
Walau pun Zaira penasaran dengan Bram yang sedang telponan dengan seseorang yang di panggil ustadz, namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Bram tampak sudah,menyelesaikan telponnya.
"Jadi kita mau ke mana?" tanya Zaira.
"Kita akan menjemput ibumu, setelah itu aku ingin membawa kau ke pada seseorang, namun sebelumnya aku ingin bertanya satu hal___," Bram menatap wajah Zaira.
"Katakanlah!" ucap Zaira.
"Maukah kau melayani hanya aku seorang?" tanyanya.
"Asal cukup cuan nya, aku pasti mau," jawab Zaira santai.
"Oke, kau akan ku beri Apartemen dan juga kebutuhan sehari-hari, jadi kau tidak perlu bekerja," ucapnya.
"Benarkah? Berapa yang bisa kau berikan adaku?" tanya Zaira.
"Seberapa lun yang kau mau," jawabnya.
"Mengapa kau ingin melakukan ini padaku? Apa kau kasihan padaku?" tanya Zaira.
"Aku ingin menebus kesalahanku pada seseorang, yang tidak mungkin lagi ku temui, meskipun aku menangis darah sekalipun," ucapnya.
"Ha? Kenapa kau tidak nisa menemuinya?" tanya Zaira.
"Sudahlah, aku tidak mau membahas itu sekarang, ayo!" ajak Bram.
Mereka pun meluncur menuju Hotel tempat Mama Zaira tinggal. Tak berapa lama, mereka pun sampai.
Ceklek.
"Mama..., ayo siap-siap, kita akan pindah hari ini juga ke tempat yang baru dan lebih luas," ucapnya.
"Ke mana? Kok buru-buru? Siapa Dia?" tanya Mama Zaira sambil menatap Bram penuh selidik.
"Nanti aku jelaskan, sekarang ayo kita pergi!" ajaknya.
Zaira pun mengemasi pakaian mereka.
"Lucky Sayang, ayo ikut Kaka! kita akan pindah rumah Sayang," ucap Zaira seraya mengangkat Arsya, rupanya namanya telah di ganti menjadi lucky.
"Sudaj selesai, ayo!"
Mereka pun pergi meninggalkan Hotel tersebut. Mama Zaira pin berbisik lada Zaira pelan.
"Siapa Dia,"
"Orang yang akan menjamin hidup kita Ma,"
"Apakah yang kau lakukan semalam? kenapa tidak pulang?"
"Aku mencsri pekerjaan Ma, hingga aku bertemu lelaki ini,"
__ADS_1
"Oooh,"
Mama Zaira mengangguk-aguk tanda mengerti. Mereka pun sampai di sebuah rumah besar yang mewah ala ala arab, di halamannya ada tumbuh pohon kurma yang sangat tinggi, dan juga Anggur hijau yang berbuah lebat.
"Kita sudah sampai, ayo turun!" ajak Bram.
Mereka pun turun dan memasuki teras rumah. Sebelum mereka memencet Bel, pintu pun sudah di buka lebar.
"Silahkan masuk, ustadz Ali sudah menunggu kedatangan mu," ucap wanita tua yang mengenakan baju syar'i seperti Mita, namun tidak memakai cadar. Mereka semua pun masuk.
"Ustadz," Bram pun salaman dan duduk di sisi Ustadz, sementara Mama Zaira dan Zaira ingin selamatan, namun Ustadz hanya menyatukan tangannya di dadanya.
"Zaira, aku membawamu ke mari karena ingin mengutarakan sesuatu," ucap Bram.
"Apa itu," tanyanya bingung.
"Aku ingin menikahi mu," ucap Bram.
"...?" Zaira maupun Mamanya terdiam dan saling pandang.
"Apakah kau menerima lamaran ku?" ucap Bram lagi. Zaira masih terdiam negitu juga Mamanya.
"Zaira, jawab!" ucap sang Mama tiba-tiba.
"Tapi... Kita baru kena? dan... Apa kau tidak takut aku ini orang bobrok?" tanya Zaira
"Kita akan sama-sama belajar," sahut Bram.
"Baiklah, aku menerima semua kekuranganmu, apa pun itu," sahutnya.
"Baik, aku akan memanggil saksi, oh iya? Apakah kau punya wali Nikah?" tanya Ustadz.
"Tidak, Ayahku naru saja meninggal ustadz, kami hanya bertiga dengan adik bayiku ini," ucapnya.
Ustadz pun menelepon kerabatnya untuk menjadi saksi dan wali nikah buat Zaira.
