
Zaira dan ibunya tampak keluar dari penjara, Zaira bebas bersyarat, dia pun tampak berdiri dan menghirup nafas dalam dan menghempaskan nya lega.
"Zaira, ayo kita bersiap, pertempuran kita baru di mulai," ucap mamanya.
"Pertempuran? apa maksud Mama?" tanya Zaira bingung.
"Apa kau akan membiarkan Zahwa dan Ezra begitu saja? setelah apa yang telah mereka lakukan kepada kita!" ucap mamanya lagi.
"Ma, kalau aku melakukan kejahatan lagi, maka aku akan di hukum lagi Ma," ucap Zaira.
"Alaaaaah, emang kita bekerja nggak pakai otak? Kita datangi Zahwa dan kita pura-pura minta maaf, nanti baru kita susun rencana baru," ucap mamanya.
"Emang mereka akan percaya kalau aku minta maaf?" tanya Zaira.
"Kita coba aja dulu, ayo sekarang kamu buang sial dulu, mandi di sungai dan buang semua baju yang ada di tubuhmu ini!"
Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
***
Zahwa dan Ezra belum pulang dari pasar tradisional, Yola juga Rangga tidak terlihat ada di rumah.
Ktik ktik ktik
Tiba-tiba Saila terlihat berjalan menaiki tangga dengan berjingkit kaki.
"Mau apa dia?" gumam Bibi yang baru keluar dapur menuju ruang tamu, namun Saila tidak melihat Bibi.
Ceklek
Saila sudah membuka pintu Huda, dan menutupnya kembali.
"Sayang, Hmmmm," Huda memeluk Saila tanpa segan, kayaknya mereka sudah sering melakukan begini saat rumah sepi.
"Kamu udah mandi?"
Jam baru menunjukkan jam 9 pagi, dan jam begini semua orang di rumah sibuk, dan sudah berangkat ngantor, namun sayang, mereka tidak tau kalau hari ini Fathir tidak ngantor dan masih uring-uringan di dalam kamar.
Saila mulai nakal dan melucuti pakaian Huda.
"Sayang, mmmmh," Huda pun beraksi dan menciumi wajah Saila liar.
"Sayang, kapan kita nikah?" tanya Saila pada Huda, karena dia takut di tinggalkan, kini Saila benar nggak bisa lepas dari Huda, walau mereka belum pernah ngelakuin itu, cuma Saila candu akan belaian dan pelukan Huda yang sangat memanjakannya, sementara Huda tidak bisa lepas dari Saila yang memberikan kenikmatan lewat cara lain.
Di bawah.
"Shaina, Saila mana? Hari ini kami akan pulang ke Desanya membawa Handono pada ibunya," ucap Fathir.
"Nggak tau," jawab Shaina.
"Anu Tuan, tadi Saila kayaknya ke atas," sahut Bibi yang sibuk membersihkan dapur.
"Ke atas? coba kau lihat Sayang, suruh siap-siap, kita akan berangkat jam 10 nanti, karena Pak Handono lagi ada urusan, tadi di telpon, jam 10 baru bisa," ucap Fathir.
"Baik Beng."
Shaina pun berjalan menaiki tangga dan mendekati kamar Huda.
"Uuuhhhh,"
Dooor
Ketika terdengar lenguhan Huda, Shaina pun kaget bukan kepalang.
__ADS_1
"Apa yang mereka lakukan?"
Shaina pun kembali ke bawah dengan wajah pucat.
"Ada apa sayang?" Fathir yang melihatnya pun heran melihat perubahan wajah istrinya.
"Ayo! Aku takut salah,"
Shaina menarik,yangan Fathir dan membawa suaminya itu ke atas.
"Sssst,"
Shaina memberi isyarat agar Fathir pelan-pelan saat mendekati kamar Huda.
Dooor
Fathir pun juga kaget saat mendengar lenguhan itu sangat jelas,
Bruk
Fathir mendobrak pintu itu hingga jebol dengan sekali hentakkan. Maklum mantan pembunuh bayaran😄
"Ka___kau?"
"Papa!"
Huda, Saila juga Shaina kaget. Fathir dan Shaina segera berbalik saat melihat pemandangan yang tidak senonoh itu terlihat jelas di depan mereka.
Huda segera mengambil bajunya, begitu juga Saila yang telanjang separo badan.
"Kurang ajar kalian! sekarang kalian mandi, dan temui aku di bawah,"
Fathir menarik tangan Shaina dan membawanya ke bawah.
