
Suara teriakan Bibi membuat orang yang ada di ruang tamu penasaran .Zahwa, Ezra dan Yola pun berdiri untuk mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan Bima dan orang tuanya hanya diam di tempatnya.
Ezra mengambil langkah panjang menghampiri dapur.
"Ada apa Bi?" tanya Ezra, begitu juga Zahwa yang sangat penasaran.
"Ini, Tuan Muda terluka," ucap bibi.
Bibi pun membersihkan tangan Huda, sementara Huda hanya diam.
"Huda ada apa? kok kamu terluka" tanya Zahwa seraya meraih tangan adiknya itu.
"Aku terkena pecahan beling," ucapnya.
Tampak pecahan gelas berserakan di lantai, diwarnai oleh darah Huda yang menetes.
"Emangnya kenapa sama pecah begitu?" tanya Zahwa.
Huda hanya diam. Zahwa pun mengambil obat merah, dan mengolesinya di tangan adiknya itu.
"Rina mana? Kenapa kalian tidak makan bersama pagi ini?" tanya Zahwa sammil terus ngolesin obat merah di telapak tangan Huda.
"Aku ingin bercerai dari Rina," ucap Huda.
"Astaghfirullah, Huda, kamu sadar apa yang kamu ucapkan?" tanya Zahwa.
"Ya aku ingin bercerai dari Rina," sahut Huda lagi.
"Astagfirullah Huda! Rina itu sedang hamil loh, tega-teganya kamu ingin bercerai dari dia," ucap Zahwa.
"Aku telah mengetahui perselingkuhannya dengan seseorang, tidak mungkin aku bisa meneruskan ini," ucapnya.
"Perselingkuhan? dengan siapa? Masa iya? dia 'kan sedang hamil? masih selingkuh juga."
"Iya... aku juga tidak tahu yang jelas, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendir,"i ucap kuda.
Yola yang berdiri di depan pintu dapur pun mendengar semua perkataan Huda. Entah dia pengen tertawa atau menangis. Yang jelas hatinya tersenyum, bibirnya pun ada tersirat sedikit senyum.
"Huda... akhirnya kau tahu juga siapa istrimu itu sesungguhnya," lirih hati Yola.
"Jangan dulu mengambil keputusan, mungkin saja ada sesuatu yang tidak kamu ketahui, kamu juga kan pernah selingkuh, bahkan sampai menikah dan kalian hidup serumah. Jadi kamu tanyain dulu betul-betul. Istri yang sedang hamil juga tidak boleh dicerai loh!" ucap Zahwa.
"Iya kak, aku akan menunggu dia sampai melahirkan nanti, untuk saat ini, aku tidak ingin lagi di kamar dengannya, aku akan pindah ke kamar Rangga, atau mungkin aku mencari kos aja," ucapnya.
"Huda... jangan berlebihan begitu dong, rumah Ini kan luas, kamar tamu juga ada, apalagi karena sedang hamil, tidak mungkin kamu tinggalkan dia di rumah ini, pasti dia juga akan keluar dari rumah ini," ucap Zahwa.
Setelah luka Huda dibersihkan. Zahwa lun memberi perban.
"Nah sekarang sudah bersih, kami mau keluar dulu, untuk menyelesaikan masalah dengan Bima."
Mereka pun keluar begitu juga Yola.
"Maaf ya Mah, tadi ada sedikit kecelakaan, itu si Huda, tangannya tergores oleh beling gelas," ucap Zahwa merasa tidak enak.
"Oh... begitu ya? Jadi Huda mantan Yola masih serumah dengan Yola juga?" tanya Mamah Bima.
"Tidak Mah, Yola sekarang ngekos udah 3 bulan lalu," sahut Bima sigap membela Yola.
__ADS_1
"Iya Yola ngekos, oh iya maaf sekali lagi, atas ketidak nyamanan tadi," ucap Zahwa lagi.
"Iya tidak apa-apa, jadi sudah deal ya, terus kapan kita akan melaksanakan acara pernikahannya?" tanya Mama Bima.
"Itu terserah Mama saja, Mama kan yang lebih tua di sini, sedangkan kami sudah tidak punya orang tua," ucap Zahwa.
"Bagaimana Bima?" tanya mamanya.
"Kalau bisa secepatnya mah, karena aku takut nanti Yola malah berubah pikiran," goda Bima.
"Ha ha ha betul juga ya," Ezra tertawa.
Akhirnya mereka pun sepakat bahwa minggu depan Yola dan Bima akan menikah.
"Kalau begitu kami pamit dulu."
"Iya Ma, terima kasih banyak, mohon maaf atas kekurangan sambutannya hari ini,"ucap Zahra.
-" Iya Zahwa, tidak apa-apa, kami senang kakian menerima kami kembali, sudah ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam"
Rampak Bima terus menatap Yola yang hanya menunduk, karena merasa malu.
"Kau akan menjadi milikku kembali. Aku janji aku tidak akan melepaskan mu lagi." lirik hati Bima sambil terus menatap wanita itu.
***
Pagi ini Zaira tampak sibuk membersihkan rumah mungilnya. Mereka sudah kembali ke Indonesia dan tinggal di rumah mungil.
Dia hanya menunggu hari-hari bahagianya, karena usia kandungannya sudah menginjak ke 9 bulan.
"Aku takut Mas, ketemu sama Zahwa, aku takut dia masih tidak memaafkan ku," ucap Zahwa.
