
Semua orang sudah meninggalkan pemakaman Fathir, hanya tinggal Shaina, Zahwa, Yola, Rangga dan juga Ezra.
Rangga dan Ezra tampak berdiri di belakang Wanitanya masing-masing.
Zahwa terus membelai tanah basah itu, begitu juga Shaina.
"Ayo sayang! Mama, kita pulang! kita perlu istirahat dan menyiapkan malam ini untuk tahlilan," ucap Ezra.
"Iya Ma, ayo!" ajak Rangga juga.
"Iya, baiklah," Shaina pun berdiri di ikuti Zahwa dan Yola.
Mereka akhirnya mau pulang. Sepanjang jalan hanya sepi, namun kadang-kadang isakan tangis terdengar pelan.
Sesampainya di rumah, Zahwa pun disuruh mandi dan istirahat menenangkan diri. Ezra slalu setia menemani Zahwa, memijit kaki dan tangan Zahwa sampai sang istri tertidur.
"Kak Ezra, ayo makan!" ajak Rangga yang nongol di depan pintu kamar, karena kamar agak terbuka sedikit.
"Kalian duluan saja, aku menunggu Zahwa bangun dulu baru makan," sahut Ezra, padahal 'kan Zahwa sudah makan!
"Baiklah,"
Rangga meninggalkan kamar Ezra, namun tiba-tiba suara teriakan dsri kamar Yola mengagetkan orang rumah.
"Huaaaa, papaaaaa, mengapa kau tinggalkan aku paaaaa....."
Brak preng
Seperti benda jatuh karena di lempar dari arah kamar Yola, sepertinya dia sedang labil lagi.
"Bang, apa itu?"
Zahwa kaget dan terbangun dari tidurnya, dia pun duduk dan ingin turun dari ranjangnya.
"Sayang, kamu di sini saja, biar aku lihat!" ucap Ezra.
"Ezra pun keluar, namun ternyata Zahwa mengikuti karena penasaran.
"Yola, sabar Nak, masih ada Mama, Kak Zahwa dan juga Rangga, Kakek kamu 'kan juga masih ada, Papa kamu juga 'kan masih ada," ucap Shaina membujuk, namun Shaina lupa, dia tak sengaja menyebut Papanya masih ada, yaitu Jery, yang pernah hampir memlerkosanya.
"Papa? Papaku hanya Fathir, tak ada Pala yang lain, Papaaaa," Yola tetap ngamuk dan membanting benda yang ada di kamarnya.
Brak
Hingga mengenai kaki Shaina,
Ciisssss
Darah pun mengucur dari kaki Shaina yang memang tidak memakai kaos kaki karena dalam rumah. Rangga yang baru masuk pun kaget.
"Yola! Hentikan!" Rangga mencengkram tangan Yola kasar dan sangat kuat.
"Sakit," ucap Yola.
"Mama,"
Zahwa yang melihat mamanya terluka pun masuk dan berjalan mendekati Shaina.
"Sayang, awas beling!" ucap Ezra kaget saat Zahwa menerobos dari sampingnya masuk ke kamar yang penuh beling.
__ADS_1
"Aaaau,"
Kaki Zahwa pun berdarah, karena teri jak beling yang berserakan.
"Ini Tuan,"
Bibi dengan sigap menyerahkan sendal jepit yang ada di dekat lintu, melemlarnya ke Ezra, Ezra lun memakainya dan menggendong Zahwa.
"Mama Bang, tolong Mama!" ucap Zahwa.
"Iya, nanti dulu___ Bi, tolong telepon Bidan dekat sini, bawa peralatan bedah kecil, mungkin beling ini dalam," ucap Ezra khawatir.
"Aku takut di bedah Bang," ucap Zahwa.
"Apa kau akan membiarkan beling ini di dalam sana Sayang?" ucap Ezra pelan.
"Hmmm," Zahwa menggeleng.
Ezra mendudukkan Zahwa di sofa, mengambil tissu dan meletakkannya di bawah kaki Zahwa karena darahnya menetes satu-persatu. Lalu ezra kembali ke kamar dan melempar sendal ke Rangga.
"Bawa Mama ke luar dulu," titah Ezra.
Rangga lun memakai sendal dan menggendong mamanya untuk di bawa keluar, sementara Yola masih berdiri di tempatnya.
Ezra kembali ke kamar dan melempar sendal ke arah Yola, Yola pun memakainya, karena ternyata dia juga takut beling.
Bidan yang di panggil pun sudah datang.