Pas bunga, meja kaca yang ada di ruang tamu, juga meja kayu yang biasa meletakkan kunci-kunci mobil pun berserakan ke mana-mana, semua yang terlewati Fathir di banting begitu kuat.
"Pa, sabar, Papa,"
Shaina pun coba membujuk, namun emosi Fathir seakan tidak bisa di kendalikan.
"Panggil penghulu dan wali nikah, hari ini juga kita akan menikahkan mereka," ucap Fathir.
"Hari ini?" tanya Shaina.
"Ya, cepat!" bentak Fathir, yang salah siapa? yang di bentak siapa, payah Bengbeng mah.
Shaina pun menelpon Ezra dan Zahwa menyuruh pulang, juga menelpon penghulu yang ada di kampung sebelah.
"Ada apa Nyonya Besar?" tanya Bibi.
"Mereka berzina Bi, entah berapa lama mereka sudah melakukan hal seperti ini," ucap Shaina merasa sedih.
"Astagfirullah, pantesan," ucap Bibi.
"Pantesan kenapa Bi?" Shaina penasaran dengan kalimat ganting Bibi.
"Itu Nyonya, pernah Bibi lihat Non Saila datang dari atas beberapa kali dengan berjingkit, Bibi nggak nyangka kalau itu dari kamar Den Huda," ucap Bibi.
"Astagfirullah."
Tap
Tap
__ADS_1
Tap
Tampak Saila turun dari tangga pelan, wajahnya terlihat takut.
"Saila! cepat mandi dan berdandan, sebentar lagi penghulu akan datang," ucap Shaina.
"Penghulu? Apa maksud Tante? aku tidak mau menikah Tante, apa yang kalian lihat, tidak seperti yang kalian pikirkan, aku hanya melakukan itu dengan tanganku, aku masih virgin Tante," ucap Saila.
"Tidak mungkin, kalian telah berzina di rumahku, kalian harus menikah!"
Tiba-tiba Fathir keluar dari kamarnya dan membentak Saila.
"Om Fathir, aku tidak mau!" teriak Saila sambil berlari ke kamarnya.
"Kalau kau tidak mau, maka kau tidak akan pernah bertemu ayahmu, hari ini, di hari pernikahanmu, kau akan bertemu dia, kalau kau bersedia menikah," teriak Fathir.
"Apa kau ingin menipuku?"
"Assalamualaikum," Pa Handono datang.
"Wa alaikimsalam, masuklah!"
"Saila ayo mandi Nak!"
Saila pun masuk ke kamar Saila, dan membujuk Saila dengan kelembutannya, akhirnya Saila mau mandi dan menikah dengan Huda.
"Assalamualaikum," Ezra dan Zahwa juga datang dengan membawa belanjaan yang sangat banyak, sayur mayur jajanan dan berbagai macam ikan dia beli.
Penghulu pun datang di belakang Ezra dan Zahwa.
"Pa! ada apa ini? Ini juga berantakan?"
Zahwa bertanya pada ayahnya, ada beberapa orang tamu, namun rumah malah kayak kapal pecah. Bibi pun merapikan pecahan pas dan membangunkan meja di bantu Ezra.
Kini semua orang sudah berada di ruang tamu, sofa pun di ke pinggirkan untuk memudahkan akad nikah, Handono hanya terdiam dan menjadi penonton karena dia menghormati tuan rumah.
"Pak, ini Saila__ Saila ini pak Handono yang kemungkinan dia adalah ayahmu,"
Dooor
Handono dan Saila pun saling pandang.
"Dia? Anakku?" tanya Handono kaget.
"Ayah? Bagaimana mungkin kau mendatangkannya hanya dalam sekejap mata?" ucap Saila tak percaya.
"Sebenarnya hari ini kami ada janji untuk menemui Ibumu di kampung, namun ada hal yang tidak mengenakkan terjadi pagi ini, maka semuanya jadi berantakan begini, ini semua karena kalian berdua 'kan?"
"Ada apa sebenarnya Fathir?" tanya Handono.
"Mereka harus menikah lagi ini, baru kita menemui Wulan," jawab Fathir.
"Jadi kau sudah tau di mana Wulan berada?"
"Ya, dan ini adalah anak Wulan, namun kita tetap harus tes DNA, jadi menikah hari ini harus pakai wali hakim, iya 'kan sayang?" tanya Fathir pada Shaina.
Karena sebelumnya Fathir sudah menanyakan itu dengan Shaina, bagaimana kalau tidak ada ayahnya, maka wali hakim yang akan menikahkan mereka.
"Iya,"
Acara nikah dadakan pun di mulai, Zahwa dan Ezra pun segera mandi dan berdandan rapi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1