Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Pengantin Baru Vs Perselingkuhan


__ADS_3

"Bram," ucap Mama Zaira ketika mendengar Arsya alias lucky menangis,


"Hello, iya Pa, besok saya akan memperbaiki laporannya lagi, maaf pa," Bram memang pintar bersandiwara, ketika Lucky menangis Bram langsung mengambil Hpnya dan pura pura menelepon.


"Bram? Kenapa?" tanya Mama Zaira tampak gugup.


"Ini Ma, Lucky menangis, aku ada telepon, jadi nggak bisa membujuk tadi, ini," Bram pun menyerahkan Lucky pada Mama Zaira, sementara Zaira hanya berdiri di tengah ruang Apartemen.


Bram pun pergi ke balkon lagi untuk menelepon seseorang.


"Hello, aku ingin kau secepatnya bisa menemukan orang tua yang kehilangan anak sebulan yang lalu," ucap Bram terdengar tegas.


"Baik Bos, kami sedang mengunjungi agen berita yang ada di kota ini," ucapnya lagi.


Bram menutup telepon.


"Aqila, aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, aku harus menemukan orangtuanya bayi ini, Zaira, bisakah aku membuatmu kembali ke jalan yang benar?" gumamnya sambil memegangi kepalanya dan mengusap wajahnya kasar. Bram berjalan gontai menuju Apartemennya.


"Mas, mau makan?" tanya Zaira.


"Aku mau mandi dulu,"


Bram pun masuk kamar mandi dan membersihkan diri, Selesai mandi, mereka makan bersama, hari semakin gelap, malam pun tiba. Suasana kota jerman yang tak pernah mati 24 jam membuat pemandangan di bawah sana tampak selalu ramai.


***


"Kak, kami mau pindah rumah, karena kami sudah menikah, kami ingin merasakan berumah tangga yang sebenarnya," izin Rangga pada Zahwa saat sedang santai di ruang keluarga.


"Kok terburu buru sih Dik, Kaka pasti akan merasa kesepian nanti," ucap Zahwa.


"Nanti kami akan sering ke mari kok," ucap Diba.


"Kalau itu keputusan kalian, aku nggak bisa nahan kalian di sini," ucap Zahwa lagi.


"Kami akan beres beres hari ini juga Kak," ucap Rangga.


Akhirnya mereka pun merapikan baju dan barang yang akan di bawa pindah. Zahwa mau pun Ezra tampak sibuk membantu mengangkat barang dan membawanya ke dalam mobil, ada beberapa pegawai kantor rangga juga yang ikut membantu.


***


Pagi ini tampak Rangga dan Diba sudah mulai mandi basah di pagi hari, pasti karena udah rumah baru jadi bebas hambatan.


"Gaga, hari ini aku mulai bekerja lagi ya!" izin Diba pada Rangga.


"Untuk apa? Kamu itu istri Presdir, buat apa cape cape bekerja heh?" tanya Rangga sambil memasang dasinya, karena Rangga sudah terbiasa memasang sendiri sejak masih sendiri. Diba yang tampak sibuk merapikan kamar dan mengganti sprei baru terhenti melakukan kegiatannya sejenak, dan dia menatap Rangga cemberut.

__ADS_1


"Tapi aku ingin gajih ku sendiri Gaga, aku juga ingin mengirimi ibu uang, agar beliau tidak perlu susah payah lagi bekerja," ucap Diba.


"Emang kamu perlu berapa untuk ngirimin ibu heh?" tanya Rangga. Saat sudah selesai berpakaian dan siap bekerja.


"Sesuai gajih ku sebelumnya, 5 juta," ucapnya.


"Baiklah, akan ku beri kau uang 20 juta perbulan, dan itu terserah kau mau di belikan apa saja, uang dapur nanti aku kasih ke Bibi," ucap Rangga.


"Heh, 20 juta, untuk apa uang sebanyak itu, gajih ku 5 juta aja aku masih bisa nabung kok," sahut Diba.


"Ya... Terserah kau mau dibelanjakan ke mana? aku berangkat dulu ya!" ucap Rangga sambil salim dan mengecup pucuk kepala Diba. Sepertinya benar, tadi malam mereka memang bercocok tanam. Author curang nih, kok di skip😄


Diba mengantar Rangga ke depan pintu, setelah Rangga menghilang di balik pagar rumah, barulah Diba masuk ke rumah.


