
"Assalamualaikum," ucap Bima saat di depan pintu Linda.
"Waalaikumsalam," bersamaan.
"Bima!" Linda kaget saat melihat lelaki yang ada di depan pintu itu adalah suaminya, suami yang tak pernah menemuinya selama ini. Zahwa pun menundukkan pandangan dan mundur kebelakang, memberi ruang untuk Bima bertemu putri kecilnya.
"Linda, apa kabar?" tanya Bima terlihat grogi.
"Alhamdulillah baik," sahut Linda.
"Mmm, maaf, aku baru menemui mu sekarang, boleh aku melihat gadis kecil itu?" pinta Bima sambil menunjuk bayi mungil yang ada di pangkuan Bima.
"Silahkan," Linda pun menyerahkan bayi itu dengan melepas pelukannya.
"Gendong lah Bim, dia adalah anakmu, dia sangat cantik!" perintah Zahwa.
Bima tampak ragu dan menatap gadis imut itu, namun ketika gadis imut itu membuka mulutnya karena menguap dan menggeliat, entah mengapa Bima merasa greget dan sangat tersentuh.
Dret dret
Hp Zahwa bergetar.
"Helo, Ezra belum kembali, namun motornya terparkir di depan warung rujak, itu kata teman Yola yang kami hubungi, apa kau bisa pulang sekarang?" suara Shaina di sebrang sana.
"Baik Ma, aku segera pulang," ucap Zahwa.
"Maaf Lin, aku harus pulang, aku harap Bima bisa menjagamu dan bayimu, Bim, lihat gadis kecil tak berdosa ini! dia sangat cantik, jangan mengulangi kesalahan yang sama, aku pamit, assalamualaikum,"
Zahwa dan Rangga pun pamit. Sementara Bima menggendong bayinya dan menciumi wajah lembut itu penuh sayang. Entah mengapa kini hatinya tersentuh dan melembut.
"Ezra hilangg dari tadi pagi, katanya pamitan untuk beli rujak, karena Zahwa yang meminta, hingga kini nelum ada kabar, Zahwa pun tidak mau makan karena terus memikirkan Zahwa," ucap Linda.
Bima terhenti dari kegiatannya menciumi anaknya. "Zahwa belum makan dari pagi?" tanyanya.
"Ya, entah apa perasaan Zahwa sekarang, tidak mungkin Ezra pergi tanpa memberi kabar, ini sudah jam 1 siang, kasian Zahwa, mereka orang-orang baik, bagaimana jadinya Zahwa juga kalau sampai kehilangan Ezra," ucap Linda lagi.
Bima terdiam, kemudian dia meletakkan bayi mungil itu.
"Aku harus pergi, nanti aku akan kembali lagi, jaga dia baik-baik, aku janji, aku akan datang kembali," ucap Bima sambil meletakkan Bayinya ke sisi Linda. Dia pun berlari keluar ruangan.
"Ada apa dengannya?" Linda heran.
***
Zahwa sudah berada di rumahnya, Hp Ezra masih tidak bisa di hubungi.
"Kak, makan dulu, ini rujak sudah ku belikan, sekalian tadi ngambil motor Bang Ezra," bujuk Rangga.
"Nggak, aku nggak bisa makan, ya Allah, hatiku seakan hancur, mengapa ini terjadi, kemana Ezrakuuuuu, hiks hiks hiks," Zahwa menangis sambil memanggil Ezra.
"Assalamualaikum, Zahwa,"
Mita datang dan langsung memeluk Zahwa.
"Ummi, tolong M! jangan lagi, jangan lagi Mi," ucap Zahwa, seakan ingin mengatakan, jangan sampai terjadi sesuatu pada Ezra, cukup Fathir sang ayah saja yang pergi.
__ADS_1
"Sabar sayang, Ummi sudah mengirim beberapa orang untuk melacak signal HPnya."
"Assalamualaikum," tiba-tiba Bima berdiri di depan pintu rumah.
"Waalaikumsalam, Bima? Kenapa ke mari? Siapa yang menjaga Linda?" ucap Zahwa kaget.
"Maaf, aku harus menyampaikan sesuatu," ucapnya sambil berjalan mendekati sofa tanpa di suruh masuk.
"Oooh, duduklah!" ucap Mita.
"Sebenarnya____ aku___" Bima dangat ragu, bahkan sungguh ragu mengatakannya.
