
Berulang kali Yola menarik napas dalam dan menghempaskan nya kasar. Kadang menutup matanya karena terasa penat. Semakin mendekat dan mendekat.
"Nak, kalau kamu ingin menjadi orang yang lebih baik, maka kau harus memiliki kesabaran seluas samudera, kendalikan emosimu, agar iblis tak menguasai jiwamu," Suara Alm.Mamanya Shaina kini terngiang ngiang di telinganya.
Tiba tiba Yola berhenti berjalan, kakinya seakan maju mundur, matanya mulai berkunang-kunang hingga akhirnya dia terjatuh di tanah.
Bruk
"Ada orang pingsan, ayo tolong!" teriakan orang yang melihat Yola jatuh.
"Ada apa? Siapa yang jatuh?" tanya Huda seraya berdiri.
"Mas, di sini saja, jangan ke sana! Sudah banyak yang nolongin tuh," ucap Rina sambil terus menyantap makanannya yang baru saja di hidangkan, Huda pun menurut.
Yola di bawa masuk ke dalam mobil taksi yang tadi membawanya
"Nona, bangun! Nona!" ucap supir yang tadi membantu membawa Yola mengikuti Huda.
"Apakah Dia keluarga Anda?" selidik pengunjung yang ikut membantu mengangkat Yola.
"Bukan, tadi Dia naik taxi saya, karena mengikuti suam___eh mau makan di restauran ini," ucap Supir hampir keceplosan.
"Ellleh, jangan jangan kau bohong! ingin menggagahi Dia ya? aku nggak percaya! aku akan menjaga gadis ini sampai Dia siuman," ucap seorang ibu ibu yang terlihat agak gendut dan mike up tebal.
"Bu, jangan menuduh saya begitu, silahkan ibu tunggu, tapi jangan bicara sembarangan, ibu bisa kana pasal," ucap supir tak terima di fitnah.
"iya, iya."
Akhirnya Ada beberapa orang yang menunggu Yola siuman.
Sementara Huda dan Rina pun tampak sudah selesai makan dan mereka pergi meninggalkan warung makan, tanpa penasaran dengan beberapa orang yang bergerombol di dekat mobil taksi.
"Sayang, habis ini mau ke mana lagi?" tanya Huda.
"Kita lihat lihat perlengkapan bayi yuk!" ajaknya.
"Oooh, boleh, ayo!"
Mereka meluncur menuju Mall yang kumayan jauh dari kantor Huda.
Sementara Yola tampak mulai siuman dan menggeliat.
"Nona... Bangun! Kau sudah sadar?" tanya wanita yang sok sok perhatian tadi.
"Pusing, aduh, kenapa tanganku terasa sakit?" tanya Yola sambil memegangi pergelangan tangannya.
"Coba ku lihat!" wanita itu pun membuka dengan menarik sedikit baju yola.
"Ooooh, ternyata memar, sini ku olesin minyak kayu putih dulu!" ucap wanita itu.
Akhirnya Yola sudah mulai membaik.
"Pak, tolong antar aku pulang!"
Supir pun membawa Yola kembali ke rumahnya.
***
__ADS_1
"Gaga, gimana ini? Lihat! Jadi berantakan dan basah," ucap Diba, Dia merapikan bajunya, yang acak acakan, ternyata kali ini pengantin baru ini baru melakukan di kantor😃
"Ya maaf, aku nggak sengaja, tunggu! Biar ku belikan baju yang baru, kau masuk dulu ke kamar mandi." titah Rangga.
Diba pun menurut.
"Helo, kemarilah! Ada hal penting," titah Rangga pada asistennya.
"Baik Bos," sahutnya.
Ceklek
"Ada apa Bos?"
"Astagfirullah kok bisa ketinggalan begitu sih?" lirih hati Rangga saat pengaman segi tiga Diba ada di bawah dekat sofa. Ternyata Diba lupa membawa ke kamar mandi.
"Eh anu, tolong minjam pulpen sebentar," ucap Rangga gugup.
"Baik Bos," Sekretaris itu pun bingung.
Sepeninggal sekretarisnya, Rangga pun memungut pengaman sang istri, dan memasukkannya dalam saku celananya.
Sementara sang sekretaris berjalan ke mejanya.
"Ada apa? Di marahi?" tanya temannya yang lain.
"Nggak, Bos mau minjem pulpen," sahutnya.
"Cuma itu? Kenapa nggak dari telepon tadi saja?" ucap sang teman kemudian heran.
Tok tok tok
Pintu di buka.
