
Fathir terdiam sesaat saat Shaina mengatakan itu. Sebelumnya Fathir tidak pernah kepikiran tentang anaknya yang dulu di USG laki-laki dan lahir perempuan, mungkin saja dokter salah, itu yang ada di benaknya.
"Shaina, apakah kita perlu menemui anak itu?" tanya Fathir tiba-tiba.
"Jadi Beng juga berpikiran sama kayak aku?" tanya Shaina.
"Iya, aku baru saja berpikir begitu, ayo! Kau harus membantuku menemukan pemuda itu di Rumah sakit." ajak Fathir.
"Baik Beng, aku harus siap -siap dulu."
Shaina pun bersiap.
"Ayo Beng!"
Mereka pun pergi menuju Rumah sakit tempat kakek itu di rawat, walau mereka tidak tau, di mana kamar pasien itu, namun, mereka akan mencarinya sampai dapat.
tak berapa lama, mereka pun sampai.
Setelah menanyakan kamar yang masuk lada hari tersebut wajah Fathir pun cemberut.
"Ada apa pa?" tanya Shaina heran.
"Mereka sudah pulang Ma," jawab Fathir tak bersemangat.
"Apakah kita bisa meminta alamat rumahnya?" tanya Shaina lagi.
"Entahlah, tapi akan aku coba."
Fathir pun kembali ke loket. Dengan alasan ada barang yang tertukar, akhirnya Fathir berhasil mendapatkan alamat Huda dan Kakek.
***
"Selamat jalan ya, mudahan selamatan di jalan, nanti kalau kau ke kota lagi, kau bisa minta bantuan kami, jangan sungkan." ucap Ezra di telepon.
"Siapa Bang?" tanya Zahwa.
"Huda, yang mirip dengan Papa itu, dia sudah pulang kampung." ucap Ezra.
Drettttt
"Helo Pa, ada apa?"
Bla... Bla.. Bla.
"Ada apa lagi?" tanya Zahwa.
"Mama sendirian di rumah, apa kita menemani mama saja? Kan Lelaki itu juga Yola sudah tidak di Rumah lagi?" ajak Ezra.
"Lelaki itu?" tanya Zahwa bingung.
"Itu, tunanganmu, aku malas mengatakan namanya." ucap Ezra.
"Oooh, Abang cemburu?" tanya Zahwa.
"Ya iyalah, mana ada seorang suami yang tak cemburu, kalau ada lelaki lain seenaknya main peluk-peluk." ucap Ezra dengan wajah cemberut.
"Hmmmm," Zahwa lun tersenyum. Ada rasa bahagia yang sangat bergejolak di dadanya, perasaan yang sulit di gambarkan.
"Kita ke rumah Mama jadi?" tanya Ezra lagi.
"Oh iya, jadi, ayo!"
__ADS_1
Zahwa pun di dorong pakai kursi Roda menuju mobil.
Sepanjang perjalanan Ezra slalu menggenggam tangan istrinya tak mau lepas. Setelah perjalanan cukup lama, mereka pun sampai.
"Sayang," Ezra membopong tubuh istrinya melangkah menuju rumahnya.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam." jawab Bibi.
"Mama Mama Bi?" tanya Ezra sambil terdengar ngos-ngosan karena membawa Zahwa.
"Di kamarnya mungkin Den, kalau Tuan Be___." Belum sempat Bini bicara Shaina sudah muncul.
"Eeeeeh, kok nggak nilang-bilang mau ke mari?" Shaina kekuar dari kamarnya dan mendekati Zahwa yang duduk di sofa.
"Mama, Papa dan Rangga mana?" tanya Zahwa.
"Itu___ dengan sangat menyesal kau juga harus tau ini. Begini, ternyata....." Shaina menjelaskan semua kisah tentang Yola yang bukanlah anak kandung Fathir.
"apa? Jadi maksud Mama, Yola bukanlah anak Papa! Lalu di mana anak Papa?" tanya Zahwa sangat penasaran.
"Itulah, saat USG jenis kelaminnya laki-laki, namun saat lahir mendadak dapat perempuan, ya sudahlah, mereka bilang, itu cuma kesalahan dokter. Namun sekarang malah kejadian seperti ini." ucap Shaina.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Ezra.
"Dia mencurigai seseorang, seorang pemuda yang sangat mirip dengan papamu, yang bertemu dengan kami saat di rumah sakit." ucap Shaina.
"Jadi, Paap sudah bertemu orang itu?" tanya Zajwa.