"Ada apa? katakan saja!" ucap Mita penasaran.
"Aku merasa tidak enak, apakah ini benar atau salah,"
Bima menunduk, dia sangat takut, dia menggenggam tangannya gugup.
"Ada apa Bim? Apa kau ingin minta maaf sama Yola?" tanya Zahwa.
"Bukan, itu... Ezra, sebenarnya dia di sandera oleh Zaira,"
Dooor
Lemes terasa persendian Zahwa, dia pun terduduk di lantai ruang tamu, tanpa bisa berkata ala-apa.
"Dari mana kau tau kalau Zaira yang menyandera Ezra?" tanya Mita ketus, karen dia sangat terkejut.
"Ya dari mana kau tau?" tanya Rangga juga.
Bug bugh bugh
Hantaman mendarat di perut dan wajah Bima seketika. Rangga sangat emosi, Bima tak bisa berbuat apa-apa.
"Sekarang di mana kau simpan Abang ku heh?" Rangga mencengkram leher Bima hingga tercekik kesakitan.
"Kurang ajar kau, jahat," Zahwa juga memukuli tubuh Bima sekuat tenaga, hingga dia merasa sesak dan akhirnya pingsan.
"Tolong maafkan aku, ini rencana Zaira, ini, ini alamat Ezra berada," ucapnya.
***
"Ini upah untuk kalian, sekarang kalian berjaga di luar, jangan ada yang berani masuk, ingat!" titah Zaira. Zaira pun menutup pintu kasar.
"Siap Bos," ucap ke tiga orang bringas itu.
"Sayang, akhirnya kau benar-benar akan menjadi milikku, kau tidak akan ku lepaskan, sampai otakmu ku racuni dan hanya mencintaiku seorang," ucap Zaira.
Bruk bruk bruk
"Bos, ada orang,mengarah ke sini bos, sepertinya polisi Bos!" teriak salah satu lelaki di luar.
"Bagaimana bisa?"
Ceklek.
__ADS_1
"Cepat, gotong dia, kita harus pergi!"
Lelaki besar itu pun menggotong tubuh Ezra dan membawanya jalan semak-semak yang ada di belakang gubuk. Ada jalan setapak menuju sungai.
"Lihat pintunya sudah terbuka, kayaknya mereka sudah tau kedatangan kita," ucap polisi, Rangga pun meneliti ke sekitar rumah.
"Sepertinya mereka jalan belakang, ayo, mungkin mereka belum jauh," ucap Rangga.
Mereka pun berlari menuju belakang rumah, sampai ke sungai, namun tak menemukan siapa-siapa.
"Mereka menghilang," ucap salah satu petugas.
"Kita kembali," ajak kepala tim.
"Kalian pulang saja, aku akan mencari lagi, mungkin saja mereka masih di sini," ucap Rangga.
Sementara di hilir sungai.
"Apa kita akan terus menyisiri sungai ini?" tanya Lelaki itu pada Zaira.
"Ya, kita akan mencari jalan untuk keluar," sahutnya.
***
"Bima! Apa kau membohongi kami? Mereka tidak ada di sana?" ucap Mita marah. Bima di jaga oleh beberapa polisi agar manjadi saksi kunci penculikan Ezra.
"Bagaimana mungkin? Mereka di sana saat ku tinggal ke rumah sakit," jawab Bima.
Dret dret dret
Hp Bima berbunyi.
"Tunggu sepertinya Zaira."
Benar saja di sana tertulis Zaira.
"Helk, ada apa?" Bima
"Apa kau melaporkan keberadaan kami," Zaira
"Apa maksudmu? Aku sedang berada di rumah sakit menemani Linda melahirkan," Bima
"Ada polisi dan juga yang lainnya yang mendatangi kami, untung saja kami bisa marikan diri," Zaira
"Bagaimana mereka bisa tahu? Sekarang kau di mana?" Bima
"Kami berada di hilir sungai, untuk mencari jalan keluar," Zaira
"Syukurlah, maaf, aku sedang ingin menebus obat, kau hati-hatilah," Bima
Bima pun mematikan ponselnya, berpura-pura sibuk di rumah sakit.
"Sekarang kalian percaya 'kan?" ucap Bima.
Zahwa pun menchat Rangga menyampaikan apa yang dia dengar barusan. Rangga pun di temani 5 orang anak buahnya turun ke sungai dengan tergesak-gesak.
__ADS_1
Bersambung