
Bima dan Yola sudah sampai di pinggiran danau di kota itu. Ternyata Bima mengajaknya rekreasi bersama teman teman kampusnya, karena Yola menolak di ajak jalan kalau tanpa teman temannya, dia masih ingat pesan Shaina mama sambungnya, tidak boleh jalan berdua sama lelaki bukan mahrom nya.
"Bagaimana Yol, apa kau senang? kami sering ke sini, bahkan berkemah dan bermalam di pinggiran danau ini," ucap Bima.
"Iya, aku belum pernah liburan seperti ini, kami paling makan makan dan belanja seperlunya ke mall bersama kaka dan Mamaku. Sedang Papa sangat sibuk dengan bisnisnya yang ada di mana mana."
Cerita Yola pada Bima, mereka duduk memandang danau yang indah.
"Bagaimana kalau kita bermalam di sini bersama teman temanku, aku bisa menelpon penyewaan tenda kok." Ajak Bima pada Yola.
"Mungkin lain kali saja, aku belum siap mencari alasan pada mama dan papa.",Jawab Yola.
"Baiklah," jawab Bima.
Bima pun tidak bisa memaksa.
Aku akan pelan pelan saja, kau pasti bisa ku taklukkan.
Lirih hati Bima.
Dia pun tersenyum licik dan kembali menatap danau yang terlihat biru.
Dret dret dret
Hp Yola bergetar saat dia sedang santai.
[Helo assalamualaikum, ada apa pa?] Ternyata Fathir yang telepon.
[Wa alaikum salam, kau di mana Yol? biar papa jemput, sekalian papa pulang kerja ini, tadi Zahwa bilang kau tidak pulang bersamanya.]
Suara Fathir dari sebrang telepon.
[Nanti aku di antar teman Pa, papa pulang saja duluan!] Jawab Yola.
[Baiklah, jangan kemalaman ya!]
[Iya pa.]
telepon di tutup setelah salam.
"Papa mu ya Yol? dia sangat perhatian, tidak seperti orang tuaku, kemana pun aku pergi, aku tidak pernah di cariin," Ucap Bima sedikit sedih.
"Mungkin karena kau laki laki, makanya suka suka loe aja kali ya," sahut Yola.
"Entahlah. padahal aku pengen di perhati in hi hi hi." ucap Bima sambil menatap Yola.
"Ayo kita pulang! takut telat, nanti malah di introgasi," ajak Yola lagi.
Akhirnya Bima pun mengantar Yola pulang.
"Antar aku di persimpangan saja ya!" pinta Yola.
"Kenapa tak langsung ke rumahmu saja?" Bima heran, baru kali ini wanita menolak untuk di antarnya pulang langsung sampai rumah.
"Aku takut papa marah, sudahlah, turuti saja permintaanku, kalau kau ingin masih berteman denganku!" ucap Yola.
"Berteman? apakah selama ini kau hanya menganggap aku temanmu saja?" Tanya Bima menggodanya.
"Ha ha, emang pengen hubungan seperti apa? lagian kau terlalu tampan bagiku, hi hi." Yola juga memuji Bima hingga Bima pun merasa percaya diri.
"Bagaimana kalau kita pacaran?" ajak Bima kemudian.
"Pacaran!? selama ini aku tidak pernah punya pacar, bukan karena tidak laku ha ha ha, tapi aku takut ada akibat yang kelak ku terima. Itu sih yang sering mama bilang," jawab Yola.
"Belum pernah punya pacar? emang mamamu seperti apa sih? galak ya?" Tanya Bima penasaran.
__ADS_1
"Nggak lah, walau cuma mama sambung, dia sangat baik, walau dia punya 2 anak nya sendiri, tapi dia slalu berusaha bersikap adil, namun kadang siiih, ada juga yang ku rasa dia pilih kasih, mungkin dia aja tidak sengaja, tapi dia sangat baik dan sholehah." pujinya untuk Shaina.
"Oh ya... ibumu kemana?" tanya Bima.
"Meninggal sejak aku baru lahir," jawabnya.
"Oooh, Mmmmm... apakah kau mau jadi pacarku?" Bima kini coba memberi umpan untuk gadis polos ini.
"Ha ha ha... apa kau tidak menyesal? aku hanya gadis biasa yang nggak gaul dan sedikit udik," jawab Yola.
"Siapa bilang? kau sangat cantik, apalagi kalau kau sedikit memoles wajah cantikmu ini pakai lipstik atau lainnya, kau tak kalah cantik dengan yang lain kok!" sanjung Bima, membuat pipi Yola merona.
"Kau sangat pintar memuji Mas Bim. pasti banyak gadis yang sudah kau taklukkan ha ha ha." Tawa Yola renyah dan terlihat benar benar bahagia.
"Aku sering di putusin, mungkin karena aku kurang romantis." Ucapnya lagi.
"Ah masa, apa nggak Mas Bim yang suka gonta ganti pacar?" tanya Yola.