"Terima kasih, oh iya, aku mau kau membelikan baju buat istriku, bajunya basah bakas jatuh di kamar mandi, bawa seseorang yang bisa membayangkan ukuran baju istriku, cepat! jangan pake lama, dia kedinginan," ucap Rangga.
"Iya Bos,"
Rangga pun memberikn uang Cash satu juta ke sekretarisnya. Rangga menutup pintu dan kembali ke dalam.
"Sayang, kau lagi ngapain?" tanya Rangga, seraya menempelkan telinganya di pintu kamar mandi.
"Nggak ngapa ngapain," ucap Diba.
"Punyamu ketinggalan di luar nih, ku masukin ke saku," ucap Rangga serasa merasa geli sendiri, masa cowo yang dulunya coll kini malah nyimpenin segi tiga pengaman milik istrinya yang tercecer di lantai.
"Ha? Gagaaaaa," Diba pun menutup wajahnya karena malu, karena gugup ternyata Diba saat ini tidak menggunakan itu😛.
setelah 15 menit, sekretaris pun datang dengan membawakan baju syar'i dan kerudungnya sekalian.
Setelah berganti baju, Diba lin keluar kamar mandi.
"Jadi bagaimana ini? Masa aku nggak pakai itu?" tanya Diba malu malu.
"Nggak papa, nggak kelihatan juga kok, ayo!"
Rangga dan Diba pun pergi meninggalkan perkantoran menuju pulang.
__ADS_1
"Asyik juga ya, kalau udah nikah, kalau ku tau gini, dari dulu aja aku ngelamar kamu," goda Rangga sambil tersenyum aneh.
"Ih apaan sih, malu ah," ucap Diba.
"Tapi kamu suka nggak?" tanya Rangga semakin menggoda sang istri.
"Au ah, udah ah, nggak tau," ucap Diba seraya memalingkan wajahnya menatap jendela.
"Hemmm, pasti kamu suka, pengen punya anak berapa?" tanyanya lagi bawel.
"Terserah," Diba tampak mulai mengantuk dan bersandar di kursinya, tak membutuhkan waktu lama, Dia pun tertidur pulas.
"Dasar si ratu tidur, nggak bisa ketemu tempat empuk langsung saja tertidur," ucap Rangga menggumam pelan.
Rangga memutar,lagu kesukaannya, seli,sepanjang jalan membuat Rangga kadang mengucek matanya karena menahan kantuk.
"Huda? Bukankah itu Huda?" Netranya menangkap sosok yang sangat di kenalnya.
"Dengan siapa Dia?"
Rangga menepikan mobilnya di bahu jalan, Huda tampak merangkul bahu Rina sambil menikmati Bakso di pinggir jalan.
"Kurang ajar Huda, ternyata Dia kembali membohongi Kak Yola, aku akan kasih pelajaran nanti," ucap Rangga, karena merasa kasihan dengan Diba yang tertidur, Rangga pun melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.
***
Yola sudah sampai di rumahnya, Dia memasuki pekarangan dengan hati yang sangat hancur berkeping keping.
"Kau sangat jahat Mas Huda," lirih,hatinya.
"Yola, ada apa?" sapa Zahwa,yang baru selesai makanin Arsy di dapur.
"Kakak, nggak papa kok, hei Arsy, sini ikut Aunty cantik," Yola berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
"Tapi kok kamu tampak habis menangis? kamu sudah makan? Kamu juga tampak pucat," ucap Zahwa lagi, sambil menyerahkan Arsy ke gendongan Yola.
"Aku masih keingatan Mama Kak," bohongnya.
"Nggak usah terlalu di ingat, kita pasti bisa melalui ini, oh iya, kita belanja ke supermarket yuk!" ajak Zahwa.
"Hari ini?" tanya Yola.
"Iya, habis aku beres beres kamar duku ya," ucapnya lagi
"Baik Kak, aku mau sama Arsy ya,"
Yola pun membawa Arsya ke ruang bermain di pojokan rumah.
"Bi... Kami mau pergi belanja, Bibi mau ikut? ajak Zahwa.
"Tidak usah Non, beli buah aj, buah di kulkas habis," ucap Bibi
"Baik... Yol Ayo!"
Mereka pun pergi di antar Supir pribadi. Sepanjang jalan mereka tampak berbincang tentang kelucuan Arsy, Zahwa sudah tidak ingin membahas Arsya, padahal kenyataannya setiap melihat Arsy, pasti Zahwa mengingat Arsya juga.
BERSAMBUNG...
__ADS_1