Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Kamar Pengantin


__ADS_3

"Ambil semua warna, aku mau ke sana dulu, mau liat dompet. Ini kartunya!"


Ezra menyerahkan kartu untuk membayar belanjaan Zahwa.


"Ha? semua?"


Zahwa benar benar merasa di permainkan Ezra kali ini. Namun tak ada pilihan lain, Zahwa pun mengambil semua warna Lingeri itu. Sang penjual tersenyum.


"Pasti kalian pasangan yang sangat romantis kan?"


"Mmm... mungkin," jawab Zahwa malu-malu.


Setelah membayar Zahwa pun bergegas mendatangi Ezra yang sedang memilih dompet.


"Menurutmu, yang mana yang lebih bagus?"


Tanya Ezra pada Zahwa, mungkin maksudnya pengen di pilihkan sang istri 😃.


"Terserah Tuan saja," jawab Zahwa masih dengan perasaan malu.


Ezra menatap wajah cantik istrinya sedikit kecewa.


"Ayo!" ajak Ezra.


"Nggak jadi beli?" tanya Zahwa.


"Aku nggak bisa milih, biasa Ummi atau kak Yana yang belikan," sahutnya.


"Oooh," sahut Zahwa tanpa mengerti, bahwasanya Ezra minta di pilihkan dompet.


Mereka berjalan menuju perlengkapan Sholat, tentu saja orang muslim yang menjualnya.


"Kamu pilih saja yang kamu mau, anggap ini mahar yang kemaren tidak lengkap," ucap Ezra.


"Mmm."


Zahwa memilih-milih mukena yang cocok buat tubuh mungilnya.


***


[Mi... gimana ini Mi? aku udah di kamar kak Ezra nih.]


Ternyata Aisya menelpon Zila sang Mama.


[Kamu cari bunga mawar, melati, dan taburin di atas ranjangnya biar sangat wangi, jangan lupa minyak harum juga.]


Suara Zila dari sebrang telepon.


[Gimana aku keluarnya Mi, aku takut sendirian] ucap Aisya.


[Minta bantuan teman kakakmu, si Rizal Cs, mereka pasti mau.] saran Zila.


[Iya ya, udah ya Mi, Assalamualaikum.]


[Wa alaikumsalam.]


Tap tap tap


Ceklek


Aisya tampak berjalan keluar kamar dan menuju kamar teman kakaknya.

__ADS_1


Tok tok tok


Ceklek


"Aisya? ada apa?"


"Kalian mau ke mana? kok rapi banget?" tanya Aisya.


"Ya mau jalan-jalan lah, masa mau rebahan, ayo temen-temen! nanti keburu panas nih," ucap Rizal sambil mengambil sepatunya dari belakang pintu.


"Tunggu! pleaaaaaaase, tolongin Aisya doooong! masa Aisya di tinggal sendiri?"


Wajah aisya memelas.


"Tolongin apa?" jawab Difan.


"Bantu aku beli bunga mawar dan juga melati, aku ingin memberikan kado spesial buat Kak Ezra dan Kak Zahwa di malam pertamanya. Pleaaaase..."


Aisya sampai menengkupkan kedua tangannya di atas dadanya.


"Gimana ini?" tanya Faris.


"Aaaaah, benar-benar liburan jadi obat nyamuk ini mah," ucap Difan.


"Baiklah, ayo! kau juga ikut!"


Aisya pun terpaksa ikut, karena mereka mana tau yang di inginkan Aisya seperti apa.


Aisya di temani 3 lelaki yang berjalan di belakangnya kini menuju pasar tradisional.


***


"Zahwa! sekarang apa lagi yang ingin kau beli?"


"Sudah cukup Tuan," jawabnya.


"Jangan bilang Tuan ah, kayak kau babu ku saja, kau kan istriku? panggil dengan sebutan yang lain saja!" ucapnya.


"Mmm, teruuuus, akuuu panggil apaaa?"


Zahwa dengan terbata-bata bertanya pada Ezra.


"Pokoknya jangan Tuan, panggil saja Ezra,"


"Ho? masa panggil nama sih? itu kaaaan, kurang sopan," ucap Zahwa.


"Tapi jangan Tuan juga dooong, udah ah, kita pulang!"


Ezra pun membawa semua belanjaan Zahwa.


"Sini! biar aku bawa yang ini!"


Pinta Zahwa mengambil kantong kresek di tangan kanan Ezra.


"Nggak usah, biar aku saja, ayo!"


Akhirnya Zahwa mengalah dan hanya berjalan menunduk mengiringi Ezra.


Bruk


"Au."

__ADS_1


Zahwa menabrak punggung Ezra, karena Ezra berhenti mendadak.


"Maaf" ucap Zahwa.


"Tuh," sahut Ezra.


Ternyata Ezra berhenti karena ada seorang kakek Tua yang sedang lewat di depannya.


"Oooh,"


Zahwa mengerti.


Akhirnya mereka naik taksi untuk kembali ke Hotel.


Tok tok tok


"Aisya! buka!"


Ezra mengetuk pintu berulang ulang, namun tak ada sahutan.


"Tuan eh Mas Ezra bawa kunci serepnya kan?" tanya Zahwa.


"Mas? lucu ah, kayak bapak bapak, punya anak juga belom! panggilan yang lain saja!" protes Ezra.


"Mmm."


Zahwa pun jadi salah tingkah dan cuma bisa menggumam.


"Bentar."


Ezra meletakan belanjaannya dan membuka pintu.


Ceklek.


Pintu terbuka lebar, tampak lah ranjang yang sudah di hias dengan bunga yang begitu indah.


"Ha? pasti Aisya, di mana dia? Aisya.... di mana kau?"


Ezra pun masuk dan lupa dengan belanjaan yang sebukit tadi. Terpaksa Zahwa yang memunguti satu persatu dan membawanya masuk.


Bruk


Zahwa menutup pintu dengan sedikit tendangan, namun tidak di sangka malah menimbulkan suara yang nyaring. Ezra menoleh.


"Ooh, maaf, aku lupa."


Ezra berbalik dan mengambil belanjaan di tangan Zahwa.


"Lho? kok jemari mu dingin banget, kayak habis kehujanan," ucap Ezra.


Ezra menduga, pasti wanita ini takut dengannya.


Apa kau tidak tau? sejak kasus pembelian Lingeri tadi, aku jadi senam jantung. Dag dig dug tak karuan.


Batin Zahwa, tanpa menjawab pertanyaan Ezra.


"Kamu takut ya? dengan malam pertama kita heh?"


Ezra kini malah berani menggodanya.


Zahwa hanya menundukkan wajahnya, dia sangat gugup.

__ADS_1


BERSAMBUNG....



__ADS_2