
"Eh Tuan, maaf, saya lagi nonton komedi."
Ternyata dia sedang nonton komedi, jadilah,di tertawa seperti itu.
"Oooh, tapi mengapa kau bilang akan balas dendam?" Tanya Ezra heran.
"N__nggak kok Tuan, aku cuma lihat video di HP ini, lucu," Sahutnya.
"Oooh, baiklah, kau boleh istirahat di sana! aku akan berbicara dengan istriku." Usir Ezra halus. Dia ingin bercerita ke Zahwa mungkin, kalau saat ini mereka sudah punya bayi.
Mai pun duduk di pojokan yang sudah ada alasnya.
"Sayang, kamu tau nggak? Aku sangat bahagia, karena aku akan jadi ayah secepat ini."
Dooor
Mata Mai terlihat terbelalak, ada apa dengan dia ya?
"Kamu hamil sayang, emch." Ezra pun mencium kening Zahwa mesra.
Apa? Dia hamil?
Batin Mai.
...Flasback...
Korea
Sebulan yang lalu.
"Dok, tolong rubah wajahku dan juga suaraku."
"Apakah anda yakin? Karena kalau sudah di rubah maka tidak bisa lagi di kembalikan Nona."
"Aku yakin, aku ingin tidak ada seorang pun yang mengenaliku."
"Baik Nona."
Zaira, kau harus membalas sakit hatimu ini, berjanjilah!
Batinnya Zaira sendiri.
...Flasback end...
Mai ternyata adalah Zaira.
"Hamil?"
Mai atau Zaira kaget, dia bahkan tergeser dari tempat duduknya semula.
"Iya Mai, istriku sedang hamil, jadi tolong kau rawat dia dengan baik."
Cemburu membara bahkan sampai berasap ke ubun-ubun itu yang dirasakan Zaira saat ini.
"Ba___baik Tuan, kalau Tuan ingin pulang, Tuan bisa istirahat di rumah, biar Mai yang jaga Nyonya muda." Ucapnya pelan dan menunduk.
"Tidak, aku tidak akan melewatkan sehari pun untuk berada di sisi Istriku ini, aku takut dia terbangun dan tidak mendapati ku di sisinya." Sahut Ezra.
__ADS_1
"Baik Tuan. Mai mau keluar sebentar Tuan, maaf."
"Silahkan."
Zaira pun keluar berjalan dengan menunduk, dia mengepal-ngepalkan tangannya kuat, dadanya bergemuruh, dendam yang selama ini membara kini makin membuncah di dadanya.
Bruk
"Au."
Tiba-tiba dia menabrak seseorang.
"Hei, hati-hati!" ucap lelaki itu.
"Kakak!"
Zaira keceplosan, saat dia melihat orang yang dia tabrak adalah Aldo kakaknya.
"Kakak?" Tanya Aldo heran, karena Aldo tentu saja tidak mengenali Zaira yang sudah oplas.
"Oh, ma__maaf Tuan, aku salah orang."
Zaira segera berjalan menjauh dan membiarkan Aldo kembali melanjutkan perjalanannya. Namun, Zaira penasaran, mau apa kakaknya ke Rumah sakit ini? Akhirnya Zaira mengikuti kakaknya dari jarak jauh.
Tampak Aldo sedang mengintip ruangan Ezra.
Apakah kakak juga sedang melakukan rencana jahat pada mereka?
Batin Zaira.
Terlihat Aldo kembali meninggalkan ruangan Zahwa di rawat, sementara Zaira terus menatap kepergian kakaknya dari jarak yang lumayan jauh.
Kakak, aku akan kembali ke rumah, setelah aku membalaskan dendam ku ini pada mereka.
Batinnya lagi.
Sementara hari sudah semakin gelap.
"Assalamualaikum."
Ternyata Shaina yang datang.
"Waalaikumsalam, Mama," Ezra mempersilahkan mertuanya masuk.
"Bagaimana kabarnya hari ini?"
Shaina menanyakan kabar Ezra, dia juga sempat menatap wanita asing yang ada di ruangan itu, Zaira.
"Alhamdulillah baik Ma,oh ya ma, maaf, aku belum sempat kabarin Mama, aku sampai lupa, ada kabar gembira Ma." Ezra terlihat berbinar.
"Ada apa? Kok kamu terlihat senang begitu? Kabar ala?" Shaina jadi penasaran.
"Assalamualaikum."
Fathir yang datang terlambat karena harus memarkirkan mobilnya dulu.
"Wa alaikumsalam."
__ADS_1
"Mama dan Papa, ini kabar bahagia, sangat bahagia."
"Kabar apa sih?",Fathir juga di bikin penasaran oleh Ezra. Sementara Zaira tampak cemberut duduk di lantai ujung ruangan itu.
"Zahwa hamil Ma, Pa!"
"Apa?"
Shaina dan Fathir menyahut bersamaan.
"Apa aku tak salah dengar? Bagaimana kau tau itu?" Tanya Shaina.
"Dokter yang memberitahukan itu padaku Ma, karena kondisi Zahwa nerubah, seperti detak jantungnya kini lebih cepat dari orang normal, makanya, dokter curiga, dan memeriksanya. Dan ternyata benar, dia sedang hamil."
Alhamdulillah ya Allah, mudahan ini awal yang baik bagimu, Nak."
Shaina pun mengelus kepala anaknya itu dan menciuminya.
"Syukurlah, mudahan dia segera sadar." Tambah Fathir lagi.
"Oh iya, Yola keguguran." Ucap Shaina.
"Keguguran? Kenapa?"
"Mungkin dia terlalu stres mengahadapi Bima, pagi tadi mereka bertengkar hebat dan Bima pergi dari rumah."
"Astagfirullah, sekarang di mana Yola?"
"Dia masih di ruang perawatan, malam ini Mama tidak bisa menginap di sini, karena harus menemani Yola," Ucap Shaina.
"Tidak papa Ma, ada Mai yang membantu di sini."
Namun Ezra lupa menanyakan siapa Mai pada Shaina, karena terlalu asyik dengan kebahagiannya akan menjadi seorang ayah.
"Oh baiklah, kami tidak bisa berlama-lama, mudahan Zahwa cepat bangun,"
Sebelum pamit, Shaina berulang kali mengecup kening Zahwa, begitu juga Fathir, terlihat sangat sayang pada putri pertamanya itu.
"Ma, kalau bisa malam ini, Rangga suruh ke sini ya, nemenin Ezra, nggak enak soalnya, kan ada Mai juga."
Pinta Ezra, karena merasa tidak baik kalau mereka cuma berdua, walau ada Zahwa yang sedang koma.
"Oh baiklah."
Mereka pun pamit pulang.
Malam harinya, Rangga baru datang karena kesibukannya sendiri.
Sedang apa wanita itu? Kok seperti meraba pipi Ezra?
Batin Rangga saat tanpa sengaja melihat Ezra yang tertidur di kursi roda sedang didekati Zaira.
Sayang, seharusnya, akulah yang hamil anak kamu, bukan wanita ini, aku yang layak menjadi ibu bagi anak-anakmu, bukan dia.
Zaira meneteskan air matanya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1