Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Kesel dan Merajuk


__ADS_3

Ezra memeluk erat tubuh Zahwa. Ezra tidak akan bisa tidur kalau tanpa wanita itu di sampingnya, rasa cintanya yang begitu dalam, membuat dia slalu ingin berdua.


"Sholat subuh dulu Bang!" ajak Zahwa.


"Bentar lagi Hwa, 'kan baru azan," jawabnya.


"Sholat sunnah dulu, sebelum Arsy bangun," tambah Zahwa.


"Mau sunnah yang lain boleh?" goda Ezra menatap Zahwa intens.


"Ih Abang apaan sih? Ayo! Keburu siang," ucap Zahwa.


"Ha ha ha, hemmmh,"


"Au Abaaaang!" pekik Zahwa.


Ezra pun menggelitik pinggang Zahwa, hingga Zahw pun berguling-guling karena heli.


"Uweeeek, uweeeek."


Eh Arsy terbangun mendengar candaan Zahwa dan Ezra. Zahwa pun segera menggendong Arsya dan menenangkannya.


"Ih, Arsya nggak asyik, gangguan Aba aja Loe Sy," ucap Ezra.


"Bang, kira-kira Arsya lagi ngapain ya? Apakah kalau dia nanti besar, akan mengenali kita?" tiba-tiba Zahwa menanyakan itu.


"Sayang, udah jangan bahas itu lagi, Abang slalu berusaha mencari Dia, jangan berpikir macam-macam," ucap Ezra.


Ezra pun mengelus pindah Zahwa, dan mencium kepala isterinya itu lembut.


"Ayo sholat dulu!" ajak Ezra kemudian.


Arsy tampak kembali tidur. Zahwa dan Ezra pun berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Kamar mandi Ezra dengan Wc beda tempat ya, jadi bisa buat wudhu sekalian. Mereka pun sholat subuh berjamaah.


Hari sudah semakin siang, ketika Yola menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya pagi ini, namun...


"Ha ha ha... Iya, nanti aku belikan yang bagus." Terdengar suara tawa Huda dari kamar Rina, mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu. Yola pun menutup telinganya dan terus naik, namun saat Dia berada tepat di depan pintu Huda.


Ceklek


"Yola... " sapa Huda ketika melihat isteri pertamanya itu ada di depannya.


Yola yang juga tak menyangka kalau Huda dan Rina akan keluar dari kamar pun kaget. Dia dengan spontan menatap Tangan Huda yang melingkar di pinggang Rina sejenak, lalu menatap wajah Huda. Mereka tampak mandi basah, ya tentu saja mandi basah, Yola pun tau itu, karena tadi malam, dan Yola pun mendengar lenguhan yang menusuk hati Yola tadi malam.


"Eh Mas, mau makan sekarang? Biar Yola siapkan," ucap Yola.


"Tidak usah, biar aku saja," sahut Rina cepat.

__ADS_1


"Iya, nggak papa, kamu mau ke kamar 'kan? kamu selesaikan aja dulu urusanmu di kamar, mungkin kamu mau mandi dulu," ucap Huda.


Ucapan Huda itu seakan menambah tusukan duri di ulu hatinya.


"Oooh, oke, aku permisi dulu," ucapnya.


Yola pun berjalan cepat menuju kamarnya, air matanya hampir meledak di tengah jalan, sakit yang luar biasa yang ia rasakan, bagaimana tidak, saat ini Dia harus berbagi ranjang dengan wanita lain, apalagi saat Dia melihat pasangan suami isteri itu sedang mandi basah. Hatinya bagai di cabik-cabik.


Huda dan Rina sudah sampai di dapur, namun di dapur ternyata audah ada Ezra dan Zahwa yang juga ingin sarapan.


"Mana Yola?" tanya Zahwa.


"Dia masih di atas Kak," sahut Rina terlihat manis.


"Kenapa tak sekalian di ajak Huda?" ucap Zahwa sedikit terlihat kesal.


"Dia mau mandi dulu Kak," sahut Rina.


"Huda, kamu bisa ngomong 'kan?"


Kali ini Zahwa memperlihatkan kekesalannya, dengan menatap Huda yang tak menyahut, atau karena Rina yang terus menyerobot jawaban.


"Iya Kak, biar ku panggil dulu," ucap Huda.


