
Bima terus membawa masuk Yola.
Sementara Rangga tampak khawatir, Akhirnya dia menelpon Zahwa.
[Helo kak Zahwa, gawat, Yola di bawa masuk paksa, bagaiman ini?]
[Ha? benarkah? baiklah, aku akan menghubungi Bima , kau tenang saja.]
[Baiklah kak.]
Di dalam rumah Bima.
Dret dret dret.
Hp Bima berdering.
[Assalamualaikum, Maaf, apakah Yola masih di sana? tadi dia bilang mau ke rumahmu, karena ada urusan penting.]
Yola yang mendengar suara Zahwa pun punya akal.
[Kakaaaak, iya aku di sini.]
Teriakan Yola terdengar di sebrang telepon, Bima pun kehabisan akal,]
Klok
Bima mematikan HPnya.
"Kurang ajar kamu."
"Kalau kau berani macam macam denganku, maka kau akan jadi tersangka."
"Aaaaaah."
Bruk.
Bima memukul Sofa kasar, sambil melepaskan cengkeramannya dari Yola.
Yola pun tak menyia-nyiakan-nyiakan kesempatan, dia berlari keluar dan memanggil taksi.
Rangga yang melihat dari kejauhan pun merasa lega, walau sebenarnya Rangga tidak suka dengan kakak tirinya itu.
***
"Assalamualaikum."
Rangga memasuki rumah besar keluarga Fathir.
__ADS_1
"Wa alaikumsalam."
Zahwa segera keluar menyambut kedatangan Rangga. Tentu saja dia sangat penasaran dengan kabar yang di bawa Rangga.
"Apa Yola udah datang?" tanya Rangga.
"Kayaknya belum, bagaimana? apa kau tau sesuatu tentang Yola tadi?"
Zahwa sangat penasaran, bahkan dia memegangi tangan adiknya itu sambil menatap mata Rangga.
"Ayo!"
Kembali Rangga yang memegangi tangan kakaknya dan membawanya masuk ke dalam kamar Zahwa.
Sayang, gelagat aneh itu tertangkap oleh ke dua mata Shaina sang mama. Setelah pintu kamar Zahwa di tutup, Shaina pun mendekati pintu Shaina.
Ada apa dengan mereka?
Gumam Shaina.
"Ayo ceritakan!" desak Zahwa.
"Kakak, tolong kakak tenang, mungkin ini di luar dugaan dan sangat sulit di percaya, aku juga sangat syok."
"Jadi benar, kalau Bima adalah ayah dari bayi yang di kandung Yola?"
Bagai petir di siang bolong, Shaina yang memang penasaran dan menguping di daun pintu Zahwa, kaget bukan main.
"Mmm." Rangga hanya menggumam.
"Ya Allah...cobaan apa lagi ini? Rangga adikku, tolong rahasiakan ini, kakak akan menyelesaikan masalah ini, oh iya, aku juga sempat mendengar pembun*h*n, Bima dan Yola saat itu berbicara tentang masalah itu, cuma aku belum paham, apa kau tau sesuatu?" tanya Zahwa.
"Itu... ya.. aku tau, maaf, aku merahasiakannya dari kakak."
Rangga pun menceritakannya, bagaimana kejadian saat dirinya menolong Yola di tepi jurang.
Zahwa berulang kali membuka mulutnya merasa sadis dan menutupnya dengan ke dua tangan mulusnya.
Rangga selesai bercerita.
Zahwa terdiam, dia bingung apa yang harus dia katakan. Sementara Rangga menatap sedih kakaknya, dia pasti sangat tau kepedihan kakak tersayangnya itu.
Ceklek
Tiba tiba pintu kamar Zahwa di buka.
Tap tap tap
__ADS_1
Zahwa dan Rangga menatap terpaku kedatangan mamanya, namun tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut Shaina.
Hap
Dia peluk tubuh kurus anaknya itu, dan dia pun mulai meneteskan air mata dan isakan tangisnya pun mulai terdengar.
"Mama?" lirih Zahwa.
Sedang Rangga mengerti, bahwa mamanya sudah mendengar pembicaraan mereka hari ini.
"Menangis lah Nak! maafkan Mama. Mama tidak bisa mencarikan jodoh yang baik untukmu, maafkan Mama.
Kini Zahwa pun mulai membalas pelukan mamanya dan menangis.
"Assalamualaikum. Sayang, kau di mana?"
Ternyata Fathir sudah datang, habis magrib tadi dia keluar untuk jalan jalan dan mencari cemilan.
"Wa alaikum salam."
Jawab Shaina, sambil meletakkan telunjuknya di hidungnya dan menatap Rangga. Rangga mengangguk tanda mengerti.
"Kau jangan keluar, cukup kita bertiga yang tau, ingat!"
Shaina pun keluar kamar.
"Sayang... kenapa ke kamar Zahwa? apa Yola sudah datang?"
"Aku hanya rindu dengan anak itu, malam ini aku ingin tidur dengan Zahwa ya Beng? sebentar lagi mungkin anak itu tidak bisa lagi ku peluk," ucap Shaina.
Di hatinya seperti ada ribuan sembilu yang menusuk perih.
"Lho? udah besar kok masih di temanin bobo? mending temani Bengbeng kan anget, ha ha," godanya.
"Sama Beng beng kan tiap malem, boleh ya? hanya malam ini!" pinta Shaina lagi.
"Iyaaaa, nggak usah cemberut gitu, kan cuma malam ini, dan juga masih di rumah yang sama." jawab Fathir lagi.
"Terimakasih Beng, bawa apa itu? sebentar, aku mau nengok Yola dulu."
Ceklek...
Kosong...
Yola belum datang.
BERSAMBUNG...
__ADS_1