"Kamu Jangan berpikiran begitu, kemarin aku sudah bertemu dengan Ezra dan Zahwa, saat pertama kali mengantarkan berkas, mereka sangat baik, bahkan si Zahwa tak sedikitpun terlihat rasa kecewa sama aku," ucap Bram.
"Benarkah? Tapi tetap saja aku merasa takut," sahutnya lagi.
"Jangan takut, nanti ada aku kok, lagian kamu juga hamil besar begini, mana mungkin Zahwa tega sama kamu," ucap Bram.
"Ya udah Mas, hari ini aku ikut kok ke kantor, aku suntuk di rumah saja. Emangnya kantor Mas di mana sekarang?" tanya Zaira.
"Ya di dalam kantornya Shinwa grup dong, aku kan beli sahamnya di sana, sekalian saja aku kerja di sana, biar tambah penghasilan. Mungkin nanti kita akan bikin usaha kecil-kecilan sendiri," sahut Bram.
"Baiklah Mas, aku siap-siap dulu ya," ucap Zaira.
Dia pun berjalan mendekati lemari baju. akhirnya Zaira pun bersiap-siap berdandan
"Kok pakai baju itu sih? baju yang kemarin kita beli mana?" tanya Bram.
"Baju yang mana Mas?"
"Sekarang Itu kamu sudah hampir menjadi Ibu loh, kamu harus lebih baik, agar kamu menjadi Ibu yang sholehah, baju muslimah yang kemarin kita beli."
"Baju syar'i itu ya Mas?" tanya Zaira.
"Iya baju syar'i itu, bagus loh buat kamu," puji Bram.
__ADS_1
"Ah aku belum pede dong Mas," ucapnya.
"Kamu harus bisa Zaira, kalau kamu mau berubah, kamu harus bisa, Ayo coba!" titah Bram.
Bram pun membuka lemari baju dan mengambil baju pemberiannya. baju setelan busana muslim yang sangat indah.
"Sini !" titah Nram.
Bram pun memasangkan baju itu ke tubuh istrinya, kemudian dia membolak-balik tubuh istrinya yang sedang hamil besar.
"Kamu sangat cantik Sayang, aku suka seperti ini," puji Bram lagi.
"Benarkah? tapi aku merasa tidak pede! aku malu he he...."
"Kenapa malu? malu itu 'kan sama Tuhan, aku yang mualaf saja tahu tentang agama yang sekarang, kalau kamu 'kan dari lahir sudah Islam, ayo, pakai itu aja. Nanti kita beli yang banyak setelah aku gajian ya," ucap Bram.
Akhirnya mereka pun bersiap dan berangkat ke kantor yang dipimpin oleh Zahwa langsung.
***
Di kantor Shinwa, tampak Zahwa sudah duduk manis di kantornya, ditemani Arsya dan Arsy, juga 2 Aunti yang membantu menjaga Arsya dan Arsy.
"Sayang... hari ini Bram baru memberi kabar, bahwa Zaira juga akan ikut kemari," ucap Ezra.
Zahwa yang kaget pun menatap Ezra cepat.
"Bagaimana dengan perasaanmu, ini pertama kalinya kamu akan bertemu dengan Zhira?" tanya Ezra.
"Sebenarnya aku sudah melupakan semua kesalahannya Bang, namun aku tidak tahu kalau kami bertemu dengan dia, tapi akan aku usahakan, aku akan mengontrol emosiku," ucap Zaira.
"Bener ya, kamu harus hati-hati dong, Zaira 'kan sedang hamil besar, kalau kenapa-kenapa bisa saja dia kesakitan dan melahirkan," nasehat Ezra.
"Iya Bang... aku janji mudahan saja Emosi aku bisa terkontrol, tolong Abang lihat wajah aku ya nanti, kalau aja aku sampai berubah aneh gitu, Abang tolong bawa aku menjauh, Ya siapa tahu saja aku tiba-tiba mencakar wajah Zaira 'kan, mungkin saja iblis bisa menguasai ku. Tapi aku berusaha kok Bang," ucap Zahwa.
"Iya," sahutnya singkat.
Tak nerapa lama, pintu tampak diketok dari luar.
Ezra pun membuka pintu.
"Assalamualaikum."
Tampak Bram mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." Ezra pun menyahut.
Bram masuk diiringi oleh Zaira yang tampak hamil besar, sementara Zahwa yang awalnya duduk di kursinya kini berdiri menetap tajam ke arah Zaira.
Zaira yang memang merasa takut dengan Zahwa hanya menatap Zahwa sekilas, kemudian dia memalingkan wajah ke arah lain.
"Selamat datang Zaira," ucap Zahwa kemudian mencairkan suasana.
Zaira pun menatap Zahwa kembali sekilas. Tak berapa lama, Zahwa berjalan mendekati Zaira. Zaira dan Bram merasa kaget dan harap-harap cemas.
"Zaira... Selamat datang di kantor kami, senang bisa bekerja sama denganmu," ucap Zahwa.
Zahwa kemudian menjulurkan tangan kepada Zaira, Zaira pun menyambutnya, namum tak di sangka Zahwa kemudian menarik tubuh Zaira hingga Zaira berdiri sempurna. Mereka yang ada di ruangan itu kaget.
__ADS_1
Apa yang akan di lakukan Zahwa?
Bersambung