
Bugh bugh
Kaka Zaira pun mem*kul k*sar wajah Ezra hingga meninggalkan mem*r di pipinya.
"Hentikan! hentikan!" Zaira histeris dan memeluk tubuh Ezra yang terhuyung tanpa perlawanan.
"Kenapa kau membelanya, bukankah dia telah men*daimu? sini! biar aku habisi dia sekalian." Ucap Brasta lagi.
"Sudah, hentikan! Ezra baiknya kau pulang sana! dan ingat! kau harus bertanggung jawab menikahi Zaira!" Titah mama Zaira.
Ezra berbalik tanpa menjawab, baginya akan buang buang waktu saja kalau terus meladeni mereka
"Mama...kenapa mama membiarkan dia pergi begitu saja, mengapa tidak kita beri pelajaran agar dia mau menikahi Zaira?" Protes Aldo Brasta kaka Zaira.
"Hey...kita tidak bisa dengan kekerasan, kita akan datang ke orang tuanya dan memintanya untuk menikahi Zaira." jawab Mamanya.
"Kakak, bukankah kakak juga telah meninggalkan Gelic setelah kakak merenggut mahkotanya? kenapa kakak tidak menikahinya? kenapa kakak malah mencari pacar baru?" Zaira merasa kesal dengan kakaknya yang telah mem**uli Ezra.
"Kenapa kau mengurusi hidupku, suka suka gue kan?"
"Ini pasti karma yang telah di perbuat kakak, kakak tega meninggalkan gadis itu, makanya Tuhan balas ke aku, hik hik hik."
"Hey, kenapa kau menyalahkan aku, itu karena kau terlalu murahan, kenapa kau mau di ajak begituan? harusnya sebagai wanita itu jual mahal!" bentak Brasta.
"Walau pun aku tidak jual mahal, namun kami tidak seb*jat itu, aku tidak semurah itu, ini hanya karma dari mu kak.hik hik hik."
__ADS_1
Zaira terus menangis dan memeluk bantal yang ada di sofa.
"Karma itu tidak ada, kalau memang ada, tidak mungkin karma ke dirimu, pasti ke aku'kan? aneh!" sahut Brasta lagi.
"Sudah sudah, ayo Zaira! kamu istirahat dulu, besok kita ke rumah Ezra untuk minta tanggung jawab, kalau perlu, kau pura pura hamil saja." ucap Mamanya.
"Ya... ini karma darimu, Tuhan menyuruhmu melihat, bagaimana hancurnya hati seorang perempuan yang di campakkan begitu saja. Aku hancur, aku hampir gi*a karena ini." ucap Zaira sambil terus berteriak dan menangis sesunggukan.
"Aaaah, terserah kau, tapi kalau Ezra tidak menikahimu, aku akan memb*nuhnya."
Brasta pun pergi meninggalkan rumah mewahnya menuju garasi dan pergi entah kemana.
***
"Sayang, kok b*rdar*h d*rah, siapa yang melakukan ini nak?"
"Nggak papa Mi, cuma salah paham."
"Ini pasti ulah papa Zaira kan, atau kakaknya si Aldo?" Tanya Mita.
"Nggak papa Mi, ini sudah resiko, Ezra bandel dan nggak nurut kemauan Ummi, kalau seandainya Ezra patuh sama kemauan Ummi, pasti nggak gini'kan? Ezra ke kamar dulu"
Ezr pun berjalan menuju kamarnya.
Ceklek
__ADS_1
Bruk.
Ezra merebahkan diri di atas kasurnya.
Akhirnya terlelap ke alam mimpi.
***
Setelah kejadian seminggu yang lalu, saat Linda mengaku hamil, Bima datang ke rumah Zahwa, dan menjelaskan, kalau sebenarnya wanita itu hanya mengada ada. Memang Bima pernah pacaran namun itu sudah sangat lama. Dengan kepintaran Bima berbicara, keluarga Fathir pun percaya.
"Kak, biar aku temenin, hari ini foto Nikahkan?"
Rangga yang terlihat rapi dan mempesona itu tampak merangkul pundak sang kakak di dapur, saat Zahwa mencuci satu piring bekas dia makan.
"Iya, oke, aku siap siap dulu ya, biar Bima nunggu di studio foto saja." jawab Zahwa.
Zahwa ke kamar dan berkemas.
"Ayo!"
Zahwa dan Rangga pun pergi menuju tempat yang telah di sepakati.
Deg
Tanpa sengaja, Zahwa melihat Bima sedang berbicara dengan seorang wanita yang kurang jelas wajahnya karena tertutup kaca. Ingin berhenti tapi takut kalau Rangga emosi.
__ADS_1
Hingga Zahwa memutuskan hanya menatap mereka sambil melewati mobil Bima.
BERSAMBUNG...