
Rangga masuk tanpa memperdulikan 3 orang yang sedang menatapnya aneh. Dia berjalan dan meletakkan cemilannya di atas meja.
"Rangga, kita makan siang bersama ya!" ajak Ezra.
"Ke mana?" tanya Rangga.
"Sembarang, Diba juga ikut 'kan?" tanya Ezra sengaja.
"Engg__nggak usah, aku balik ke kantor saja," ucap Diba merasa salah tingkah.
"Ikut dooong, calon Aunty Arsy, harus bisa gendongin Arsy 'kan?" canda Zahwa, membuat Rangga kaget, namun tak mencampakkan keterkejutannya itu.
"Calon? Ih calon apaan sih? Zahwa ada ada aja deh," ucap Diba malu.
"Ayo berangkat!" Ezra pun berdiri dan menggendong Arsy.
"Ayo!" ajak Zahwa.
Zahwa dan Ezra berjalan meninggalkan ruangan menuju pintu, sementara Diba tanpa sengaja menatap Rangga, begitu juga Rangga, so sweeetš„°
"Hey, kalian! Apa kalian ingin bertatapan saja sampai sore?" ucap Ezra saat melihat sepasang insan itu tak bergerak.
"Oh,___" Diba pun berdiri dan berjalan mengikuti Zahwa yang berjalan terlebih dahulu. Rangga menutup pintu dan menguncinya.
"Mengapa mereka aneh ya? Apa mereka mengetahui isi hatiku?" lirih hati.
Rangga mengikuti ke-3 orang yang sudah berjalan di depannya. Sesampainya di lift Rangga pun masuk dan bersandar di dinding lift. Tanpa sengaja Rangga kembali mencuri pandang ke arah Diba yang berdiri di seberangnya. Zahwa yang melihat itu pun tersenyum tipis, lain lagi dengan Ezra, dia tampak menatap istrinya sambil tersenyum tipis.
"Kalau ini kebahagiaanmu, aku akan menyatukan mereka hari ini juga," lirih hati Ezra.
Ezra berencana menjodohkan Diba dan Rangga, apalagi Ezra tau kalau Rangga memang menyukai Diba, sedang Diba, tidak akan berani menolak pesona Rangga yang aduhai.
"Diba, tolong gendong Arsy, kalian di belakang, biar aku sama Rangga di depan," ucap Ezra lagi.
Sedang aunty di antar sopir, karena Ezra membawa mobil kecil.
"Aku naik mobilku saja Kak," ucap Rangga.
"Oooh, baiklah,"
__ADS_1
Mereka pun berangkat, Rangga mengiringi mobil Ezra dari belakang. Setelah beberapa saat, mereka sampai di warung makan yang sangat mewah.
"Ayo Sayang!" Zahwa di tuntun menuruni mobil, sementara Diba terpaksa menggendong Arsy, karena Aunty belum sampai.
"Pesan makan sesukamu, oh iya, makanan kesukaan Rangga kepiting lho," ucap Zahwa.
"Apaan sih?" Diba tersipu karena di goda terus.
Mereka memesan makanan begitu juga ke tiga Aunty. Selesai makan, mereka pun santai sebentar.
"Ehem ehem... Tes," ucap Ezra.
"Asa apa Bang?" Zahwa menatap suaminya heran.
"Rangga, kamu mau nggak bahagiain Zahwa Kakakmu?" basa basi Ezra.
"Ya,tentu mau laaah, dia adalah Kakakku satu-satunya," ucapnya sambil memakan peyek.
"Kalau begitu, menikahlah dengan Diba!"
"Uhuk uhuk____uhuk," Diba kaget dan tersedak kaget. Sedang Rangga yang sedang memasukkan peye kemulutnya hanya menganga dan peyeknya juga berdiam di bibirnya.
"Aku serius, aku melihat ada senyuman di bibir kakakmu ini, saat dia tau kau menyukai Diba," ucap Ezra lagi.
"Aba Arsya, aku 'kan tuaan setahun dari pada Dia, masa pengen di jodoh jodohin sih." sahut Diba merasa minder dan takut kalau Rangga menolaknya.
"Masalah usia itu tidak penting, Rasulullah saja menikahi Khadijah, kau tau 'kan,usia berapa?" ucap Ezra lagi.
"Rangga, kalau kau mau, secepatnya kita akan melangsungkan pernikahan kalian, urusan sama mama, biar Kakak yang urus," ucap Zahwa.
Lama Rangga menatap Diba, Diba tidak berani membalas dan hanya menunduk.
"Mungkin kami perlu istikharah lagi Bang, Kak," sahut Rangga kemudian.
"Oh iya, baguslah, sekarang ayo kita pulang!" ajak Ezra.
Mereka pun pulang, sementara Diba di antar oleh Zahwa langsung ke rumahnya.
***
__ADS_1
"Kamu harus percaya padaku Sayang, aku sudah berubah, aku sudah putus dari wanita itu," ucap Huda membujuk Yola.
Huda dan Yola sudah berbaikan saat Yola meninggalkan Huda ke Amerika, dan Yola mau menerima Huda karena memang dia mencintainya terlalu dalam.
"Mas, apakah kali ini Mas benar-benar bisa ku percaya?" tanya Yola, walau pun dia sangat ragu, namun karena cintanya kepada pemuda tampan itu mengalahkan,segalanya.
"Ya, aku janji," Huda pun memeluk Yola.
"Maafkan aku Rina, aku terpaksa meninggalkanmu demi keluargaku, aku hanya punya Kakak satu-satunya di dunia ini," lirih hatinya.
"Aku lapar, ayo makan!" ajak Yola pada Huda.
"Ayo makan! Apa kita perlu liburan ke suatu tempat?" tanya Huda merayu.
"Hmmm, mungkin, nanti aku akan memikirkannya," sahut Yola.
Mereka menuju dapur dan bertemu Shaina yang terlihat kutang sehat.
"Mama, kenapa mama terlihat pucat?" tanya Yola.
"Entah, aku merasa pusing, mungkin kecapean," sahutnya sambil berjalan menuju luar dapur.
"Mama istirahat saja, tidak usah lagi bekerja di kantor Rangga," ucap Yola.
Brukh
Terdengar benda jatuh sangat keras, Huda dan Yola pun berpaling dan kaget, saat melihat Shaina jatuh sempurna di atas lantai.
"Mama... Mama...," teriak Yola dan Huda bersamaan.
Mereka pun segera mengangkat Shaina dan membawanya ke dalam mobil menuju Rumah sakit. Bibi yang baru tau pun berlari menghampiri mobil.
"Bi, tolong telepon Kak Zahwa dan Rangga," ucapnya.
"Baik Non,"
Mereka pun meluncur menuju Rumah sakit, sementara Bibi segera masuk dan menelepon Zahwa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1