
Setelah saling menatap akhirnya Fathir dan Huda pun berpelukan.
"Terima kasih ya Allah, kau pertemukan aku dengan anak kandungku, aku sungguh tidak menyangka ini," ucap Fathir.
Air matanya pun berguguran, begitu juga Huda yang tak bisa berkata apa-apa.
"Syukurlah, kalian sudah di pertemukan kembali, lalu bagaimana dengan Yola?" tanya Yola.
"Kita harus memberitahukannya dan membawa Kakek ke Kantor Polisi," ucap Huda.
"Ayo kita pulang!" ajak Rangga.
Mereka pun kembali ke Rumah mereka untuk menemui Kakek dan membawanya bertemu cucu aslinya.
***
"Jadi cucu asliku di penjara karena tindak kejahatan? ha ha ha ha."
Dia tertawa lepas, seakan kebahagiaan menimpanya, padahal 'kan cucunya lagi di penjara?
"Kok Kakek tertawa?" tanya Huda heran.
"Tentu saja aku tertawa, selama ini aku slalu bertanya-tanya, kau ini terlalu baik dan sempurna untuk menjadi cucuku, bahkan tak sedikit pun tingkah mu seperti anaknya Jery yang brengs*k itu. Kini semua sudah terjawab," ucapnya bangga.
"Kakek, walau bagaimana pun kalian tetaplah keluargaku," ucap Huda lagi.
"Ayo Kek! Kita menemui cucu Kakek," ajak Huda.
"Waaaah, bakal ada saingan nih di rumah," canda Rangga.
"Saingan?" tanya Shaina heran.
"Saingan ketampanan Ma, ha ha ha," tawa Rangga, di ikuti tawa lainnya.
"Baiklah, kami pergi dulu, Kakek kayaknya tidak sabar ingin bertemu cucunya, Dia sangat cantik lho Kek!" ucap Huda.
"Benarkah? Pasti seperti Almh.Ibunya," ucap Kakek lagi.
Mereka pin berangkat untuk menemui Yola.
Kali ini Fathir, Huda dan Kakek pergi bertiga, sementara yang lainnya menunggu di Rumah.
***
"Yola, ada tamu untukmu dari keluargamu, dan kau boleh bersiap untuk keluar dari sel ini," ucap penjaga Sel.
"Syukurlah, aku di bebaskan, Zaira, aku akan membujuk Papaku untuk mencabut tuntutan mu juga," ucap Yola bangga dan yakin.
"Terimakasih, tolong banget ya!" ucap Zaira.
Yola pun tersenyum menapaki jalan selangkah demi selangkah, perasaan bahagia kini menyelimuti relung hatinya.
__ADS_1
"Aku yakin, Papa pasti tidak akan membiarkanku lama di penjara ini," gumamnya bangga.
Sampailah Yola di ruangan yang terlihat ramai. Dia melihat ada Fathir juga pemuda yang kemaren menjenguknya, pemuda yang sangat mirip dengan Fathir semasa muda.
"Papa," sapa Yola, dia pun salim dan memeluk Papanya, namun sayang, Fathir justru melerai pelukan itu lembut.
"Papa... ada apa? apakah Papa mencabut gugatan ku?" tanya Yola.
"Iya, aku ingin kau bertemu seseorang, seseorang yang nanti akan menemanimu setelah kau keluar dari Sel ini," ucap Fathir.
"Siapa?" tanya Yola bingung, dia pun melirik Pemuda yang mirip Fathir, apakah dia berharap Huda akan menikahinya?
"Cucuku... Kau kah itu cucuku?"
Ketika tiba-tiba seorang Kakek di bawa mendekat oleh Huda menggunakan kursi roda.
"Cucu? siapa kau?" tanya Yola.
"Yola, mungkin kau bingung, tapi ini adalah Kakek mu, kau akan ikut dia pulang hari ini, sekaligus bertemu Orang Tuamu yang asli." ucap Fathir lagi.
"Orang Tua? Apa maksud Papa?" Yola bertambah bingung.
"Ya, sebenarnya, kau bukanlah anak kandungku! Kau tertukar dengan pemuda ini, saat kau masi bayu, kalian sengaja di tukar oleh ayah kandungmu, karena dia menginginkan anak laki-laki."
Dooor
Yola kaget bukan kepalang, dia pun memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
Yola pun duduk di kursi panjang ruang tamu iti.
"Kalau kau tidak mau pulang bersama Kakek mu, maka kau akan selamanya di dalam Sel, kau pilih saja sendiri," ucap Fathir mengancam.
