
Yola menatap Zahwa lekat Dia seakan tak percaya apa yang didengarnya tadi. Zahwa mendukung kebahagiaan dirinya meskipun dia meminta pisah dari Huda.
"Apakah itu benar?" tanya Yola.
"Iya, kau pilih saj jalanmu, untuk kebahagiaanmu sendiri, aku pasti mendukungmu kok," sahut Zahwa lagi.
Yola tersenyum.
Sesaat kemudian acara Majelis Taklim pun dimulai. Yola, Zahwa dan orang-orang yang berada di situ pun khusus mendengarkan Ustadzah Zila berceramah, dalam ceramahnya mengangkat tema poligami.
Ia berkata : Lelaki itu boleh mempunyai empat istri dengan satu syarat, Dia bisa berlaku adil satu sama lainnya, tidak pilih kasih dan tidak menyakiti hati salah satu diantaranya. Ustadzah Zila juga menegaskan hal-hal kecil lainnya seperti pemberian uang jajan, pakaian dan juga rumah semua itu harus dibicarakan sebelum melakukan poligami.
Tak berapa lama acara pun selesai. Yola dan Zahwa tampak pamit dengan Mita sang mertua. Mereka berjalan ke parkiran namun tak sengaja Bima juga sudah berada di parkiran tersebut. Entah mengapa, Yola memberanikan diri menyapa Bima dan mendekati Bima, sambil menyapa gadis kecilnya.
"Halo cantik... mau ikutan tante?" ucap Yola. "Moooo...," ucap anak Bima.
Yola pun mengambil anak Bima dari gendongannya. kemudian menimang-nimangnya.
"Cilukba...." Anak Bima pun tertawa merasa senang.
"Ayo kita pulang" ajak Zahwa yang dari tadi hanya berdiri di samping mobil.
"Ya Kak... ini ikut papamu," ucap Yola.
Yola pun menyerahkan gadis kecil itu kepada sang ayah Bima. Bima hanya menatap sekilas, kemudian dia pun menundukkan wajahnya dan masuk ke dalam mobil, tanpa berkata apa-apa.
Sepeninggalan Yola Bima duduk di dalam mobil dan menyandarkan tubuhnya di kursi sopir.
"Ya Allah... ampunkan hamba yang lemah ini, Hamba masih banyak kurang ya Allah," lirihnya.
Mungkin dia merasa berdosa karena telah menatap istri orang lain, sedangkan ada penyesalan di balik lubuk hatinya Yang terdalam, Dia telah mencampakkan Yola dulu.
***
Zahwa dan Yola sudah sampai di kediaman mereka, Yola pun menggendong Arsyi dan duduk di sofa ruang tamu. Zahwa pun mengikuti dan duduk di seberang Yola.
"Yola... apakah kau masih mencintai Bima?" tanya Zahwa.
"Kenapa kakak berpikiran begitu?" sahut Yola. "Kakak lihat kok dari eksposisi wajah mu, yang menatap dlBima tadi," ucap zahwa.
"Tapi aku harus memendam rasa itu Kak," ucap Yola.
"Kalau kau merasa tidak sanggup dengan keadaan mu sekarang, lebih baik kau lepaskan... tapi kalau kau merasa sanggup, silahkan kau terus kan, kakak tidak melarang kamu, karena itu demi kebahagiaanmu."
"Iya kak, baiklah aku mau ke dalam dulu kak," ucap Yola.
"Oke aku juga mau istirahat," ucap Zahwa. mereka pun masuk ke kamar masing-masing.
***
Huda tampak sudah mandi basah siang itu. Dia pun berniat kembali ke tokonya namun, tanpa sengaja dia melihat celana laki-laki yang ada di kaki ranjang di kamar tersebut.
__ADS_1
Huda pun kaget.
"Rina... kemarilah!" titah Huda.
"Ada apa Mas?" sehut Rina.
"Celana siapa itu?" tanya Huda.
Rina pun menatap ke arah telunjuk Huda. Rina kaget dan gugup.
"Itu...? tunggu!"ucapnya.
Rena pun mengambil celana itu.
"Bukankah ini celana mu?" ucapnya.
"Tidak... ini bukan milikku. aku tidak mempunyai celana seperti ini," ucapnya.
"Masa... ini 'kan celana kamu minggu kemarin, masa lupa?" ucapnya.
"Masa? aku tidak punya celana seperti itu," ucapnya.
