
Di kantor polisi jam 5 sore. Erza dan Zahwa tampak duduk menunggu giliran untuk di pertemukan dengan Sasa.
"Bang, aku nggak sabaran, semenit rasa setahun bagiku," ucap Zahwa.
"Iya Sayang, aku juga," sahutnya.
"Tuan Ezra... giliran Anda," ucap polisi jaga.
"Terima kasih."
Zahwa dan Ezra pun masuk menemui Sasa.
"Assalamualaikum Sasa..." Ucap Eza.
"Wa alaikum salam," sahut Sasa pelan dan hampir tidak terdengar.
"Sa, apa kabar?" basa basi Ezra.
Sementara Zahwa hanya menatap tajam, bahkan giginya pun di geseknya satu sama lain menahan amarah.
"Baik, Tua," sahutnya masih sangat pelan, Dia pun hanya menunduk tak berani mengangkat kepalanya.
"Aku ingin kau jujur pada kami, tolong katakan, kemana Zaira membawa Arsya?" tanya Ezra santai dan berwibawa.
"Maaf Tuan, aku tidak tau soal itu, aku hanya di suruh memberi peluang untuk mereka," sahutnya.
"Jangan bohong Sa, seberapa banyak dosa yang telah kau buat, kau memisahkan bayi dengan orang tuanya. Apakah kau tidak punya hati nurani?" ucap Ezra.
"Benar Tuan, Saya tidak tau ke mana mereka membawa bayi itu," sahutnya.
Bruk
"Kakau kau tidak mengatakannya, aku akan membunuh mu," ucap Zahwa ketus dan memukul meja di depannya.
Mata Zahwa tampak berapi-api, entahlah saat hamil hingga melahirkan, Zahwa memang sering tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Sayang, kamu keluar saja ya!" pinta Ezra.
"Tidak Bang, aku ingin Dia mengatakan yang sebenarnya," ucap Zahwa.
"Benar Nyonya, saya tidak tau mereka membawa ke mana, hanya saya mendengar, mereka akan pergi ke Luar Negeri yang jauh, nomor telepon mereka pun tidak bisa di hubungi lagi," ucap Sasa.
"Aaaaah heh... "
Zahwa mencoba menjambak rambut Sasa, namun untung saja Ezra sempat memeluk istri mungilnya itu. Zahwa menangis histeris dan mengamuk ingin menggapai Sasa, hatinya sangat sakit telah kehilangan bayi yang sedang lucu-lucunya itu.
"Sayang, ayo kita oulang!" ajak Ezra.
"Tidak, Bang, tolong temukan Arsyaku, Temukan anakku Bang...! "
Zahwa kemudian menangis dan masih mengamuk pelan.Ezra pun membawa Zahwa keluar, sementara Sasa di bawa masuk kembali.
Ezra sudah berjalan ke luar menuju mobil sambil menggandeng Zahwa.
Bruk
Zahwa terjatuh. Pingsan.
"Sayang," panggil Ezra sambil menepuk nepuk pipi Zahwa.
Ezra pun terpaksa menggendong Zahwa masuk ke dalam mobil. Mengolesi leher Zahwa dengan minyak kayu putih. Sementara Arsy tampak tertidur di pelukan Aunty.
"Aunty, kita pulang ke rumah Ummi hari ini," ucap Ezra.
"Iya Tuan," jawabnya.
__ADS_1
Ezra memasangkan pengaman pada Zahwa dan meluncur menuju Kastel Mita. Setelah perjalanan 1 jam mereka pun sampai di halaman yang luas dan asri, ada pohon katapang besar tumbuh di halaman itu, juga ada ayunan anak ketika anak Lili dan anak Ayana ponakan Ezra bermain di sana.
"Sayang, bangun, Hwa...," panggil Ezra sambil membelai-belai pipi Zahwa.
"Eeh, cucuku datang... " Sambut Mita sambil berjalan cepat menuju mobil.
Ezra pun terpaksa menggendong Zahwa kembali, karena tak kunjung siuman.
"Kenapa Zahwa Dik?" tanya Ayana yang juga baru nongol dari dalam rumah.
"Kami tadi habis dari kantor polisi dan bertemu Sasa Dia pingsan saat di sana," ucap Ezra.
"Oooh, Ayana, siapkan bantal di ruang keluarga saja!" tirah Mita.
"Iya Mi," sahut Ayana.
Zahwa pun di bawa masuk oleh Ezra. Di baringkan di ruang keluarga.
***
Hari sudah hampir maghrib, Diba tampak sibuk menyelesaikan masaknya di dapur, entah apa yang di kerjakan nya, sepertinya sedang mengoseng sayur tempe tahu.
Hap
"Sedang apa Sayang," ucap Rangga.
Sekarang Rangga sudah tidak jaga image lagi dengan Diba, mereka tampak sangat akrab layaknya suami istri. Kali ini Rangga berbuat ulah lagi. Diba pun mengecilkan api dan menutup wajan untuk melunakkan sayur yang di masaknya.