"Nggak kok, kalau kau mau menjadi pacarku aku akan sangat senang,"
"Mmmm.... apa benar Mas Bim nggak punya pacar?"
Yola kembali menatap bola mata Bima, dan membuat da**nya dad dig dug
"Iya... sudah beberapa kali putus, apa kau mau pacaran dengan ku?" tanya Bima mengulangi.
Yola terdiam sesaat dan masih menatap wajah tampan Bima dari samping, karena Bima sambil menyetir dan menatap lurus ke depan.
"Baiklah, apa kau bisa berjanji? berjanjilah untuk setia." ucap Yola lagi.
"Ha ha ha, apa kau meragukan ku?" Bima menatap wajah Yola sekilas dengan dahi berkerut.
"Nggak, cuma ini pengalaman pertamaku, aku bahkan tidak pernah merasakan patah hati, dan aku tidak ingin itu terjadi." Ucap Yola.
"Aku akan cari alasan untuk itu."
Sepanjang perjalanan Bima selalu mengajaknya ngobrol seputar keluarga Yola. Tak terasa mereka sudah sampai.
Lho, ini kan jalan ke rumah Zahwa dan keluarga? apakah mereka tetanggaan?
Lirihnya.
"Terimakasih ya...assalamualaikum." ucap Yola
"Wa alaikum salam."
Yola pun berlari kecil menuju gang, ternyata itu cuma jalan sempit jalan pintas menuju rumahnya.
"Oh tidak mungkin, mereka paling tetanggaan, rumah Zahwa kan depan sana, di jalan besar, mana mungkin jalan sempit gini." gumam Bima.
Akhirnya Bima pun pergi meninggalkan tempat itu.
Belum pernah pacaran? pasti masih perawan, tangkapan segar nih, hi hi hi.
Bathin Bima
Bim meluncur menuju club malam yang biasa dia nongkrong, sesampainya di sana dia memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam.
"Mas Biiiiim. makin ganteng aja, mau di servis yang giman nih?"
Tanya seorang L*dies yang cantik dan mempesona.
"Ambilkan aku minum saja, dan tolong pijet pundak ku, aku pengen rileks malam ini, tanpa adegan yang membuatku cape." Sahutnya.
Ladies itu pun menurut.
__ADS_1
***
"Yola! kemarilah!"
Panggil Zaira pada Yola yang baru keluar dari kelas.
"Ada apa?" Yola pun mendekat.
"Eh...ku dengar kau sedang dekat dengan Mas Bim ya...kau harus pintar agar tidak di campakkan olehnya." ucap Zaira.
"Dari mana kau tau?" tanya Yola heran.
"Aku liat kok waktu kemaren kau pergi dengannya di depan sana. Kau sengaja kan naik mobil di sana agar kakakmu Zahwa tidak melihatnya? ha ha ha, gadis licik." ucap Zaira ketus.
Dia pun pergi meninggalkan Yola yang terlihat kesal.
"Tunggu! apa maksudmu dengan di campakkan?" Yola penasaran.
"Kali aja Bima hanya main main seperti biasaaaa... ha ha ha."
"Seperti biasa? apa maksudmu?" Yola menjajari langkah Zaira.
"Udah ah, cari tau sendiri sana!"
Zaira pun merangkul teman temannya yang juga sudah keluar dari kelas masing masing.
"A Ezraaaa!"
Teriak Zaira memanggil kekasihnya.
Ternyata Zaira di jemput Ezra.
mata Ezra jelalatan ke sana kemari, mungkin saja dia lagi mencari cari Zahwa, namun tidak terlihat.
"A Ezra cari siapa?" Zaira jadi kesal melihat tingkat pacarnya yang seperti mencari sesuatu yang lain.
"Oh, aku kira kau masih di dalam." Alasan Ezra, dia berusaha tidak nyakitin hati Zaira, gadis manjanya itu.
"Ayo A!"
Zaira pun menjinjit baju Ezra yang ada di pinggangnya, agar kulit Ezra dan Zaira tidak tersentuh, karena kalau tersentuh, pasti Ezra bakal menepisnya, sekarang Zaira lebih pintar mencari alasan biar bisa berdekatan dengan Ezra.
Jreng jreng
Sebelum Ezra berbalik, matanya menatap seseorang yang di carinya.
Zahwa sedang berbincang sambil berjalan dengan teman teman wanitanya, bahkan teman temannya ada yang bercadar. Sedang Zahwa menggunakan Masker, mungkin itu pun sebenarnya Zahwa ingin menutup kecantikannya, dari orang-orang yang memandangnya.
Ezra terpana.
Bruk
"Au.."
Ezra ketabrak tiang bangunan yang ada di pinggir pinggir lorong Kampus.
"A Ezraaaa." lekik Zaira pelan.
Sementara Zahwa terus berjalan dengan jalan yang berbeda.
Zahwaaa.
Lirih hati Ezra, lemes Bestie
BERSAMBUNG...
__ADS_1