"Ah kamu pasti lupa, ayo cepat! nanti kamu terlambat untuk ke toko, dan pulang ke rumah, nanti jangan-jangan Yola curiga lagi," ucap Rina mengalihkan perhatian Huda.
"Baiklah, aku akan pergi. Besok mungkin aku akan ke mari lagi. Assalamualaikum... dah...."
"Waalaikumsalam," sahut Rina.
"Ish, kurang ajar, sembrono sekali Mas To ini," umpet Rina seraya membuang cela na dalam selingkuhannya.
Rina pun membersihkan diri, dan rebahan di bathub kamar mandi karena merasa lelah, siang ini, Dia melayani 2 pria sekaligus.
"Hups... cape, tapi asyik juga, bisa dapat uang dari dua orang sekaligus.
***
Toto yang di ketahui selingkuhan Rina ternyata adalah pengusaha kichen set yang tergolong sukses. Mempunyai karyawan yang banyak.
"Bos, semua barang sudah siap di kirim ke alamatnya," ucap Karyawannya.
"Baiklah, ayo kita berangkat," ucap Toto.
"Siang-siang gini kok mandi basah sih Bos?" tanya Karyawan yang memang suka bercanda.
"Gerah nih, panas," sahutnya.
Karyawan di sana pun tersenyum. Karena tau, kalau Toto suka dengan lobang-lobang semut yang berserakan.😄.
Yola yang memang dengan sigap mengirim mata-mata untuk mengikuti Toto pun menelepon Yola, memberitahukan siapa sebenarnya lelaki yang menyelinap lewat pintu belakang Rina.
"Baiklah, kau boleh pergi!" titah Yola di seberang telepon.
__ADS_1
***
Bram sudah berada di Apartemen. Dia pun masuk ke apartemennya tanpa curiga sedikitpun.
"Zaira... Apakah kau di dalam?" panggilnya.
"Iya Mas... sebentar," sahut Zaira.
"Mana Lucky?" tanya Bram.
"Dia sedang bersama mama keluar. Entah.. aku juga tidak tahu, mungkin ke balkon," ucap Zaira.
"Oh... baiklah, tolong bikinkan aku air, aku haus," ucap Bram.
Itu memang kebiasaan Bram, sehabis pulang kerja, Bram selalu meminta air untuk minum, dan ini kesempatanku untuk melakukan rencanaku.
"Baik Mas... sebentar ya,- ucapnya.
Zaira pun ke belakang dan membuatkan air putih dingin. Kemudian memasukkan serbuk ke dalam air tersebut.
"Ini mas," ucapnya.
"Loh kok air putih?" protesnya.
"Mas 'kan baru saja datang dari luar, dengan hawa panas. Masa mau air teh, sehat air putih dong Mas," ucapnya.
"Oh Baiklah, aku akan meminumnya aku mau mandi dulu ucapnya.
"Eh... tapi airnya diminum dulu dong Mas, nanti keburu kemasukan debu," bujuk Zaira.
"Baiklah," ucapnya.
Bram pun duduk di kursi yang ada di ruangan itu, sambil meneguk semua air yang dibawakan oleh Zaira.
Zahira sengaja memberikan gelas yang kecil agar air itu habis sempurna.
"Begitu dong mas, air putih sehat, tidak seperti air teh, ada gulanya nanti malah kencing manis," ucap Zaira
"Oke... aku mau mandi dulu ya," ucapnya.
Bram pun pergi menuju kamar mandi, sedang Zaira menyiapkan baju ganti untuk Bram, "Bram... kau akan tahu karena kau telah mengkhianati kepercayaan ku, kita lihat saja apa yang bisa ku lakukan," ucap Zaira.
Zaira pun tersenyum sinis.
Bruk
Ketika terdengar suara benda jatuh dari kamar mandi. Zaira pun mendekati pintu itu dan mendorongnya, memang kebiasaan Bram, yang tidak pernah mengunci kamar mandi saat mandi, kecuali lagi BAB.
"Heh... Kau berani bermain dengan aku, wanita terlicik di dunia ini," ucap Zaira.
Dia pun menelepon seseorang. Menyuruh orang itu mendatangi Aprtemennya. Tak berapa lama, ada 2 orang lelaki tegap datang dan membopong tubuh Bram meninggalkan Apartemen tersebut. Namun Zaira sudah memantau, orang yang sering mengintainya sedang berada di balkon rumah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...