
"Apa benar dia ayahnya Saila Ma?" tanya Yola yang terus menatap Handono tajam, dia berbisik pada Shaina ibunya.
"Iya, kata Papamu begitu," sahut Shaina.
"Baiklah, kita mulai acaranya."
Akad nikah pun di mulai, Huda terlihat tersenyum penuh kemenangan, sedang Saila tampak masam, kadang-kadang melirik Handono, mungkin dia berpikir, apakah benar itu papanya.
Setelah beberapa waktu, mereka pun sudah menyelesaikan ijab kabul. Penghulu pun pamit karena sudah selesai acara.
"Papa, apakah benar dia ayahku?" tanya Saila saat selesai acara pernikahan.
"Ya, dia lah orang yang kau cari selama ini, sekarang siap-siap kita pulang untuk menemui ibumu," ucap Fathir.
Bugh bugh bugh
"Kau jahat, kau begitu kejam Pa!"
Tiba-tiba Saila memukuli Handono sambil ngomel-ngomel.
"Saila, kamu jangan seperti itu, kamu tidak boleh begini, ayo Nak! Kita siap-siap ke kampung untuk menjemput Mamamu,"
Shaina memeluk Saila dan menariknya menuju kamar.
"Ma, hiks hiks hiks," Saila menangis sesunggukan sambil berjalan menuju kamar dan berpegangan dengan Shaina mertua barunya.
"Bang, aku masuk dulu ya!"
Zahwa pun mendatangi Saila dan mamanya di kamar penganten.
"Mama, Saila mau di bawa ke mana?" tanya Zahwa heran, karena Saila tampak memasukkan beberapa lembar baju ke dalam tasnya.
"Dia akan menemui ibunya untuk meminta izin___ kamu beli apa aja? Kok bawaan kamu tadi banyak sekali? " tanya Shaina.
"Oooh, entah Ma, aku lupa beli apa aja hi hi, aku nafsu sekali beli macam-macam, " jawabnya merasa lucu dan tertawa sendiri.
"Ma, aku udah siap, " ujar Saila sambil membawa koper kecilnya.
"Di sana tidak usah lama-lama ya, kalau kamu mau nanti di carikan rumah, dan bawa ibu juga nenek ke kota ini ya,? " ucap Shaina.
"Iya Ma,"
Mereka pun keluar menuju ruang tamu, sementara Huda ternyata lebih siap duluan dan membawa ranselnya.
Fathir memeluk Shaina dan juga Zahwa erat, sedang dengan Yola dia bingung, karena sekarang dia bukan lagi muhrimnya.
__ADS_1
"Sayang, Yola, maaf kalau Papa tidak bisa seperti duku lagi, maafin Papa, " ucapnya, Fathir pun sampai meneteskan air matanya.
"Iiih apaan sih Papa, kok cengeng gitu sih?" sahut Yola, namun dia juga meneteskan air mata, karena sedih, Fathir yang sudah tau hukum-hukum agama karena belajar dengan Shaina merasa sedih, karena tidak bisa lagi memeluk Yola putri yang tertukar itu.
"Papa kok cengeng sekarang? dulu 'kan Papa jagoan, hihi, biar aku yang ganti-in Papa, " Zahwa pun memeluk Yola dan mencium pipi adiknya itu.
"Walau bagaimana pun, kau tetap adikku, tak perduli apa yang terjadi, kau tetap adik kecil ku, jangan pernah menganggap aku atau Mama itu orang lain lagi ya? " pinta Zahwa.
"Hmmm,"
"Ayo berangkat! " ajak Fathir pada Saila dan yang lainnya.
Hap
Fathir memeluk Zahwa dan mengelus perutnya.
"Cucu Kakek ganteng yang pintar ya, kakek ganteng mau menyelesaikan urusan dulu, baru Kakek pulang dengan tenang ya, yang pintar dan sehat, " ucap Fathir.
Shaina pun ikut memeluk suaminya.
"Papa kayak mau pergi lama aja, udah ah, malu tu di lihatin pa handono, " ucap Huda.
Akhirnya mereka pamit pergi menuju Desa Saila untuk menemui ibunya.
***
"Kita makan sore ya, baru kita lanjutkan perjalanan, " ucap Handono.
"Baik, "
Mereka pun menemukan sebuah warung makan yang terlihat bersih dan rapi. Mereka semua turun kecuali Saila.
"Sayang, kok nggak turun? " tanya Huda.
"Males, " sahutnya.
"Lho, nanti sakit, kita udah halal lho, nanti kamu nggak ada tenaga ngelayanin aku," canda Huda.
"Aku udah kenyang makan hati, sana kamu! makan sana! " suara Saila tampak sedikit meninggi karena merasa kesal, Saila tidak ingin menikah dengan Huda, targetnya adalah Rangga😄
"Sayang, kok gitu? ayo laaaah! " bujuk Huda.
Saila tetap merajuk.
Bruk
__ADS_1
Tiba-tiba datang beberapa preman sepertinya ingin meminta uang pada tamu yang ada, dan memukul meja di depan tamu yang dekat dengan pintu masuk.
"Kalian semua, sebelum kalian makan, bayar, dulu pajak makan kalian pada kami, perorang 10.000," ucap ketua preman.
Pak Handono kaget dan, segera mengeluarkan dompetnya.
"Tunggu! " ucap Fathir.
"Ada apa? " tanya Handono.
"Kita harus memberinya pelajaran, " ucap Fathir.
"Tapi Pa, mereka terlihat banyak dan kuat, " ucap Huda, Huda yang tak pernah berkelahi merasa takut.
"Kau tenang saja, lihat saja nanti! "
Pesanan makan Fathir dan yang lainnya datang, Fathir dengan santai menghirup sop buntutnya.
"Hey, Kau! Kau menentang ku heh? " Ketua Preman itu berkacak pinggang di hadapan Fathir.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian, silahkan pergi, aku lagi lapar, karena aku dalam perjalanan yang sangat jauh, " jawab Fathir.
Huda dan Handono hanya diam, apalagi Saila, mereka tidak berani bergerak dan tidak berani menyentuh makanan.
"Kurang, ajar kau! "
Bruk
prang
Mangkok sop Fathir terbang melayang karena di dorong keras oleh preman itu.
"Hey, sebelum aku kehabisan kesabaran, baiknya kalian pergi dari sini!" gertak Fathir lagi, dia mencoba menahan emosinya, sementara pemilik warung sangat takut.
"Heh, kau punya berapa ribu nyawa untuk melawan kami heh? " ucap Preman sombong dan berkacak pinggang.
"Kau mau mencobanya?"
Plak
Tanpa di duga, tangan Fathir tiba-tiba mendarat di pipi preman itu, hingga dia mengelus pipinya karena perih.
"Kurang ajar kau, "
Preman pun menyerang dengan membabi buta, namun tak satu pun serangan itu mengenai Fathir.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
***