"Gaga, kamu tunggu di sana dulu, sebentar lagi masak, kita sholat dulu baru makan ya!" ucap Diba.
"Hemmm enak sekali baunya, wangi," ucap Rangga sambil mencium rambut Diba.
"Eh apaan sih Ga? Sayur masa wangi? Gurih ke'" sahutnya.
"Tapi 'kan aku cium ini, hemmmmh," greget Rangga lagi sambil menciumi leher Diba juga dan memeluknya erat. Menimbulkan Hasrat penganten barunya muncul.
Hap
Eeeh malah Rangga gendong Diba menuju kamarnya, pasti pengen nganu. Benar saja Rangga lupa kalau istrinya lagi masak, dan Diba juga lupa karena merasa geli dan tidak fokus. Rangga menc umbu i isteinya, hingga Diba juga lupa daratan.
tos tos tos
Ketika suara letusan terdengar dari arah dapur terdengar.
"Apaan itu?" tanya Rangga kayak orang Oon, lupa kalee orang lagi masak asal ngegendong aja.
"Ha Gaga," teriak Diba.
Diba lin berlari ke dapur dan mematikan kompor.
"Yaaaaa... Gosong...," ucap Diba dengan nada kesal.
"Ha?" ucap Rangga juga sambil menengok syur yang kini gosong kayak arang.
"Gaga sih... Tuh lihat! Aku penuh perjuangan masaknya ini, ini gara-gara Gaga nih, gangguin orang masak, tu kaaaan... Jadi nggak bisa di makan," ucapnya lagi.
"Maaf, aku kebelet, kita makan di luar saja ya! kamu yang traktir," ucapnya.
"Yeeee, enak aja, emang aku kerja apa?" ucap Diba masih dengan nada kesal.
Dari sore Dia motong sayur hingga hampir manghrib baru selesai, eh giliran hampir masak malah di gangguin, kesel nggak tuh.
"Ha ha ha, ya oke deh aku yang traktir, tapi selesaikan dulu masalah ini," ucap Rangga memberi isyarat.
"Hem." Diba memajukan bibirnya dua senti namun tetap berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Hajat Rangga pun di penuhi Diba dengan baik dan benar🙈.
Azdan berkomandang saat Diba dan Rangga mandi bersama dalam satu bathub yang sama dan membersihkan diri lagi di air kran.
Mereka pun sholat berjamaah 3 raka'at.
"Ayo kita makan di luar!" ajak Rangga.
"Ya, ayo!"
Akhirnya gagal deh makan masakan istri tercinta, karena Bibi hari ini libur pulang kampung.
Mereka sampai di sebuah restoran besar dan mewah.
"Ayo pilih menu!" ucap Rangga.
Namun tak di sangka di restoran itu juga ada Rina dan seorang lelaki yang bukan Huda. Namun mereka sama-sama belum menyadarinya.
Makanan pun datang, Diba sangat menikmati makanan malam ini, tanpa bersuara mereka begitu menikmati hidangan yang sangat lezat.
"Sayang, ini buat kamu," ucap Rangga.
Dia menjulurkan tangannya dan memberikan sesuatu.
"Apa ini?" tanya Diba.
"Buka lah," ucapnya lagi.
Diba pun sangat penasaran dan membuka kotak kecil pemberian Rangga.
"Black card?" senyum Diba merekah bagai bunga mawar yabg baru mekar.
"Aku juga ada kejutan buat kamu," ucap Diba.
Diba memberikan kotak kecil segi 4 panjang ke Rangga.
"Apa ini? Jangan-jangan cecak," ucap Rangga, Rangga paling geli kalau lihat cecak. Dia pernah punya pengalaman dengan cecak saat kecil, saat makan bakso, mangkoknya kejatuhan cecak yang sedang bertengkar di atas flapon.
"Buka aja," titah Diba.
Set set set.
"????"
Rangga bingung dengan alat itu, karena memang dia tidak pernah melihat benda begituan.
"Kok bengong?" tanya Diba.
"Ini apaan? Alay pengukur panas?" tanya nya.
"Heh dasar, coba baca tuh keterangannya," ucap Diba.
"........." setelah lama membaca dan,sesaat,menatap wajah Diba.
"Yeeeeee... Alhamdulillah."
Rangga berdiri, berteriak dan mengangkat tangannya. Semua orang yang ada di dana pun,menatap dirinya, begitu juga Rina.
"Hah, gawat, Mas ada Rangga, ayo kabur, kau bayar ya! aku duluan keluar," ucap Rina.
Rina pun dengan memegang tasnya dan meletakkannya di sisi wajah agar tidak terlihat oleh Rangga atau Diba terus berjalan keluar. Sementara Rangga tampak tersipu.
"Kalian semua yang makan di sini, aku yang traktir," teriak Rangga kemudian, untuk menghilangkan groginya.
"Yeeee... " sahut beberapa orang.
__ADS_1
"Ngapin orang itu berjalan seperti itu, seperti aku kenal?" lirih Diba.
BERSAMBUNG...