
Rangga pun turun dan tergesak-gesak memasuki rumahnya.
"Bima! Kurang ajar kau!"
Rangga dengan emosi menarik baju Rangga dan meninju wajah Rangga hingga membiru.
"Rangga, jangan! Nak, istigfar!"
Shaina yang datang pun melerai perkelahian mereka.
"Ma, lihat rumah kita, semuanya hancur berantakan."
Rangga pun mundur dan mengambil HP nya. Sepertinya dia menelpon polisi.
"Kalian keterlaluan, kalian ingin membuat kami jadi gelandangan heh? Lebih baik aku hidup di penjara dari pada hidup jadi gelandangan."
Bruk brak brik.
Dia kembali melempar barang-barang yang ada di ruang tamu.
"Aduuuuh, Nyonya, bagaimana ini?"
Bibi panik, dari tadi dia hanya diam di dapur tidak berani keluar. Bima yang terlihat seperti kesetanan itu mengamuk, karena perusahaan Papanya bangkrut.
"Bima, berhenti!"
Shaina pun mencoba menenangkan Bima.
"Perempuan sok alim, tidak punya hati.".Bruk
"Au... "
Tiba-tiba Bima melemparkan pas bunga ke arah Shaina, maksudnya habya menggertak, namun malah terkena kepala Shaina. Sontak saja darah segar membanjiri wajahnya, karena terjadi sobekan di jidad Shaina yang tidak tertutup kerudung.
"Mama... "
Rangga yang tadi menelpon pun kaget dan,segera berlari mendekati ibunya, menyeka darah dengan tangannya, dan segera menggandeng mamanya membawanya ke Rumah sakit.
"Bima, awas kau!"
Sambil berjalan keluar Rangga pun menggertak Bima yang juga terlihat kaget, karena tidak menyangka benda itu bisa mengenai wajah mertuanya, Shaina yang sangat baik pada Bima, tak pernah marah walau Bima sering bertengkar dengan Yola, namun kali ini dia telah menyakiti mertuanya itu.
...***...
Shaina di bawa ke Klinik terdekat untuk di periksa.
"Bu, bagaimana luka Mama saya?" Rangga khawatir hingga selama pemeriksaan bidan, Rangga slalu menanyakan keadaan mamanya.
"Hanya luka, tapi ini perlu di jahit, karena terlalu lebar."
__ADS_1
Dret... Dret... Dret...
Hp Shaina bergetar.
"Helo, ada apa? Kami sedang makan siang."
Jawab Rangga berbohong, ternyata Fathir uang menelpon.
"Rangga, kok bohong? Itu kan papamu?" Tanyanya.
"Baiklah,"
Rangga menutup telepon.
"Ma, papa juga sudah keterlaluan pada Mama, aku tidak akan membiarkan siapa pin bisa menyakiti mama."
Sahut Rangga.
Bidan pun selesai menjahit luka Shaina.
"ini obatnya, di minum 3 kali sehari."
"Terima kasih bu."
Setelah membayar, mereka pun pergi.
"Ini mau pulang Ma, aku tidak akan membawa mama ke rumah itu lagi, kita akan diam di rumah kakek, rumah itu sekarang kosong, biar kita dan kak Zahwa tinggal di sana."
"Rangga, bagaimana dengan Papa, Yola, juga rumah yang berantakan tadi?"
"Ma, Papa sudah menyalahkan mama karena Yola bertindak bodoh, apakah Mama harus tetap sabar, aku nggak rela Mama di sakitin Lelaki itu."
Rangga sangat marah pada papa sambungnya itu.
"Nak, dia itu Ayahmu, mengapa kau menyebutnya Lelaki itu? Lebih baik memaafkan dan memperbaiki diri kita, daripada bertengkar yang nggak membuahkan hasil." Shaina mencoba membujuk Rangga.
"Tidak Ma, kali ini tolong dengarkan Rangga!"
Akhirnya Shaina mengakah dan diam, mungkin tidak ada guna melawan, karena Rangga masih sangat marah dan sedang di kuasai hawa jahat.
Ciiiit
Bruk
"Aaaaaa."
Mobil yang di kendarai Shaina dan Rangga tiba-tiba menabrak sebuah mobil yang memang sengaja rem mendadak di sepan mereka.
"Rasain kalian, kalian akan tau, karena telah membuat adikku menderita."
__ADS_1
Ternyata Bima yang sengaja menghentikan mobil mereka tepat di hadapan mobil Rangga.
Terlihat asap tebal mengepul dari mesin monil Rangga. Rangga juga terlihat terjeput di antra setirannya.
"Ayo tolong! tolong mereka."
Semua orang yang berada di sekitar situ pun mendekat, dan berusaha membuka pintu mobil, namun tidak bisa. Asap semakin mengepul, bahkan bau menyengat seperti terbakar kini tercium hebat.
"Panggil Polisi!"
Teriak seseorang. Mereka kini sibuk berusaha memecahkan kaca agar bisa membuka pintu mobil.
...***...
Shaina dan Rangga tampak di rawat di ruang gawat darurat, mereka belum sadarkan diri.
"Apakah ada keluarga yang nisa di hubungi, kita harus mengoperasi merek." Ucap seorang dokter bedah.
"Dok, kami masih mencari identitas diri mereka."
"Maaf, ada keluarga yang mengenali mereka." Ucap seorang perawat yang datang bersama seseorang.
"Aku keluarganya."
Seorang gadis cantik tiba-tiba datang mengaku sebagai keluarga Shaina.
"Baik Nona, siapa namamu?"
"Zahwa... "
Ternyata Mai atau Zaira yang mengetahui kecelakaan Shaina dan Rangga karena melihat dari status Bima saat kejadian.
Sebuah foto mobil sedang kecelakaan di unggah oleh Facebook Bima kakanya, dan sebuah kata.
'yang telah menyakiti pasti akan sakit ha ha ha'
Begitulah bunyi status kakanya, hingga Zaira memutuskan untuk mendatangi kejadian itu, dan benar saja, Shaina dan Rangga sedang kecelakaan, Shaina sempat di tolong dan di keluarkan dari mobil, namun Rangga terperangkap hingga mobil sempat terbakar.
"Nona siapa dia?"
"Aku adalah anaknya, Zahwa, aku ingin membawa mereka berobat ke Rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya.
"Baiklah, kita akan mengurus prosedurnya dulu.
Ternyata Zaira benar-benar nekat. Apa lagi yang ia rencananya.
"Heh, tak ku sangka, pembalasanku begitu mulus, tuhan sedang berpihak ke padaku kali ini, baiklah, kita lihat saja apa yang akan ku lakukan dengan mereka."
...BERSAMBUNG......
__ADS_1