"Kebelet pipis," ucap Diba, Dia pun berjalan menuju kamar mandi. Dan menunaikan hajatnya.


"Aduuuh, periih," Diba meringis menahan perih.


Tuh 'kan benar, tadi malam habis bercocok tanam.


***


"Selamat Siang Bu... Selamat Siang Bu... "


"Eh, nggak usah terlalu begitu juga kali... Eh Sari kamu sekarang pindah ke mari? Syukurlah kita bisa dekat lagi," ucap Diba.


"Iya Bu," ucap Sari kaku.


"Eh, kok ibu? Biasa aja kali, kita temenan sejak kuliah lho!" ucap Diba, sambil menyenggol tangan Sari sahabat lamanya.


"I__Iya," Sari benar be ar berubah.


40 menit sebelumnya


"Assalamualaikum, aku hanya memperingatkan kalian, kalau sekarang Diba Adiyanti adalah Istri presdir perusahaan ini, maka kalian siapa pun yang tidak hormat padanya akan langsung ku pecat," gertak Rangga.


"Sari... Kok kamu gitu sih? oh iya, aku mau ke dalam dulu ya! nanti kita ngobrol lagi," ucap Diba seraya berjalan menuju ruangan Rangga yang tak begitu jauh dari dia berdiri.


Ceklek


"Diba?" Rangga yang sedang bersama dua orang wanita kaget saat melihat ke datangan istri cantiknya itu.


"Apa aku mengganggu?" tanya Diba.


"Nggak__ oh iya, kalian boleh pergi, nanti kita sambung," ucap Rangga mengusir halus ke dua wanita itu.

__ADS_1


"Baik Bos," sahut mereka.


"Ho, kok udahan?" tanya Diba.


Rangga menutup pintu dan menguncinya.


"Mau apa kau ke mari heh? Kenapa masuk ke kandang singa?" tanya Rangga seraya mendekati Diba, Diba pun pura pura tidak mengerti dan duduk di sofa ruangan itu.


"Aku ingin tetap bekerja jadi sekretaris mu," ucapnya.


"Apa kau tidak menyesal, kalau kau ku berikan pekerjaan yang sangat berat?" tanya Rangga.


"Tidak!" sahut Diba.


Hap


Kini Rangga menarik tangan Diba dan membawanya berdiri, mereka kini berhadapan saling bertatapan mesra tanpa kata.


***


Sudah 2 jam Yola berada di dalam taksi tak jauh dari perusahaan Huda, Dia ingin mengetahui kalau feeling-nya hari ini benar, maka dia akan menemukan kebenaran tentang Huda. Dan benar saja tak lama, sebuah taksi masuk ke halaman Toko, dan betapa terkejutnya Yola saat melihat seorang wanita muda, terlihat wanita itu sedang hamil.


"Rina," lirihnya.


Wanita itu masuk ke dalam Toko, tak berapa lama, Huda juga keluar bersama Rina sambil terus bergandengan tangan.


"Mas, hiks hiks hiks," Kini Yola rasa tak punya tenaga lagi untuk berdiri, tubuhnya gemetar, air matanya terus mengalir.


"Pa, tolong ikuti mobil mereka jangan sampai hilang!" ucap Yola.


"Baik Nona,"


Akhirnya Yola pun mengiringi mobil Huda yang tak begitu jauh di depannya. Dengan sisa kekuatan yang ada Yola terus menatap mobil yang ada di depannya itu dengan air mata yang terus mengalir. Hingga mobil itu berhenti di sebuah warung makan yang cukup mewah


"Apa yang harus ku lakukan ya Allah," lirih Yola. Dia ragu antara mau keluar atau hanya diam menyaksikan kezholiman ini.


"Nona, apakah dia suami atau pacar anda?" tanya sopir.


"Suami, ya, suami yang sudah beberapa kali selingkuh," jawab Yola.


"Yang sabar ya Nona,"


Akhirnya Yola memutuskan untuk turun dan menemui Huda juga Rina. Dia pun menyeka air matanya, menguatkan diri dengan beberapa kali menarik napas.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2