***
"Sayang, ayo makan!" Ezra berusaha membujuk Zahwa,makan, mereka sudah berada di indonesia, Sebulan sejak kehilangan Arsya, dia tidak nafsu makan, bahkan sudah 2 kali dia masuk rumah sakit karena drup.
"Bang, separuh jiwa ini rasanya sudah tidak ada di sini Bang," Zahwa memeluk dadanya penuh sesak.
"Mungkin saja Arsya saat ini baik-baik saja, mungkin saja mereka mengadopsi Arsya kita Sayang, aku slalu berdo'a, agar kelak kita masih di beri kesempatan bertemu lagi dengan Dia," ucap Ezra.
"Tapi aku terlalu lemah menunggu saat itu,"
"uweeeeek... uweeek," Suara tangisan Arsy menyadarkan Ezra dan mengambil bayi itu dan menggendongnya, menimangnya penuh cinta.
"Arsy Sayang, kamu lapar?" Ezra pun keluar sambil menggendong Arsy, Arsy terpaksa minum Sulfur karena ASI Zahwa sudah tidak mau keluar, karena sakit Zahwa selama ini.
Ezra ke dapur dan meminta Aunty membuatkan susu untuk anaknya.
__ADS_1
"Den, sebenarnya, Sasa ke mana sih? Kok nggak pernah balik lagi, Hpnya juga nggak bisa di hubungi, itu baju bajunya masih banyak, bingung mau di apain," ucap Bibi
"Aku nggak pernah menghubungi dia lagi Bi, mungkin nanti dia ke mari lagi, Bibi kotakin aja dulu," titah Ezra.
"Baik Den, Den Ezra mau makan?" tanya Bibi.
"Nanti aku bisa ambil sendiri, ngurus Arsy dulu,"
Ezra kembali ke kamarnya dan menidurkan Arsy. Setelah Arsy tidur, Ezra lun membujuk Zahwa untuk mandi. Zahwa bergantung pada Ezra, Dia terlihat sangat kurus dan tak bertenaga. Benar-benar jiwanya seperti hilang dari raganya.
"Ayo Sayang! aku mandi in dulu ya!"
Ezra pun menggandeng Zahwa menuju Kamar mandi, Zahwa hanya menurut.
Ezra dengan telaten membantu istrinya dari awal hingga akhir.
"Kamu sholat dulu ya!" Ezra membantu mengambilkan mukena dan menghampar sajadahnya.
"Bang... Maaf, aku merepotkan mu, namun aku juga tidak tau mengapa aku serapuh ini Bang," ucapnya lirih.
"Kau harus fokus pada Arsy, Dia juga butuh perhatianmu Sayang, kasian Arsy, sekarang saja Dia juga semakin kurus, susu nya pun sering tidak habis, mungkin Dia tidak cocok dengan susu sulfor sayang, kamu harus kuat, demi Arsy Sayang," Ucapnya.
Zahwa pun melanjutkan Sholatnya. Di sujud terakhir, Dia tampak memperpanjang sujudnya. Tak berapa lama, Zahwa selesai sholat.
"Bang... Kemarilah!" lambai tangannya pada sang suami.
Ezra pun bangun dan berjalan mendekati Zahwa.
Hap.
"Bang, hiks hiks, maafkan aku! Aku janji, mulai hari ini, aku akan kuat, aku akan berusaha melupakan Arsya, walau aku akan terus berdo'a, agar kelak Allah pertemukan dia dengan kita," ucapnya. Zahwa memeluk Ezra erat dan sambil menangis tersedu-sedu.
"Iya Sayang, aku percaya kamu bisa ya, hari ini mau ikut ke kantor? Biar temenin Abang cek berkas," ucap Ezra.
"Aku takut kalau orang lain yang menggendong Arsy, sedang aku kurang tenaga untuk itu," ucapnya.
"Aah, gampang, biar aku yang gendong, Aunty ngikut di belakang," sahut Ezra.
Karena perasaan was was, kini Zahwa tidak percaya lagi sama semua pembantunya, rasa trauma yang mendalam, yang membuatnya slalu curiga. Akhirnya, Zahwa pun,ikut ngantor di temani 2 Aunty untuk jaga-jaga kalau di perlukan, bersama Arsy yang di gendong oleh Ezra sendiri. Mereka pun berangkat di antar Sopir.
***
"Selamat siang Pa...,"
Semua karyawan menatap aneh lada Big Bos mereka yang terlihat menggendong Arsy dan menggenggam tangan Zahwa erat.
"Hmmm," sahutnya
"Suami takut istri," bisik karyawati yang memang hobby menggosip.
Ezra tak memperdulikan mereka yang menatap aneh, yang terpenting baginya, ada harapan untuk pulihnya Zahwa seperti dulu.
__ADS_1
BERSBUNG...