"Sudah beberapa kali kami bertemu Dia, Dia sedang mengobati Kakeknya di rumah sakit itu, namun sekarang katanya dia telah pulang kampung." ucap Shaina.
"Tunggu! Mengobati Kakeknya? Apakah dia seorang pemuda yang mirip Papa?" tanya Ezra bersemangat.
"Tunggu!
Ezra pun mengambil Hpnya dan menelpon seseorang. Setelah berbicara panjang lebar dan menanyakan keberadaan mereka, Ezra pun menutup telepon.
"Kalian tunggu di sini, dan Papah juga panggil untuk pulang, biar aku yang mengurus sisanya." Ezra pun keluar rumah dengan tergesak-gesak.
"Mau ngalain dia?" tanya Shaina.
"Mama tenang saja, telepon Papa dan,suruh pulang."
Shaina pun mengambil HP dan melaksanakan perintah Ezra agar suami dan anaknya cepat pulang.
...***...
"Assalamualaikum."
Tampak Ezra datang dan berdiri di depan pintu. Menatap satu persatu keluarga yang menunggunya bersusun di ruang tamu.
"Wa alaikumsalam." sahut mereka bersamaan dan menatap penasaran ke arah Ezra. Ezra pun tersenyum aneh.
"Silahkan masuk Kek!" ucap Ezra.
Kakek dan Huda lun masuk, betapa terkejutnya Rangga, Shaina dan lainnya saat melihat wajah Huda yang benar-benar mirip Fathir sewaktu muda dulu.
"Maasyaa Allah, kau?" Bahkan Zahwa pun merasa penasaran dan menatap wajah tampan di depannya itu.
"Masuklah, ayo duduk. Bibi tolong sediakan makanan yang enak untuk tamu kita." titah Fathir.
__ADS_1
"Baik Tuan."
"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan Kek!" pembuka pembicaraan Fathir.
"Iya... Begitu juga aku." ucap Kakek.
"Saat aki mengambil hasil tes Lab, kami juga sempat bertemu di sana." ucap Fathir.
"Ya, dan saat itu kami sedang tes DNA, karena memang ada hal yang aneh belakangan ini dengan ayah Huda." ucap Kakek lagi.
"Jadi? Maksudnya? Huda juga tes DNA?" tanya Fatjir.
"Iya, dan kami tidak cocok," ucap Kakek.
"ZZZZZZZZMMMMMM."
Semua yang ada di situ saling berpandangan.
"Apakah saya boleh tes DNA bersama Huda?" yanya Fatjir.
"Tentu saja, kalau memang dia bukanlah cucu kami, maka dia harus bertemu dengan keluarga aslinya." ucap Kakek lagi.
"Ya Allah, mudahan ini yang kita harapkan." ucap Shaina merasa terharu.
"Makanan sudah siap Tuan." Bibi memanggil dari pintu dapur.
Mereka semua pun menuju dapur untuk makam berasa. Berbagai hidangan di sajikan di atas meja.
"Setelah makan ini, kita bisa langsung tes DNA, untuk Kakek, biar Kakek diam di rumah ini saja, kalau Kakek masih ingin periksa ke rumah sakit, nanti biar Rangga yang temenin." ucap Fathir.
"Baiklah."
...***...
Kantor polisi. Zaira dan Yola tampak duduk di pojokan ruangan kecil yang sempit.
"Zahwa... Aku tidak akan memaafkan mu, kau telah menghancurkan hidupku." ucap Zaira, sambil menggenggam erat telapak tangannya.
"Iya benar, semua ini gara-gara Zahwa, wanita lumpuh itu sialan." ucapnya lagi.
"Tapi bagaimana kita nisa lepas?" tanya Yola.
"Aku akan menelepon mama, biar mama yang akan membela kita." ucap Zaira lagi.
"Tapi bagaimana kalau mamamu tidak mengenali wajahmu heh" tanya Yola.
"Mama pasti punya pertanyaan yang bisa ku jawab.
"Oooh, baiklah."
"Apakah orangtuamu benar-benar tega membiarkanmu di sini?" tanya Zaira lagi.
"Aku yakin setelah 3 hari Papa akan mafkanku, dia sangat menyayangiku sejak Ummiku meninggal." pede sekali dia😄.
"Yola, ada tamu untukmu!"
Panggil penjaga. Yola pun di keluarkan dan,berjalan menuju ruang tamu di tahanan itu.
Seorang lelaki tampak berdiri membelakangi Yola, terlihat dari fostur tubuhnya, masih muda dan kekar.
"Siapa dia?" tanya Yola heran.
__ADS_1
BERSAMBUNG...