
Sedangkan di kamar Ina dan Satria, mereka masih tidur sebelum suara tangisan bayi membangunkan mereka, seakan suara itu menjadi sepeti alarm hidup yang membangunkan kedua orang tuanya.
Oek... Oek... Oek..
Oek... Oek... Oek..
Oek... Oek... Oek..
" Sayang Mereka bangun " ucap Satria yang enggan membuka mata
" Kamu saja yang bangun, aku cape semalem mereka sangat rewel " Ucap Ina dengan mata yang enggan terbuka
" Tapi sayang aku juga lelah " jawab Satria
" Jadi kamu ga mau menenangkan mereka, tidak mau membantu aku. " ucapnya Ina dengan nada kesal
" Bukan begitu sayang " ucap Satria membuka mata dan segera memeluk sang istri yang sedang marah, memang akhir-akhir ini emosi Ina sedang meluap-luap.
" Susah lah lepaskan aku ma menggendong putra dan putri ku.. " jawabnya Ina dengan sinis
" Sayang aku minta maaf " ucap Satria yang kini merasa bersalah karena membuat sang istri marah karena ucapannya
" Lepaskan aku " ucap Ina
" Aku akan membantumu menenangkan mereka " ucap Satria lalu bangkit dari tempat tidur
Suara ketukan pun terdengar dari luar kamar mereka.
Tok... Tok... Tok...
" Siapa yang mengetuk pintu " ucap Satria pelan namun masih di dengar Ina
" Kamu buka pintu.. " ucap Ina
" Tapi sayang aku sedang menggendong bayi kita " ucap Satria
" Yasudah kamu tenangkan ketiga anakku .. " ucap Ina dengan wajah yang masih kesal dan segera menuju pintu kamarnya untuk membuka pintu
" Astaga salah lagi aku " batin satria namun iya sabar menghadapinya bagaimana tidak iya semalaman saja menjaga sang anak-anaknya sudah merasa kewalahan apalagi sang istri
Ceklek,,
" Maf Non menggangu, saya mau mengambil ketiga bayi nya.. dan memandikannya " ucap Salah satu Baby sister
" Baiklah.. Masuk " ucap Ina melangkah menuju kamarnya yang diikuti ketiga baby sister
" Maf Tuan Kami akan memandikan mereka " ucap Baby sister
__ADS_1
" Baiklah hati-hati.. " ucap Satria sambil tersenyum dan merasa lega karena Sang anaknya dibawa sang baby sister
" Oh iya Nona dan Tuan ditunggu Nyoya besar di ruang makan, untuk sarapan bersama .. " ucap sang baby sister memberikan pesan yang diucapkan sang Nyoya besar yaitu sisil
" Baiklah aku akan segera kesana " ucap Ina sambil tersenyum
" Kalau begitu kami permisi " ucap Ketiga Baby sister
" Silahkan " ucapnya Ina
Kini Satria melangkah pergi menuju kamar mandinya sedangkan Ina mencoba membaringkan kembali tubuhnya di tempat tidur.
Setalah satria selesai mandinya dan membuka pintu kamar mandi iya melihat sang istri terlelap kembali dalam tidurnya. iya merasakan kasian pada sang istri. iya mengecup kening sang istri membuat Ina bangun.
" Apa yang kamu lakukan ..." ucap Ina heran
" Memberikanmu kecupan pagi " ucap Satria sambil tersenyum
" Aku mandi dulu " ucap Ina segera melangkah menuju kamar mandinya.
Setelah Ina mandi lalu iya segera berdandan cantik dan memakai riasan sedikit agar terlihat pucat.
" Sayang kamu mau kemana dandan begini " tanya satria sambil tersenyum
" Tidak kemana-mana " ucap Ina jujur karena memang iya sedang tidak ingin kemana-mana karena tubuhnya sangat lelah
" Tapi kamu secantik ini " ucapnya Satria langsung memberikan ciuman manis sekilas pada sang istri
" Tidak sayang, aku tau ko luka jaitan mu saja masih belum kering.. mana mungkin aku tega " jawab Satria sambil tersenyum
" Aku pegang kata-kata mu " ucapnya Ina dengan senyum jahatnya
" Tapi jika sudah satu bulan kita akan mencoba memberikan adik pada ketiga bayi kita.. " goda Satria membuat Ina kaget dibuatnya
" Astaga sayang... mereka masih bayi dan kamu mau memberikannya adik.. sepertinya aku belum sanggup " ucap Ina dengan raut wajah sini
" Ayo kita makan... " ajak satria
" Baiklah. .. karena Aku pun merasakan lapar juga " ucap Ina
Kini mereka melangkah menuju ruang makan, disana sudaha terlihat lengkap dan tinggal Ina dan Satria yang belum datang.
" Astaga kalian lama sekali... " ucap Ehan sambil melirik keduanya
" Cuma telah lima belas menit " ucap Ina dengan wajah kesalnya
" Kamu bilang cum... " ucap Ehan melirik wajah keduanya
__ADS_1
" Sayang susah " ucap Rena mencoba menenangkan sang suami
" Ehan, Ina sudah jangan bertengkar sebaiknya kita cepat sarapan " ucap Marco
" Baik Opa " ucap Mereka
Mereka kini makan tanpa sepatah katapun terucap, kini memang sudah menjadi peraturan jika sedang makan tidak boleh bicara, namun ketika semua selesai makan boleh berbicara sepuasnya.
Mereka sudah selesai makanya, lalu Farel menanyakan pada Ina tenang suara tangisan bayi di malam hari.
" Ina, semalam Abang dengar bayi mu menangis.. kenapa " tanya Farel
" Tidak tau Bang, memang mereka sedang rewel-rewelnya " ucap Ina
" Apa perlu mereka di bawa kerumah sakit takut mereka merasa kesakitan tapi tidak berbicara " ucap Farel
" Abang Farel bayi belum bisa bicara... mana mungkin dia bilang sakit apapun pada ibunya " ucapan Oma membuat semuanya tertawa
Tiba-tiba Dering ponsel Farel berdering menandakan seseorang sedang menghubunginya. Dilihatnya nama sang istri lalu iya segera mengangkat teleponnya.
Kring... Kring...
" Halo... " ucap Farel terlihat khawatir
" Halo Mas... tolong aku... " ucap Mey-mey
.
.
.
.
Bersambung....
Ada yang mau melihat tingkah lucu Putra dan putri ketiga anak CEO. Apalagi Leo dan Oma yang mereka dikerjai mereka.. atau aku end saja ceritanya...
Komen ya Guys...
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
Biar saya lebih semangat nulisnya..
Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
__ADS_1
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz