap Ina semakin heran


" Kami sudah pacaran " ucap Dinda bohong


Bagaikan disambar petir disiang bolong perasaan Ina sekarang hancur mendengar kabar jika satria pacaran dengan Dinda, Dadanya sakit dan nafasnya berat. rasanya iya ingin menangis namun tak mungkin


" Ya ampun Tuhan kenapa begitu sakit mendengar kabar ini, rasanya aku tak sanggup " ucap Ina dalam hatinya


" Ya bagus kalau begitu " ucapnya singkat


" Aku minta Dokter jauhi satria, karena saya ga mau hubungan saya rusak gara-gara anda " ucap Dokter Dinda sambil menangis


" Aku bersahabat dengan satria sudah lama jadi kamu jangan salah paham " ucap Ina sambil terseyum dipaksakan


" Tapi saya cemburu melihat anda dekat-dekat dengan Satria " ucap Dinda


" Kamu harus bisa menerima saya, jika anda mau satria dan anda langgeng dalam menjalin hubungan " ucap Ina


" Kenapa, karena Satria dan aku sangat dekat, bahkan keluarga kami pun sangat dekat." ucap Ina


" Saya sarankan agar Anda segara dibawa satria kerumahnya dan mengenalkan anda pada orang tuanya " ucap Ina ketus


" Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi saya permisi " ucap Ina pergi dari sana dan tampak Dinda sangat kesal pada ina


.


.


.


.


.


Bersambung....


So... Ikuti terus kisahnya...


Aku up nya pagi dan sore ya guys...


Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan Dukung Aku dengan cara


Like....Komen..... dan Vote ......


Jangan bosen-bosen ya .....


Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua....


Karena Doa yang baik akan kembali kepada orang memberi Doa.... 😁😁😁


.

__ADS_1


__ADS_2