"Pa, mengapa Papa tega? semarah itu kah Papa padaku?" ucapnya lagi.
"Yola, cucuku, ayo kita pulang! Kau akan bertemu dengan ayah kandungmu sendiri, kau jangan takut, semua biaya hidupmu akan Kakek tanggung, kau cucuku satu-satunya, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau!" ucap Kakek.
"Tapi, aku masih tak percaya ini. Aku seperti barang yang bisa di tukar dengan barang lainnya." ucapnya lagi
"Yola, kau harus menerima takdir ini, aku pun menerima takdirku." ucap Huda mencoba membujuk.
"Hey, kau, bukankah kau pemuda yang kemaren mengunjungi ku? Tentu saja kau menerima takdirmu, kau akan mendadak kaya raya 'kan? menjadi pewaris di perusahaan Papa." ucap Yola masih tidak terima.
"Yola! Mengapa kau berkata begitu?"
"Ha ha ha... Ini benar-benar sifat asli darah daging ku, sementara Huda? Dia sama sekali tidak tertarik dengan warisan." ucap Kakek.
"Apa maksud Kakek?" tanya Yola.
"Kau persis seperti Ayahmu, menginginkan warisan, ayo kita pulang! Akan ku beri kau warisan seperti yang kau inginkan," ucap Kakek.
"Ayo Yola! Bawa barang-barang mu dan kita kembali ke rumah, kau harus minta maaf sama Shaina dan juga Zahwa. Dan kau bisa pulang dengan Kakek mu, kau bisa datang kapan saja ke rumah kami, itu tidak masalah." ucap Fathir.
__ADS_1
"Jadi Papa benar-benar akan melempar ku dari rumah itu? Sudah 24 tahun aku bersama Papa, rasanya aku tidak bisa jauh dari Papa," ucapnya.
"Yola, jangan berdebat, ayo cepat! Sebelum Papa berubah pikiran ingin menarik tuntutan mu." ucap Huda sedikit kesal.
"Heh, kau pun sudah memanggilnya dengan sebutan Papa? Hebat, mau tentu bangga punya Ayah seperti Dia'kan?"
"Baiklah, kalau kau tidak mau pulang, kami permisi," ucap Fathir.
Fathir pun berbalik dan memberi kode pada Huda agar pulang meninggalkan Yola.
"Tunggu!" ucap Yola.
"Baiklah."
Akhirnya Yola lin mengalah dan membereskan bajunya, kemudian pulang bersama Kakek dan lainnya.
Di perjalanan.
"Yola, Kakek punya banyak kebun dan juga warung makan, aku tau kau pasti anak yang berpendidikan, kau pasti bisa mengelolanya Nduk," ucap Kakek.
Yola hanya terdiam, dia masih tidak bisa menerima lelaki itu adalah Kakeknya.
"Yola, ini!" Huda menyerahkan kartu ATM yang selama ini diberikan kakeknya untuk Huda.
"Apa itu? berapa isinya?" ucap Yola.
"Yola, tidak boleh seperti itu! Kau harus menerima kalau orang memberi," ucap Fathir yang mendengar pembicaraan mereka, karena mereka satu mobil.
"Huda, kau simpan saja itu, nanti aku akan memberi dia yang baru," ucap Kakek.
"Tidak Kek, aku tidak memerlukannya lagi, aku akan mencari pekerjaan, kuliah ku pun hampir selesai, aku akan sering menjenguk Kakek." ucap Huda.
"Terserah kau saja." ucap Kakek akhirnya.
Akhirnya Yola pun mau menerima ATM pemberian Huda.
"Aku akan menerimanya, setelah kau tinggal dengan Papa, kau pasti akan dapat yang lebih banyak dari ini." ucapnya dengan wajah kesal awut-awutan.
Huda hanya tersenyum melihat gadis itu.
Mereka sudah sampai di rumah.
***
Yola tampak sudah berangkat meninggalkan rumah Shaina dan juga Fathir untuk pulang ke Desa bersama Kakeknya. Hatinya sangat sedih walau juga Zahwa dan Shaina terus menangis saat perpisahan tadi.
"Apakah mereka tulus menyayangiku?" lirih Yola saat termenung di dalam mobil. Sementara Huda masih ikut pulang untuk mengantar Kakek selamat sampai tujuan.
"Tentu saja tulus dan ikhlas, lihatlah mereka sangat sedih saat kau pergi," ucap Huda yang mendengar gumaman pelan Yola.
BERSAMBUNG...
__ADS_1