Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Seisi Rumah Ikut Sedih


__ADS_3

Yola perlahan mundur, kakinya lemes, kemudian ambruk terduduk di lantai, dan bersandar di dinding Lifh.


"Ya Allah, apa yang ku lihat tadi? Tidak! Tidak mungkin!" gumamnya sambil menekan-nekan kepalanya. Yola tidak tau, kalau sekarang Lift sudah turun dan kembali ke lantai dasar. Seseorang mengulurkan tangannya ke arah Yola, Yola pun tanpa sadar menyambut tangan itu.


"Ayo ku antar!" ucap Lelaki itu.


Yola hanya mengangguk, sepanjang jalan dia tak bisa berkata apa-apa, dia hanya menangis dan tak menghiraukan siapa yang membawanya, pikirannya terus membayangkan apa yang di lakukan Huda sama Rina, dia terus menangis sekuat tenaga, terisak sepanjang jalan, dan kadang berteriak uaaaaaaaaa.


Yola menuruni Mobil dengan cara di gandeng oleh Lelaki itu. Tubuhnya seperti jelly, kakinya seakan tak mampu menumpu tubuh ringkingnya.


"Yola! Bima, Ada apa Nak?"


Shaina yang melihat Yola di gandeng Bima pun segera mengambil Yola dari pelukan Bima.


"Dia mengikuti Huda ke sebuah Hotel, dan dia melihat Huda sedang bermesraan dengan wanita lain," ucap Bima.


Sementara Yola tampak termenung dan melamun, tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Air matanya juga sudah mulai mengering.


"Ma, ada apa?" tanya Zahwa yang juga mendengar suara tamu di ruang tamu.


"Zahwa, bawa adikmu ke kamarnya ya!" titah Shaina.


"Iya Ma,"


Bima pun di suguhi minuman dingin.

__ADS_1


"Ma, sebenarnya, aku mulai memikirkan kesalahanku di masa lalu, karena aku, Yola ke guguran dan kami berpisah, aku ingin memperbaiki kesalahan aku itu Ma," ucapnya.


"Lho, kamu 'kan udah punya istri dan anak? Ngapain mai balikan sama Yola?" tanya Shaina.


"Linda sudah meninggal Ma, dia minta di rahasiakan kematiannya, karena itu baginya Aib," ucal Bima.


"Aib? Kenapa?" tanya Shaina heran.


"Dia terkena Aids Ma, karena pergaulan bebas sebelumnya, dan aku sangat bersyukur, Nasya tidak tertular, dan sekarang Nasya tinggal bersama ibu di rumah kontrakkan kami," ucapnya lagi.


"Innalillahi, benarkah?" Shaina kaget mendengar kabar kematian Linda.


"Iya Ma, alhamdulillah, aku tidak tertular, aku juga tidak menyangka, kalau Linda memang menjual dirinya sewaktu hidupnya, saat aku menolaknya duku saat dia hamil, namun saat Dia tau terkena Aids, Dia pun bertobat, sungguh pertobatan yang indah, dan selama kami menikah, kami tidak pernah berhubungan intim karena saat aku mulai membuka hati untuknya, ternyata Dia telah mengetahui penyakitnya, Dia meninggal saat di sujud sepertiga malamnya Ma"


"Baiklah, Aku pamit dulu, namun aku masih berharap, suatu saat nanti aku bisa kembali dengan Yola Ma," ucapnya lagi, sambil berjalan menjauh.


Sepeninggalan Bima, Shaina pun masuk ke kamar Yola.


"Ada apa Zahwa?" tanyanya.


"Besok Yola akan kami bawa tanpa Huda," ucap Zahwa.


"Emang benar yang di katakan Bima tadi Yol?" tanya Shaina.


"Iya Ma," sahutnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah,"


Shaina pun memijet kepalanya yang tiba-tiba sakit.


"Baiklah, kau bawa saja Yola, aku tidak bisa memikirkan apa-apa saat ini.


Shaina kembali keluar menuju kamarnya dan memutuskan untuk istirahat siang.


***


Jam menunjukkan jam 10 pagi, terlihat Huda baru datang dan memarkirkan mobilnya, berlari masuk ke rumah dengan bersiul gembira.


"Mama, mau ke mana?" tanya Huda saat melihat Shaina mama tirinya membawa ransel keluar rumah bersama Bibi.


"Ooh, aku mau ke tempat Mbak Mita, aku akan menginap di sana, ada urusan penting," ucapnya.


"Oooh, baiklah."


Huda pun masuk, begitu juga Shaina bergegas meninggalkan rumah, mereka sepakat untuk tidak menerima telepon dari Huda.


"Kemana mereka? Kok sepi?___Yola! Sayang!" teriaknya, setelah dia tidak menemukan Yola di kamarnya, Dia pun turun ke dapur ke belakang, namun tidak ada.


Yola 'kan sudah menuju Amereka bersama Zahwa dan kekuarga.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2