
"Huak... huak... aduuuh kenapa mual banget ini, mana pusing,"
Yola pun berjalan ke kamar mandi.
Dia ingin memuntahkan isi perutnya, namun tak kunjung bisa, karena dia hanya mual.
"Ada apa sih denganku? mana kepalaku pusing lagi ih."
Yola terus menggumam tak karuan.
Cekelek
Akhirnya dia keluar kamar dan menuju dapur untuk makan.
Hap
mengambil piring.
Membuka magic ingin mengambil nasi.
"Huak... huak."
Namun rasa mual nya bertambah tambah.
"Non, ada apa?"
Bibi yang sedang membersihkan sayur pun kaget.
"Entah Bi, pusing dan mual nih? emang ini nasi beras apaan sih, kok baunya aneh, nggak kaya biasanya?" protes Yola.
"Itu beras yang sama Non, sini biar Bibi ambilin."
Bibi pun berhenti dari aktivitasnya, dan mengambilkan nasi untuk Yola."
"Ini Non, kamu maag kaleee, ini udah jam 11 lewat kok baru makan pagi?"
ucap Bibi.
__ADS_1
"Tadi pusing, males banget bangun Bi. Dari tadi mual mual nggak karuan."
Ucap Yola.
"Periksa ke Bidan aja, biar di kasih obat, klo Bibi sih biasanya klo mual pagi pagi begini maag, pernah juga lagi hamil nggak bisa nyium nasi panas." ucap Bibi tanpa curiga apa apa, cerita begitu saja
"Hamil?" Yola spontan bertanya, sambil terlihat bingung.
"Iya Non, kalau udah bersuami, tentu saja ada kemungkinan hamil, tapi kalau belum, mungkin masuk angin atau maag aja Non." tambah Bibi lagi.
Yola terlihat gelisah, dia menyuap nasinya, hanya berapa suapan dia pun berhenti.
"Bi, ini buat kucing aja, aku mau periksa ke bidan nih, mual banget, mau berobat dulu."
Yola pun tak menunggu jawaban Bibi, dia pergi meninggalkan separo nasinya di atas meja. Yola mengambil kerudung segi tiganya dan kunci motor, lalu melaju di jalanan yang tampak sunyi.
"Bi, Yola mana? Ini aku belikan bubur, di kamarnya nggak ada, katanya tadi kurang emak badan?" tanya Shaina yang baru datang dari beli bubur.
"Dia pergi Nya, katanya mau periksa ke bidan.
"Iya Nya."
***
Tampak di sebuah teras Rumah, Bima tampak duduk santai.
Dret dret dret.
Hp Bima bergetar.
"Yola? tumben dia berani menghubungiku, setelah kejadian sebulan lalu." Gumam Bima.
[Helo. ada apa?]
[Aku hamil, aku ingin kau menikahi ku!]
Suara Yola di sebrang telepon bagai petir di siang bolong, hamil? bagaimana bisa, mereka melakukannya hanya 2 kali.
__ADS_1
[Hamil? bagaimana mungkin, itu pasti bukan anakku, tidak mungkin.]
Tuuut
Bima menutup teleponnya.
"Sial, bagaimana ini? bagaimana dengan Zahwa? aku sudah menyingkirkan Linda dari kehidupanku, tapi mengapa harus ada Yola juga? tidak, aku harus bisa menikah dengan Zahwa, wanita itu mungkin bisa membimbingku, ya, aku ingin berubah, izinkan aku berubah Tuhaaaan"
Gumam Bima panik.
"Bima? apa yang kau katakan? kau ingin menikahi Zahwa? dia kan memang calon istrimu, tinggal berapa hari lagi kalian akan menikah, kenapa kau tampak panik?"
Ternyata mamanya Bima yang tiba tiba ada di belakang Bima terlihat bingung dengan gumaman Bima anaknya.
"Oh, Mama? tidak papa Ma, aku hanya khawatir, aku merasa takut menjelang pernikahan ini."
Jawab Bima berpura pura.
"Oooh, apa kau takut karena kau tidak mengenalnya lebih akrab lagi? kau kan jago dalam merayu wanita." ucap mamanya lagi.
"I... iya Ma, oh ya Ma, aku mau ke kamar dulu." Bima pun pergi meninggalkan mamanya.
Sementara Yola sudah berada di rumahnya, dia di nyatakan hamil oleh bidan yang memeriksanya.
Bruk
Dia menutup pintu kasar dan merebahkan dirinya di kasur.
"Aku harus melakukan sesuatu."
Dia berpikir keras.
Kemudian dia berdiri di atas ranjangnya, pasang kuda kuda untuk melompat.
apakah dia berpikir untuk menggugurkan kandungannya?
BERSAMBUNG...
__ADS_1