"Bang, aku takut," ucap Zahwa, sambil menggenggam tangan Ezra.
"Nggak papa kok, tahan sedikit." bujuk Ezra.
Bidan pun mulai membersihkan darah, karena dari tadi Zahwa sangat takut untuk sekedar ngelap darahnya yang menetes.
"Pelan-pelan Bu," ucap Ezra merasa kasian.
"Ini agak dalam, biar kita bius sedikit ya? biar nggak terlalu terasa,"
"Iya Bu, bius aja," ucap Zahwa merasa senang. Setidaknya dia tidak akan merasakan sakit, hatinya sudah sakit berkeping-keping karena kehilangan sosok ayah yang sangat baik.
Zahwa pun menangis saat Bidan mengambil 2 pecahan beling di kakinya.
"Masih sakit?" tanya Ezra sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Tidak Bang," jawab Zahwa.
"Kok masih nangis?" ucap Ezra lagi.
"Ini yang sakit Bang,"Zahwa menempelkan tangan Ezra ke dadanya.
Ezra pun membawa kepala istrinya ke dadanya.
Bidan sudah selesai mengambil beling di kaki Zahwa, kemudian mengobatinya.
Bu Bidan juga memeriksa kaki Shaina yang tadi kena lemparan gelas yang pecah.
"Nah sudah selesai,"
"Bu, apakah ini tidak apa-apa? Apa tidak infeksi?" tanya Ezra khawatir.
__ADS_1
"Tidak akaaaan, ini bukan paku, pasti cepat sembuh," ucap Bu Bidan lagi.
Bidan pun pamit karena harus praktek lagi.
"Yola, ingat! kami di sini keluargamu, jadi jangan karena Papa Fathir tidak ada kamu bersikap dingin, ingat! kamu di sini bukan sehari dua hari, tapi kita sudah di sini selama berpuluh-puluh tahun 'kan?" ucap Shaina pada Yola.
"Maaa, maaf, aku sangat terpukul, bahkan terakhir kemaren saat dia pergi ke kampung, dia tidak bisa memelukku, karena aku bukanlah darah dagingnya, walau kami sangat ingin, hiks hiks," ical Yola lagi.
"Sayang, kamu tetap anak Papa Fathir, do'akan dia di sana, jadilah anak baik, kamu pasti bisa!"
Shaina pun memeluk Yola dan mereka berdua menangis bersama.
***
"Bima! Kau kerja di sini?" Zaira yang syok melihat Bima yang jadi pramuniaga di sebuah warung makan kaget, saat dia melihat teman lamanya itu kini kerja sebagai pelayan warung.
"Kau siapa?" tanya Bima yang tak mengenali Zaira.
"Aku Zaira, mantan Ezra!" ucapnya.
"Zaira? Mana mungkin? Kau bukan Zaira, aku tidak mengenalmu!" ucapnya.
"Ini aku, aku Oplas Bim," ucapnya.
"Ha?" kembali Bima menatap wajah Zaira.
"Bim, temui aku nanti malam di sini," Zaira pun menuliskan alamat.
"Untuk apa?" tanya Bima.
"Aku akan memberimu pekerjaan yang layak, datang saja ke alamat itu,"
Zaira pun ke kasir dan membayar makanannya.
"Ingat ya!" Ucap Zaira saat melewati Bima.
Zaira pergi meninggalkan Bima.
"Siapa?" tanya Mama Zaira saat berada di dalam mobil.
"Dia mantan tunangan Zahwa, kiya akan kerjasama dengannya, nanti malam kita akan menemuinya di caffe kita yang di ono," ucap Zaira.
"Benarkah? wah, pasti dia mau kerjasama 'kan? Bagus, kalau ada lagi musuh bebuyutan Ezra atau Zahwa, ayo kita ajak kerjasama," ucap Mamanya.
***
"Mau apa kau menyuruhku datang ke mari?" tanya Bima.
"Ayo kita kerjasama!" ajak Zaira.
"Kerjasama apa?" tanya Bima heran.
"Bukankah kau dendam sama keluarga Zahwa? ayo kita kerjasama!" ucapnya.
"Hmmmm, kerjasama seperti apa?" Bima masih bingung.
"Kita akan membuat hidup mereka bagai di neraka, aku akan membalas sakit hatiku selama ini, bahkan aku tela Oplas demi membalas dendam pada mereka.
Bima tampak termenung. Dan akhirnya Bima pun mengangguk.
__ADS_1
" Deal,"
BERSBUNG...