
Rangga terus menerobos sungai yang memang surut, semakin jauh ke hilir, kadang melewati teluk yang lumayan dalam, dia tidak perduli, semakin jauh, kini tubuhnya dan wajah tampannya semakin mempesona oleh air yang membasahi sekujur tubuhnya.
"Ayo! Mungkin kita semakin dekat. Lihat ada jalan naik!" Rangga menunjuk tepian sungai yang terlihat biasa di pakai orang untuk mandi, mungkin tepian sungai milik warga.
Rangga dan rombongan pun menaiki daratan dan menuju jalan setapak.
"Lihat Bos ada rumah warga," seru suruhan Rangga.
Mereka pun berlari menuju rumah tersebut.
"Bu, apakah anda melihat rombongan pejalan kaki di sini dengan membawa sandera," tanya Rangga bersemangat.
"Iya, baru saja mereka lewat sini, emang ada apa Nak, kok seperti sangat tergesak-gesak gitu, kalian dari mana? Kok basah begini?" tanya ibu itu.
"Dia menculik kakak ipar ku Bu, bu tolong pinjami aku motor! atau aku beli saja, tapi sekarang aku tidak bawa uang," ucap Rangga.
"Maaf tidak bisa Nak, kami memerlukan kendaraan untuk keluar masuk desa ini," ucsp Ibu, tentu saja dia tidak akan memberikan begitu saja.
"Hey, kamu tinggal di sini!___ bu ini, sandera saja, aku mohon Bu, tolong aku, nanti aku akan kembali ke mari, ini jaminannya," ucap Rangga sambil menyodorkan suruhannya.
"Kok aku Bos?" protes lelaki itu.
"Bu tolong,"
"Ada apa ini?" kayaknya sang suami naru datang di kebun.
"Ini Pa___"
__ADS_1
Ibu itu menceritakan masalah yang sedang di hadapi Rangga.
"Baiklah, ayo! Biar aku antar pakai mobil butur itu."
Bapak pun mengeluarkan mobil pik-up yang ada di samping rumah. Rangga dan kawan-kawan tidak melihat sebelumnya.
"Ayo! Cepat! kalian bersembunyi di belakang, biar kalau mereka berjalan tidak melihat.
Mereka pun melaju menaiki mobil pak tua di jalanan yang cukup untuk satu mobil saja. Benar saja, tak jauh di ujung jalan Zaira dan teman-temannya pun mencegat mobil yang di naiki Rangga, Rangga sengaja menutup mukanya dengan kain, pura-pura tidur di samping sopir.
"Maaf pa, boleh kami ikut?"
Teman-teman Rangga yang ada di belakang pun bersiap untuk menangkap Zaira dan Kru.
"Baik Non, naiklah!"
Bruk bugh
Pasukan Rangga pun menangkap orang-orang suruhan Zaira dan mengambil Ezra yang di bopong salah satu dari mereka.
"Zaira, apa kabar?" ucap Rangga sambil tersenyum sinis.
"Kau? Rangga!"
Zaira tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun pasrah saat bawahan Rangga mengunci tangannya dan menaikkannya ke dalam mobil pik-up.
***
__ADS_1
"Kakak, Bang Ez sudah kami temukan, sekarang kami akan pulang, dan membawa Zaira ke kantor polisi," Rangga
"Be arkah? Syukurlah, terima kasih Allah,"
Zahwa pun sujud syukur dan menangis haru.
"Sayang, sekarang udah lega 'kan? Sekarang ayo makan dulu! Kau tidak mau 'kan kalau Ezra marah nanti kalau kau belum makan!" ucap Mita.
"Baik lah Mi, terima kasih telah melahirkan lelaki hebat seperti Bang Ez," ucap Zahwa sambil berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Bagaimana?" Shaina yang baru datang dari kamarnya, karena menyelesaikan sholat ashar pun mendekati Mita.
"Alhamdulillah, Ezra sudah di temukan."
Mita dan Shaina pun menuju dapur untuk makan bersama. Terlihat Bibi sudah merapikan meja bekas Wulan makan tadi.
Hidangan baru pun di sajikan dengan rapi dan apik.
"Ayo, sekarang kita makan dulu!" ajak Shaina.
"Wow, enak sekali nih!" tiba-tiba Saila datang dan duduk di kursi kosong dan mengambil ikan juga lainnya, dengan santai dia makan mendahului orang yang lebih tua.
"Saila, nggak sopan begini Nak, kan kita ada tamu," ucap Shaina halus.
"Ma, ini rumahku ya, suka-suka aku dooong," sahutnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1