Huda pun berdiri dan mendatangi Yola yang ada di kamarnya. Perlahan Huda membuka pintu, karena sebenarnya Huda pun merasa bersalah, namun apa yang Dia lihat sungguh sangat menyayat hati. Kamar itu kini berantakan, semua baju yang ada di lemari kini berpindah ke lantai. Yola tampak menangis di atas tumpukan baju itu, tanpa sadar bahwa Huda ada di depan pintu kamarnya.


"Eh, Mas," ucapnya dengan segera menghapus air matanya.


Dia pun segera berdiri dan memunguti baju-bajunya dan menyatukannya di pojokan ruang kamar.


"Kenapa kau begini, aku juga tidak ingin membawa Dia ke mari, tapi kamu yang memaksaku," ucap Huda mengerti.


"Maksudnya apa Mas? Ini...?" Yola menunjuk ke baju-baju itu." Aku hanya mencari barang yang tidak bisa ku temukan, makanya aku mengambil semua baju ini," ucapnya.


Yola berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, baginya air mata saat ini tidak ada artinya bagi Huda. Dia harus kuat dan berusaha tegar.


"Jangan bohong! Aku tau lewat tatapan matamu itu, aku tau itu," ucap Huda.


"Kalau Mas tau, lalu Mas akan berbuat apa?" tantang Yola.


"Kalau begitu, biar Rina ku carikan rumah lain saja," ucap Huda.


"Tidak, itu malah membuat aku sakit, aku bahkan akan terus membayangkan kalian berdua, kalau di sini, aku melihat apa yang kalian buat 'kan?" ucap Yola lagi.


"Tapi kamu begini, berarti kamu belum siap 'kan?" ucap Huda lagi.


"Orang mati pun belum siap, namun pasti terjadi jua," sahut Yola.

__ADS_1


"Hufs, maafkan aku," ucap Huda.


"Aku yang minta maaf, karena aku tidak bisa menjadi istri yang baik, hingga kamu pindah ke lain hati," ucap Yola lagi, kata-kata Yola menusuk Huda tajam.


"Ayo kita makan! Biarkan nanti Bibi yang rapikan ini," ajak Huda.


Dia pun meraih tangan Yola. Yola tidak menolah pegangan tangan Huda.


"Seandainya kau bisa ku miliki utuh, tentu kita akan, sangat bahagia," lirih hati Yola.


Mereka pun sudah sampai di dapur, Huda tiba-tiba melepaskan pegangan tangannya saat Rina menatap mereka.


Mereka menikmati hidangan yang di sajikan di atas meja dengan khusuk. Ketika Huda ingin nambah.


"Enak ini, mau nambah," ucap Huda.


Rina pun menyambar piring Huda, sementara Yola sudah mengambil tempat nasi untuk menambah makanan Huda.


"Biar aku saja," ucap Rina.


Zahwa yang melihat itu pun merasa geram.


"Sini!"


Zahwa mengambil piring Huda di tangan Rina, mengambil nasi di tangan Yola.


"Harusnya kalian punya jadwal yang konsisten," ucap Zahwa.


"Jadwal apaan Hwa?" tanya Ezra yang tidak mengerti.


"Ya jadwal istri tua dan istri muda, biar nggak rebutan, bagaimana kalau timun yang di rebutin, 'kan bisa patah Ba," ucap Zahwa lucu namun sebenarnya menyindir.


"Eh, kok timun di rebutin sih Hwa? Beli yang banyak, biar nggak rebutan," ucap polos Ezra yang memang sangat polos.


"Ih, apaan sih Abang kalau nggak ngerti nggak usah ikut ngomong," sahut Zahwa lagi semakin cemberut.


"Hi hi, kamu apaan sih Hwa, kok jadi aneh gini ngomongnya?" ucap Ezra lagi.


"Aku pusing Ba, kalau terlalu banyak yang di urusin," ucap Zahwa.


"Ya nggak usah di urus, kan ada Bibi yang urus rumah kita," ucap Ezra belum paham juga.


"Ih Abang, nggak paham juga, apa Abang ku carikan isteri lagi ya, biar paham ribetnya punya istri dua," ucap Zahwa akhirnya.


"Enak dooong, 'kan ada tu lagunya si Ahmad Dhani..."


"Bang aku pusing mau ke kamar," Zahwa sepertinya merajuk dengan Abang ganteng yang agak lambat loading ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2